Menikmati suasana cozy ala AIMS’ Cafe.

Memasuki hari keempat lebaran, biasanya ajakan untuk halal bi halal sudah ramai berdatangan. Untuk mereka yang tidak mau repot, memilih tempat yang lokasinya terjangkau dan harga yang bersahabat tentu saja menjadi pertimbangan utama. Dari sekian banyak kafe dan gerai kopi yang hadir di Makassar, AIMS’ Cafe hadir dengan suasana berbeda.

Kesan pertama ketika memasuki kafe yang terletak di bilangan jalan Ratulangi no. 82 D adalah suasana chick yang tenang. Dengan deretan sofa yang tampak sangat nyaman serta meja barista yang nampak mencolok dari depan, menjadikan saya yakin dengan tempat ini.

”Kopinya pasti enak!”, dalam hati saya berujar. Maklum saja, hampir sebulan asupan kopi saya lumayan tidak teratur. Maka jadilah hari itu saya mengincar varian kopi yang ditawarkan oleh barista.

Setelah bertemu dengan Alfu, satu persatu teman Blogger Makassar, AngingMammiri berdatangan. Sambil bercerita tentang bagaimana kemacetan Makassar menjelang buka puasa, kami serentak meyakini bahwa akses AIMS’ Cafe yang terletak di jalan besar memudahkan semua orang. Belum lagi kalau memikirkan masuk mall dan berurusan dengan parkiran, pasti tidak ada yang mau seribet itu.

Continue Reading

Menikmati SAGELA; Sambal Ikan Roa khas Gorontalo.

Dalam perjalanan ke Gorontalo, saya akhirnya resmi berkenalan dengan banyak makanan khas daerah tersebut. Satu hal yang mendasar adalah perut anda harus siap dihajar dengan rasa pedas. Selain bumbu khas rica-rica, kini kita juga dapat menyicipi sambal roa khas Gorontalo dari Zanaya Cake.

Seperti yang diketahui bersama bahwa khazanah kuliner Indonesia sangatlah melimpah ruah. Berbagai jenis makanan bisa dijumpai dari berbagai daerah. Bahkan sambal yang sejatinya menjadi pelengkap makan, mempunyai banyak varian sambal yang berbeda. Katakanlah sambal lombok hijau, sambal bajak, sambal terasi dan masih banyak lainnya.

Dari timur Indonesia, sambal roa sudah terkenal dengan aroma dan rasanya yang khas. Perpaduan ikan roa menyatu dalam campuran cabai, garam, gula, bawang dan minyak. Ketika bersekolah di Stockholm tahun lalu, Rara sempat membawakan sambal roa sebagai pengobat kangen akan Indonesia. Makanya sambal khas ini memiliki banyak kenangan tersendiri.

Terima kasih untuk Vivi yang telah mengenalkan saya pada sambal roa khas Gorontalo. Untuk menuntaskan rasa penasaran, maka hidangan untuk hidangan buka puasa kemarin saya khusus menggoreng tahu untuk dijadikan teman makan. Rasa tahu yang lembut lantas bersatu dengan aroma ikan roa. Ditambah lagi pedasnya yang cukup bersahabat di lidah membuat sambal ini aman dikonsumsi setelah berbuka puasa.

Continue Reading

Mengenal Kuliner Swedia, dari Ikan Herring sampai Lingon Berry

6 bulan tinggal bersama Arne Perrson, rasanya pengalaman kuliner khas Swedia saya sudah tidak perlu diragukan. Beberapa kali dia memasak atau membuat sesuatu, saya juga berkesempatan untuk mencicipinya. Semalam saya juga berkesempatan untuk melihat lebih lengkap apa saja yang dihidangkan ketika makan malam dengan tema Swedish Food yang diselenggarakan oleh Student Union. Hasilnya? Sebagian besar sudah pernah saya rasakan!

radioholicz-swedishdinner-1

Ketika browsing mengenai makanan apa yang wajib dicoba ketika sampai di Swedia, beberapa channel atau tulisan di internet menyebutkan Surströmming sebagai raja kuliner Swedia. Penganan ini berupa ikan herring yang difermentasikan dalam kaleng sehingga menguarkan aroma yang kuat. Kadar baunya dibandingkan dengan durian—buah kontroversial itu—bahkan sudah ada aturan untuk menyantap Surströmming ini di luar ruangan. Karena gas yang membawa bau ikan tersebut akan menempel di furnitur, dan tercium di seluruh apartemen. Saya tidak sabar menunggu musim semi atau musim panas untuk mencobanya, sehingga saya benar-benar menjadi warga Swedia seutuhnya. Hahaha.

Continue Reading

Makan siang hore.

Ketika makan siang bersama beberapa teman kantor, pikiran saya terganggu. Bukan karena porsinya yang sedikit (haha!), tapi karena tingkah seorang teman yang sangat norak. Menu kami siang itu memang tergolong spesifik, bebek goreng. Tapi tingkahnya seolah-olah makanan itu berasal dari surga. Bukan, saya bukannya tidak menghargai makanan. Tapi kalian tahu kan batasan ketika kita mengapresiasi rasa makanan dengan terlihat wajar?

Pengalaman saya berulang beberapa hari kemudian. Seorang teman membawakan sarapan berupa gogos dan beberapa butir telur asin. Obrolan kami semakin hangat ketika teh hangat menjadi teman bersantap. Saya berhenti di gogos pertama, faktor sudah sarapan di rumah. Teman saya ini sudah membuka gogosnya yang kelima, seraya tidak berhenti bercerita. Apalagi ketika dia berbicara tentang rasa penasarannya sehabis melihat liputan kuliner di televisi. Apa yang dia lihat? Liputan tentang Konro Bakar dan dia belum pernah mencobanya. Dang!

Continue Reading