Kepada M, sebuah catatan di pagi hari.

Hai M, apa kabarmu? Jakarta sudah memasuki musim penghujan. Seringnya sore hari, ketika saya telah sampai dengan selamat di asrama. Sambil menyaksikan awan kelabu yang berubah menjadi gelap dan akhirnya hujan, saya membayangkan kamu. Berada diatas lantai sekian, melihat hujan yang juga turun sambil mendendangkan lagu favorit kita, Everybody’s Changing.

dark.
dark.

Aneh ya rasanya ketika satu lagu bisa menjadi tema untuk kapanpun, untuk siapapun. Rasanya saya juga sedikit demi sedikit berubah. Mengikuti ritme ibukota yang terkadang sangat tidak manusiawi, berusaha mematikan perasaan ketika melihat anak-anak di lampu merah, para pekerja yang harus melawan hari, sampai terkadang saya menohok kepala sendiri,

“untuk alasan apa saya mengeluh?”

Tahulah M, manusia sering dilanda kegamangan ketika sendirian. Memikirkan rutinitas yang seolah menjadi penjerat kebosanan. Dulu sewaktu kita masih sekota, mungkin saya dengan mudah akan menculikmu dari kantor. Bercerita panjang lebar sambil mengunyah pizza dan mabuk fruit punch. Sesekali saya hanya butuh melihatmu, karena wajah teduh itu tidak pernah berubah dari kuliah. Wajah yang meneduhkan seluruh angkatan, walaupun saya tahu ada gejolak yang tidak pernah berhenti di pikiranmu.

Gejolak itu sepertinya berpindah dikepalaku. Ketika tidak ada kamu, atau teman-teman lain yang bisa saya jadikan alasan untuk menikmati keriuhan. Mengenyahkan sepi yang sebenarnya selalu berteriak,

“apa lagi yang kau cari?”

Kamu pasti tahu kebiasaan buruk saya, akan bertanya kabar ketika sedang niat. Selebihnya saya akan diam, menjadi manusia pasif. Padahal terkadang kekosongan itu seolah menjadi kerangkeng yang sangat menjerat. Tahukah kau sudah beberapa kali saya minum kopi di gerai franchise sambil membaca buku? Seolah saya akan tampak intelek dan menikmati riuh ibukota. Ternyata salah.

Bukan masalah tempat M, tapi orang-orang yang hendak kau ajak berbagi bersama. Ingatkah kau keriuhan kita sewaktu menjenguk Charlie? Hanya berbekal teh kotak kita bisa berbagi apa saja, dengan orang-orang yang kita percaya akan menjaga perasaan kita. Saya begitu cengeng yah, selalu memikirkan euforia kenyamanan bersama kalian. Bagaimana kalau tahun depan saya pergi lebih jauh lagi?

Saya selalu mencari alasan itu, masih tetap ingin menemukan alasan untuk berubah menjadi kuat. Menjadi alasan saya menjalani hari demi hari di ibukota. Berharap bahwa kepergian saya kelak bukan lagi sebuah pelarian, saya mempunyai alasan untuk tinggal. Tahukah kau M, dalam sebuah perjalanan saya ke Bogor seminggu yang lalu, saya berpikir lagi sebenarnya apa tujuan saya?

Ketakutan mengenai apa tujuan selanjutnya selalu membayangi, setelah 2 tahun itu apa? Itulah mungkin yang belum kubisikkan kepadamu. Takut bahwa pengertianmu justru akan membawa saya kepada sebuah penyangkalan yang lain, padahal kita semua akan berubah M. Saya harus bertarung lagi melawan ketakutan masa depan dan menikmati waktu yang sekarang, Jakarta penuh dengan godaan!

Pagi ini saya mengingat kamu, sambil menyisipkan beberapa hal yang ingin saya bicarakan. Menyesap teh hijau dan menunggu nasi yang akan saya bawa untuk makan siang di kelas. Sebuah rutinitas yang kelak akan menjadi keseharianku, berharap setelah ini saya akan berjalan lebih tenang. Menikmati hari, menikmati hujan, sambil berpikir bahwa Tuhan telah menyiapkan semua rencana untuk kita.

Masih banyak ceritaku untukmu M, mudah-mudahan kau tidak bosan mendengarnya. Tahukah lagu apa yang saya dengar di penghujung tulisan ini? Maybe Tomorrow, lagu kesukaan kita berdua. Sebuah kebetulan yang menyenangkan. Semoga kita cepat menemukan jalan untuk pulang.

Sampai nanti M. :*

You may also like

3 Comments

Leave a Reply