Search results

16 results found.

Ribetnya masakan Indonesia (beserta 101 alasannya).

Ketika saya mengunggah foto Coto Makassar di salah satu akun media sosial, seorang teman lantas berkata, lah kalau seribet itu masakan Indonesia, kenapa kamu mau bersusah payah membuatnya? Jauh-jauh ke Stockholm hanya untuk belajar masak?

Saya hanya bisa tersenyum sepintas, malas untuk menanggapi komentar tersebut. Saya sendiri percaya bahwa makanan bisa menjadi obat anti homesick yang bisa tiba-tiba menyerang. Melihat foto coto, mie kering, bakso melintas setiap hari di timeline membuat saya hanya bisa mengurut dada. Tapi saya tidak pernah mengeluh, hanya memberi emoticon frown disertai patah hati yang besar. Hahaha, rasanya sama seperti ketika teman-teman saya melihat beraneka foto yang saya posting. You get some, you lose some.

Nasi, tumis wortel dan kol, ikan goreng, irisan mangga dan sambal mentah
Nasi, tumis wortel dan kol, ikan goreng, irisan mangga dan sambal mentah

Sebenarnya pasokan bahan makanan Asia tidaklah terlalu susah di Stockholm. Toko andalan saya, Hongkong Trading, belum pernah mengecewakan. Segala rupa ikan dan sayur melimpah ruah, mulai dari kangkung, kacang panjang, santan instan, tempe, dan pete! Tapi oh tapi, tentu saja berbagai macam bahan makanan tersebut juga harus ditebus dengan harga yang lumayan. Jadinya saya hanya bisa berpesta dan masak segala resep nusantara hanya sekali sebulan.

Continue Reading

Makan siang hore.

Ketika makan siang bersama beberapa teman kantor, pikiran saya terganggu. Bukan karena porsinya yang sedikit (haha!), tapi karena tingkah seorang teman yang sangat norak. Menu kami siang itu memang tergolong spesifik, bebek goreng. Tapi tingkahnya seolah-olah makanan itu berasal dari surga. Bukan, saya bukannya tidak menghargai makanan. Tapi kalian tahu kan batasan ketika kita mengapresiasi rasa makanan dengan terlihat wajar?

Pengalaman saya berulang beberapa hari kemudian. Seorang teman membawakan sarapan berupa gogos dan beberapa butir telur asin. Obrolan kami semakin hangat ketika teh hangat menjadi teman bersantap. Saya berhenti di gogos pertama, faktor sudah sarapan di rumah. Teman saya ini sudah membuka gogosnya yang kelima, seraya tidak berhenti bercerita. Apalagi ketika dia berbicara tentang rasa penasarannya sehabis melihat liputan kuliner di televisi. Apa yang dia lihat? Liputan tentang Konro Bakar dan dia belum pernah mencobanya. Dang!

Continue Reading

Tips Menikmati Pagi di Pantai Losari

Arti Jalan Penghibur di Makassar mungkin bisa jadi bermakna banyak. Ruas jalan yang lumayan panjang ini memberikan beberapa alternatif hiburan yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat. Hiburan adalah biasanya diasosiasikan dengan kesenangan. Siapa yang tidak menyenangi pemandangan pantai Losari kala senja atau barisan kuliner khas Makassar dengan semua keunikannya?

Pun ketika anda terus menyusuri akhir jalan Penghibur, ada kesenangan duniawi disana juga katanya dijajakan. Tergantung berapa kemampuan dompet anda bernegosiasi.

Anyway, selain senja, pagi hari adalah saat favorit saya di pantai Losari. Jalanan masih lengang, bau laut masih mendominasi, ditambah dengan pemandangan laut luas. Membuat perasaan selalu nyaman. Hari favorit? Tentu saja minggu pagi. Rambu jalan yang melarang kendaraan melintas di sepanjang jalan Penghibur sampai Anjungan Pantai Losari lantas membawa kesenangan sendiri. Pasalnya ruas jalan yang lebar berubah fungsi bak pasar malam dan pasar segala ada.

Pasar segala ada? Percayalah segala macam benda dijajakan di sepanjang jalan. Bahkan kalau tidak cermat bisa saja kita menjadi lapar mata dan membeli ini itu. Bisa jadi, niat anda jalan-jalan pagi juga terganggu dengan aktivitas ini. Ada beberapa tips bisa dilakukan untuk menikmati minggu pagi di Pantai Losari menjadi lebih khusuk.

1. Jangan lupa cuci muka!
Ini aturan dasar sebelum beranjak dan bergabung dengan kerumunan di Pantai Losari. Jangan sampai muka bantal masih jadi cetakan default di wajah. Setidaknya senam wajah bisa dilakukan dirumah, mata panda bisa diminimalisir dengan kacamata. Usahakan seeksis mungkin. Siapa tau ada jodoh bertebaran. Jangan sampai menyesal di kemudian hari!

Contoh muka bantal dan mata panda :))

Continue Reading

Oleh-oleh dari Diskusi Buku “Makassar Nol Kilometer”.

Mereka bilang salah satu bentuk kemajuan sebuah kota adalah dengan semakin banyaknya pusat perbelanjaan yang mendukung gaya hidup kaum urban. Mereka yang awalnya lebih senang bersendal jepit dan menikmati cipratan lumpur di pasar tradisional, sekarang sudah berubah kebiasaan. Ruangan ber-Ac selalu memanjakan kulit setiap pengunjung. Dimana lagi kaki tidak perlu lelah memijak tangga karena eskalator selalu berjalan. Lantas bagaimanakah rupa Kota Makassar nantinya?

Continue Reading