Album Of The Month : Good Old Fashion Love

Sejak dulu boyband selalu menjadi guilty pleasure tersendiri bagi saya. Hingga akhir tahun 2000, seolah pergeseran trend musik memusnahkan klan musik ini. Syukurlah tahun ini rasa penasaran itu kemudian berbalas. 5 pria berasal dari inggris sukses memainkan vokal mereka dan membentuk kesatuan yang sangat keren. Merekalah The Overtones!

Apa yang membuat boyband ini berbeda? Pilihan mereka untuk memainkan musik doo-wop membuat mereka tidak lantas bermain di pasar mainstream. Patut diingat bahwa doo wop sendiri adalah musik yang familiar di komunitas Afrika Amerika dan sangat populer di tahun 1940. Permainan vokal mereka membentuk section rhtym and blues terasa sangat kental dengan nafas soul. Jadi bagaimana bentuk album ini nantinya?

Sebut saja perbendaharaan musik oldies kita akan bertambah dengan referensi lagu yang direndisi ulang oleh vokal Mark Franks, Timmy Matley, Darren Everest dan Mike Crawshaw dan Lachie Chapman. Beberapa kali dejavu akan terjadi. Mengapa? Telinga saya sudah familiar dengan beberapa lagu dari era golden, yaitu tahun 1950 dan 1960. Repetisi nada dalam album ini seolah mengajak kita untuk mencari bentuk asli lagunya dan kemudian berpikir, apakah memang musik sebuah bahasa yang tidak akan pernah terasa tua.

Maklum saja, mengingat sebagian besar dari album Good Ol’ Fashion Love ini berasal dari era keemasan doo wop, sebut saja Don’t Make me Over milik Dionne Warwick (1962), Sh-Boom yang dinyanyikan oleh The Crew Cuts (1954), In The Still Of The Night oleh The Five Satins (1956). Referensi musik yang dimiliki oleh kelima pria ini sangat besar. Apa yang membuat boyband ini terasa lebih istimewa? Masing-masing personel memiliki range vokal yang berbeda, sehingga kesatuan harmonisasinya terasa utuh. Timmy yang bermain di pitch-pitch tinggi, sampai Lachie yang mempunyai keseksian suara bariton. Ah, merdunya!

Tidak hanya deretan lagu evergreen yang dibuat ulang oleh mereka. Beberapa track yang masih sangat familiar tidak luput dari rendisi ulang. Sebut saja Have I Told You Lately That I Loved You kepunyaan Rod Stewart, Beggin’ yang dinyanyikan oleh Madcon, sampai Rolling In The Deep kepunyaan sang ratu Inggris, Adele. Yang paling mengejutkan malah datang dari cara mereka merupa sedemikian track Only Girl in The World kepunyaan Rihanna. Sebuah anthem dansa digubah ulang menjadi barisan suara bariton dan double bass kepunyaan Lachie.

Lantas tanpa keseluruhan aspek dejavu, mengapa The Overtones lantas tidak percaya diri dengan musik mereka? Ah, saya harus melihat bahwa mereka harus sedikit subjektif. Tidak semua orang akan familiar dengan musik mereka. Simak saja lirik I met you once, i loved you twice. Thats the way this tale begins. I played my hand, i rolled the dice. Now im paying for my sins.

Nafas Back To Black dari Amy Winehouse sangat terasa di Gambling Man. Track yang didengungkan sebagai single pertama. Dari barisan suara terompet sampai repetisi lirik yang ambigu, membuat saya heran, mestinya mereka lebih percaya diri.

Album ini dirilis tahun 2010 dan dirilis ulang pada november 2011 dengan membuat versi deluxe. 19 track yang membuat orang akan mendengarkannya terus dan terus. Apakah setelah ini era boyband akan kembali? Kalau kelasnya setara dengan musik The Overtones, saya tidak akan menolaknya.

Ini adalah cover version yang dibuat mereka, silahkan simak perbedaan nada vokal mereka masuk ke ranah mana.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply