Mereview dengan hati. (2)

Tulisan ini awalnya untuk sebuah kelas menulis bersama yang meminta saya sedikit bercerita bagaimana menulis review musik. Ditambah lagi pertanyaan di milis blogger Makassar Anging Mammiri, bagaimana cara menulis yang baik. Tulisan pertama bisa dilihat disini.

***

Inilah yang menjadi batasan awal. Kita senangnya mereview musik seperti apa? Genrenya apa? Pop mainstream kah, Hip Hop, Jazz, atau Rock. Keterbiasaan mendengarkan musik kesukaan akan memudahkan kita untuk mencerna lapisan demi lapisan suatu lagu. Instrumen yang digunakan, sampai apakah suatu lagu menggunakan suara 2, suara 3, sampai barisan choir pada barisan vokal.

Awalnya review musik akan berjalan lancar kalau semuanya karena rasa suka. Alasan profesional? Yah berarti harus meluangkan waktu untuk mendengarkan lebih banyak lagi jenis musik.

Dalam setiap rilisan baru biasanya seorang artis akan menampilkan sesuatu yang baru. Coba tengok bagaimana album terdahulu seorang artis. Metode perbandingan ini bisa dimunculkan ketika menyimak “warna” baru pada setiap rilisan. Sama seperti musik Linkin Park yang menampilkan sound elektronik yang sangat kental pada album A Thousand Sun (2010), tapi di album Living Things (2012) soundnya kembali pada era awal kemunculan musik mereka. Hal ini bisa menjadi dasar review. Mengapa mereka merubah jenis musiknya? Evolusi apa yang mereka capai? Apa ekspektasi penggemar mereka? Bagaimana proses kreatifnya?

Karena mereview sebuah album menjadi hal yang lebih kompleks karena harus melihat secara keseluruhan. Apa garis benang album tersebut? Apa tema sentralnya? Bagaimana urutan soundnya? Apakah up tempo dari awal sampai akhir, atau justru tidak memiliki permainan emosi sama sekali? Sebagai contoh, track list album 21 (2011) milik Adele memiliki bagian uptempo, bagian mellow, sampai yang betul-betul slow. Walaupun album ini termasuk album galau, tapi set listnya tidak menghantam telinga dengan lagu mellow dari awal sampai akhir.

Biasanya peletakan set list ini bergantung pada produser. Kita harus cermat melihat penanda bagaimana set list sebuah album disusun. Silahkan simak Pink Friday : Roman Reloaded (2012) kepunyaan Nicki Minaj. Album ini secara garis besar bisa dibagi 2. Bagian yang penuh dentuman bass dan aroma Hip-Hop yang kental. Ditambah repetan rap Nicki Minaj yang sangat fasih. Pada track ke 10 yang terdapat di tengah album, baru kita melihat corak yang biasa. Musik yang cepat berubah aliran menjadi slow R’n’B. Tergantung kejelian telinga saja menentukan intro, bagian inti, outro, sampai encore sebuah album.

Sebanyak apapun musik yang kita dengar atau simak, semuanya memiliki struktur dan kenangannya masing-masing. Intinya, semakin sering kita mendengar sebuah lagu yang akan direview, semakin kita dekat perasaan emosi yang ingin disampaikan. Semua materi teknis bisa diapatkan dari mana saja. Tapi bagaimana menulis ulasan yang berasal dari hati, itu yang sulit. Selamat mencoba!

You may also like

1 Comment

Leave a Reply