Hidup setelah Stockholm.

Sesuatu yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Sesuatu yang konstan bergerak maju tanpa pernah menunggu. Tempat baru, suasana baru, dan cerita baru di setiap tempat. Ternyata saya membutuhkan 9 bulan untuk menuntaskan seluruh perasaan saya terhadap Stockholm. Kenangan akan suatu tempat yang akan selalu saya panggil rumah.

Pemandangan kota Stockholm

Sepulang dari Labuan Bajo ketika liburan akhir tahun, saya sudah memutuskan untuk move on. Menutup seluruh chapter Swedia dalam hati. Momen apa yang paling pas selain tahun baru? Hahaha, ternyata memang masalah hati tidak segampang itu dibohongi. Lagi dan lagi saya masih sering terpekur melihat album foto di perangkat gawai, melirik akun twitter berbahasa Swedia, sampai streaming online radio yang saya dengarkan ketika sarapan pagi bersama Arne.

Semuanya tentang kebiasaan-kebiasaan yang telah mengakar selama 2 tahun.

Banyak orang yang kerap mengernyitkan dahi ketika mengetahui saya sepenuhnya belum menuntaskan perasaan saya akan Stockholm. Masih berada dalam memori indahnya hidup di Skandinavia.

”Oh percayalah, hidup saya juga tidak selamanya mudah disana.”

Saya akui memang beberapa kali kerinduan itu sangat memuncak. Bagaimana rasanya berjalan di area Central Station, berkeliaran di Södermalm, sampai nongkrong di Kungstragärden. Tapi euforia akan tempat masih terkalahkan dengan kerinduan para sahabat. Madeleine, Monica, Kim, Anni-Emilia, Rabiah, Dintan, Yustine, Putri, Mbak Ayii, anak-anak PPI, keluarga besar KBRI, serta diaspora keluarga Indonesia. Belum juga untuk autumn, yang membuat #bulanmenujupulang menjadi lebih indah sekaligus terasa perih disaat bersamaan.

Salah satu sudut Hornsgatan

Saya sering bertanya dan ngobrol pada beberapa teman yang juga berkuliah diluar negeri. Berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk beradaptasi kembali dengan kultur dan suasana Indonesia. Masing-masing orang menjawab antara 3 sampai 6 bulan. Tapi ada juga yang menjadi anomali. Dia membutuhkan waktu hampir setahun untuk mengorientasikan hidup lagi di Indonesia. Wow. Seberapa parahkah reverse culture shock menimpanya?

Episode liburan di Falun
Hangout pertama dengan teman kelas

Culture shock memang menjadi momok menakutkan ketika hendak bepergian atau berkenalan dengan budaya baru. Bagaimana menyesuaikan diri dengan iklim serta kebiasan lokal setempat, bahkan mencoba makanan tradisional. Ucapan hati-hati terhadap culture shock sering dititipkan kepada saya dan teman-teman Class of Anarchy sebelum berangkat sekolah. Namun mereka lupa menyebutkan reverse culture shock sebagai kartu joker yang akan menanti nanti.

Bukannya saya tidak menghargai kebudayaan dan kebiasaan orang Indonesia, tapi beberapa beberapa hal masih sering membuat saya emosi. Rasanya masih teringat ketika awal-awal kepulangan saya di Makassar. Rasanya hampir setiap hari saya ingin berkelahi dengan orang di jalan raya. Entah cara mereka membawa kendaraan, atau hanya karena masalah cuaca yang memang panas. Belum lagi suasana yang bising, beberapa orang jarang mengantri, buang sampah sembarangan, dan masih banyak kebiasaan-kebiasaan kecil yang membuat saya emosi.

”Lagian kenapa semuanya harus diurusi sih. Ya salah sendiri.”

Bisa saja saya kemudian menjadi apatis. Tapi ketika datang dari sebuah tempat dengan nilai-nilai positif untuk lingkungan, yah tetap aja susah. Akhirnya 6 bulan kemudian saya bisa tidak mengindahkan kelakuan orang-orang. Cukuplah perilaku-perilaku kecil itu saya terapkan pada diri sendiri dan orang-orang terdekat.

Reverse culture shock inilah yang sangat membuat disorientasi saya menjadi lebih parah. Apalagi saya memang sudah membawa benih-benih individualis yang kemudian bebas merdeka ketika berada di Jakarta dan Stockholm. Ketika kembali ke kantor ataupun keluarga besar dan berinteraksi dengan orang-orang yang selalu menanyakan kenapa kamu belum menikah, kenapa masih nongkrong sana sini, kenapa model rambutmu begitu, dan masih banyak lagi pertanyaan yang sekadar basa-basi tetapi terasa menyebalkan.

Teman-teman PPI yang menemani sampai detik terakhir di Stockholm
Class of 2014. Media and Communication Studies. Stockholm University

6 bulan waktu yang saya butuhkan untuk merasa nyaman bercerita dan bekerja dalam tim. Awalnya terasa kagok untuk mempunyai banyak tanggung jawab disaat yang bersamaan. Maklum saja, tugas sebagai humas kantor membuat saya harus berhubungan dengan banyak orang. Rasanya setiap hari saya harus membawa baterai cadangan emosi untuk bersosialisasi. Hahaha. 3 bulan pertama ngantor bahkan saya habiskan di perpustakaan. Koordinasi pekerjaan melalui whatsapp group ataupun via telepon. Sekarang sih sudah nyaman bekerja kesana kemari lintas divisi. Bahkan dipercaya menjadi host acara di TVRI dua kali sebulan.

9 bulan yang saya butuhkan untuk sepenuhnya pulih dari Stockholm syndrome. Diantara banyak pembicaraan yang mengalir dari Makassar, Jakarta, Ubud, Labuan Bajo, Gorontalo, Bulukumba, akhirnya pelarian itu berhenti. Sampai akhirnya pada saya bertemu Mbak Salma dan CS ketika transit di Makassar selama beberapa jam. Mbak Salma menawarkan pelukan hangatnya dan janji bahwa saya selalu mempunyai tempat bernaung jika suatu saat ingin mengujungi Stockholm. CS sendiri tertawa bahwa mungkin Stockholm Syndrome itu benar adanya. Diantara anak PPI yang memilih kuliah di Stockholm, semuanya memiliki memori sendiri dan akan selalu tertarik untuk kembali ke tempat tersebut.

Akhirnya tibalah saya pada titik ini. Bahwa hidup akan terus berjalan maju. Kenangan akan terus bertambah. Saatnya menutup rapat kotak Stockholm dalam hati dan kepala. Hari baru selalu menanti untuk dijelajahi. Saya siap untuk menuliskan semua tips dan trik kuliah di lur negeri, trivia mengenai Stockholm dan Swedia, ataupun perjalanan yang saya lakukan selama di luar negeri tanpa perlu merasa sedih lagi. Tunggu cerita-cerita berikutnya yah!

Vi ses Sverige. See you when I see you.

With love,
iQko.

You may also like

13 Comments

  1. wuihh… foto-fotonya cantik 😍
    well, jangankan yang habis tinggal lama di negeri orang yah, saya tiap pulang short trip saja selalu kayak kena culture shock 😅 mungkin karena tiap kali trip saya ga pernah jd turis, tapi berusaha hidup seperti penduduk lokal, jd pas pulang seperti adaptasi kembali..
    kadang-kadang diledeki “ngapamoe…” tapi ya gimana lagi.. memang begitu sih.

Leave a Reply