Biarkan saya mengambil peran antagonis itu.

Teruntuk Fithrayani.

Senyummu terkembang melihat susunan buah-buahan yang ada dalam wadah plastik. Entah mengapa kau begitu memuja campuran buah-buahan ditambah saus kacang itu. Tanganmu sibuk meramu bumbu. Sesekali kau mengecap rasa pedas dari sambal kacang. Kau sumringah, secerah matahari. Di umurmu yang akan beranjak ke 12 bulan Maret ini. Saya hanya bisa tersenyum melihatmu.

Mungkin suatu hari ini kau akan menemukan tulisan ini. Tulisan dari saya, seorang kakak yang selalu berkata pedas kepadamu. Selalu nyinyir dan menyuruhmu apa saja. Mungkin saya bukan kakak favorit di antara ketiga kakakmu. Tapi percayalah, saya menyayangimu dengan bentuk saya sendiri.

Fithra

Kau selalu ingat sinetron yang dulu sering kau tonton? Saya selalu melarangmu. Mematikan tivi atau sekedar menyuruhmu belajar. Sementara semua orang akan membelamu. Tidak sering kau langsung menangis ketika saya berucap sesuatu yang pedas. Itulah masalahnya, semua orang dirumah memanjakanmu. Saya tidak mau kau tumbuh menjadi anak yang cengeng. Maka biarkanlah saya yang mengambil peran jahat itu. Kakak yang selalu menjengkelkanmu.

Kau beruntung. Saya selalu menyebutmu beruntung. Perbedaan usia yang begitu jauh membuatmu mendapat banyak keistimewaan yang dulu tidak pernah kami dapat. Pakaian baru? Biasanya hanya sekali setahun. Ketika perayaan Idul Fitri. Jalan ke Mall? Kami hanya mendapat Pasar Sentral, dengan semua kesumpekan yang ada disana. Bimbingan belajar? Kami harus berjuang sendiri dirumah, belajar supaya lulus sekolah dan kuliah. Kamu beruntung mendapatkan semua kenyamanan itu, kala kami sudah mapan bekerja.

Ketika melihat kau dengan semangat ikut les ini itu, saya pula menjadi orang yang paling menentang. Saya tahu kau ingin berlomba menjadi yang terbaik. Belajar tidak kenal waktu. Kau membuktikannya. Menjadi peringkat 1 di semester terakhir sebelum kelulusan SD. Saya hanya takut, kau menjadi terobsesi dengan peringkat. Melihat semua kakakmu menjadi orang yang berhasil. Janganlah pernah kau merasa terbebani. Nikmatilah masa remajamu, dengan bermain dan belajar.

Mungkin suatu hari nanti baru akan kau mengerti. Dibalik semua perhatian dan ucapanku yang terkadang kelewat pedas. Harus ada yang melatih mentalmu. Saya percaya kamu bisa menjadi seseorang yang baik. Yang tumbuh dengan nilai-nilaimu sendiri. Jangan sampai terjebak pada kenyamanan. Selalu keluar dari zona nyamanmu. Karena mungkin suatu hari, tidak ada lagi perkataanku yang bisa menguatkanmu. Saat itu, kau harus kuat dengan caramu sendiri.

You may also like

2 Comments

Leave a Reply