5 hal yang paling dirindukan dari suasana Ramadhan di Indonesia.

Foto pisang ijo sampai reuni angkatan hanyalah 2 hal yang paling saya rindukan kala berpuasa di Stockholm. Siapa yang bisa menolak irisan pisang yang berpadu dengan aroma pandan, saus santan dan sirup DHT yang fenomenal itu? Saya hanya bisa mengurut dada dari belahan dunia yang sangat jauh dari Makassar.

radioholicz-ramadhan--1

Melewati pertengahan Ramadhan banyak perasaan yang bercampur aduk dalam dada. Makna Ramadhan tahun ini adalah tentang sebuah perjuangan ketika diri sendiri yang benar-benar yang bisa diandalkan. Tidak ada nyanyian kelompok ibu-ibu pengajian selepas adzan maghrib di televisi, pun tidak ada semrawut kota ketika jam 5 sore tiba. Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat saya sangat rindu dengan suasana bulan puasa di Indonesia.

Continue Reading

Cerita Ramadhan dan matahari yang tidak pernah terbenam.

Tanganku sibuk memilah dan memperhatikan setiap foto Summer Soltice dari seluruh penjuru dunia. Di negeri 4 musim rasanya musim panas adalah favorit semua orang. Ketika mereka bisa menikmati sinar matahari sepanjang hari atau bahkan sampai sepanjang malam. Stockholm pun tidak pernah beranjak gelap gulita. Waktu paling gelap hanyalah serupa rembang petang bahkan ketika jam menunjukkan pukul 12 malam. Mereka bersuka cita menyambut sinar matahari yang seolah tidak pernah tenggelam. Bagaimana rasanya berpuasa di musim seperti itu?

Menara masjid besar Stockholm
Menara masjid besar Stockholm

Beberapa orang mengatakan saya tidak beruntung. Mengapa memutuskan datang berkuliah pada tahun ini. Seandainya bulan Ramadhan jatuh pada bulan Desember atau Januari, maka tentulah saya yang paling diuntungkan. Bisa-bisa puasa hanya 5 sampai 7 jam saja. Tapi sejak kapan sebuah ibadah menjadi faktor hitung-hitungan?

Continue Reading

Jadi protokol Masjid, siapa takut?

Berdiri di depan mimbar, berbicara kepada segenap hadirin. Mengucapkan salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dan berupaya mengucapkan nama khatib dan angka dengan baik dan benar. Menjadi protokol masjid sepertinya tidak semudah yang saya bayangkan.

Saya teringat perkataan seorang dosen di kampus dulu bahwa semua orang bisa belajar untuk berbicara di depan publik. Apapun medianya, semuanya bisa dijadikan sarana untuk latihan. Mimbar masjid? Tantangannya dua kali lipat karena berhadapan langsung dengan para audiens. Hal itu telah saya saksikan semalam.

Image by http://mtfuna.ub.ac.id
Image by http://mtfuna.ub.ac.id

Suaranya terbata, sesekali pandangannya gugup, melihat sekitar. Beberapa jemaah mengeluarkan tawa yang tertahan. Tapi remaja masjid yang lain terlihat menyoraki, bahwa ini adalah sebuah proses belajar. Sempat salah menyebutkan jumlah isi celengan shalat tarawih dan mengulang nama khatib tidak menghalangi langkahnya. Ketika informasi selesai dibacakan, wajahnya tersenyum lega. Dia berhasil melaluinya.

Proses regenerasi para remaja mesjid di Mesjid Baitul Yaqin telah berjalan lancar. Saya sendiri kaget ketika shalat tarawih di malam kedua, dan mendapati bukan lagi para pengurus masjid yang membacakan laporan harian, tetapi para remaja masjid yang masih berusia belasan tahun. Bahkan masih ada yang duduk di kelas 1 SMA! Ah senangnya!

Continue Reading