Radio, sandiwara dan pencarian Gege akan cinta.

Jauh sebelum frase ”falling in love with people you can’t have” dipopulerkan oleh beberapa influencer di kanal sosial, Adhitya Mulya jauh lebih dulu menggambarkannya dalam novel kedua bertajuk Gege Mencari Cinta.

Mengingat kembali ke pertengahan tahun 2004, Adhitya Mulya menjadi nama baru yang menonjol. Ya, novel ini ukurannya sudah termasuk uzur. Tapi rasanya humor yang sangat kental dan keseruan cerita rasanya cocok dengan kadar keabsurdan hidup. Apalagi dengan latar belakang tempat cerita adalah radio, maka cukuplah faktor yang membuat novel ini menjadi bacaan favorit sepanjang masa.

Radio pada tahun 2004 menjadi media yang bisa disandingkan dengan televisi dan media cetak. Konten radio digambarkan sangat fasih oleh Adhit dengan penggambaran karakter yang kreatif dan menyenangkan serta suasana ruang siar yang kadang kacau balau. Seperti pada halaman 88, ketika Ipong disuruh untuk melakukan siaran langsung untuk pertama kalinya. Jadinya rusuh!

Tidak hanya itu, Adhit mengajak kita kembali pada roman sandiwara radio yang populer sebelum media visual tumbuh berkembang. Imajinasi kita diajak mengingat kisah Mantili ataupun cerita Nenek Lampir yang dituangkan dalam sandiwara cinta jaman perang kerajaan. Bagaimana semuanya ini bertaut dalam satu novel setebal 232 halaman?

Cerita dalam Gege Mencari Cinta dibuka pada masa lalu –tepatnya masa SMP Gege pada tahun 1990, feeling ancient yet?—yang bercerita tentang hari dimana dia bertemu dengan Caca, perempuan yang menjadi tambatan hatinya. Beberapa kali kita akan diantarkan pada masa lalu Gege, untuk memperlihatkan ketololan manusia untuk melakukan apapun atas nama cinta.

Fast forward di masa sekarang, hidup Gege sebagai seorang produser radio terasa menyenangkan dengan hadirnya Ventha, Eman, Pak Sony, dan Tia. Perempuan yang diam-diam mencintai Gege dalam hati. Eksistensi perasaan Tia kemudian mendapat pertanyaan,

”Apa gak gengsi perempuan menyatakan cinta lebih dulu?”

Hal ini kemudian bertambah runyam ketika Caca berkantor di sebelah gedung Radio Hertz bernaung. Di suatu kesempatan Gege melihat Caca kembali. Sesuatu dari masa lalu masih berpijar di dalam dadanya. Siapakah yang akan dipilih Gege, Caca yang dia sayangi, ataukah Tia yang menyayanginya?

Keseruan cinta segitiga ini kemudian berpuncak pada 17 Agustus ketika episode final sandiwara radio yang diproduseri oleh Gege. Kapan lagi kisah cinta dengan kejar-kejaran ke bandara akan disiarkan langsung oleh radio? Linearitas kisah sandiwara radio kemudian bertaut dalam cerita Gege yang diselingi oleh adlibs, telepon pendengar, dan curhatan puisi Eman, sang pujangga penyiar radio Hertz. Bagian ini tetap menjadi salah satu episode klimaks terbaik dalam novel Indonesia.

Beberapa pembaca baru mungkin akan kehilangan sense of humor buku ini kalau tidak familiar dengan tren yang berlaku pada saat itu. Siapa yang menyangka Telkomsel Veronika akan muncul sebagai gimmick, ataukah referensi lagu milik K3S ataupun Lingua? Belum lagi semangat emansipasi dan feminisme yang menyetarakan hak perempuan dan laki-laki untuk menyatakan cinta. Beberapa faktor kelucuan dalam novel ini memang terbungkus dalam suasana medio tahun 2002 – 2004 ataupun lebih lampau.

Pada akhirnya terlepas semua drama dan kelucuan yang terjadi dalam Gege Mencari Cinta, tetap menyisakan pertanyaan besar bagi beberapa orang. Seberapa gengsikah kita untuk menyatakan cinta. Apakah perasaan memang bisa tersimpan selama bertahun-tahun dan masih tetap terasa sama?

Kalau kata lagu, love will lead the way.

🙂

You may also like

Leave a Reply