Tentang Dua

image

Aku berbicara tentang punggungmu, yang dulu pernah menjanjikan keteduhan di antara semua penat yang melanda. Aku melihatnya lagi hari ini, diantara barisan jejalan manusia yang tumpah ruah, dengan seragam biru khas yang memang kau pakai setiap selasa. Kau bergegas, hujan sebentar lagi menderas, tapi kenapa ingatanku semakin kacau dan melimpah ruah dengan barisan percakapan imajiner tentangmu?

(Potongan epilog “Tentang Dua”)

Continue Reading

Kepada M, cerita di penghujung minggu.

Halo M, apa kabarmu? Saya tahu kamu sangat merindukan November dan menikmati setiap harinya, seperti saya selalu bersemangat kala Oktober tiba. Adalah memiliki kehilangan itu yang biasanya bagian terberat, ketika kita terbiasa menikmati sensasi menunggu. Setelah tanggal sakral tersebut berlalu, terkadang ada perasaan gamang, dan kita hanya berkata,

“Hanya begitu saja?”

Bukan, saya tidak ingin membuatmu galau lagi. Selamat menunggu sampai hari kelahiranmu tiba tahun depan, dimana setiap angka yang bertambah kita diharapkan bisa lebih kuat, lebih tegar menghadapi hidup yang terkadang tidak adil.

Iya M, perkataan itu akhirnya saya dengar lagi. Setelah sekian lama saya berusaha berdamai dengan apa yang ditawarkan hidup, ternyata ada orang lain yang memiliki pikiran yang sama. Padahal dia baru saja menikah, tenyata drama yang dialaminya juga beragam. Kamu mengenalnya kok, 3 bulan sudah dia resmi melepaskan masa lajangnya. Apa coba kekurangan yang dia rasakan, ketika dia sudah menemukan separuh hidupnya?

Salah satu minuman favorit, Choco Oreo
Salah satu minuman favorit, Choco Oreo

Sesekali perhatianku terpecah ketika duduk di kafe bersama mereka. Teman-teman yang dulu sama-sama berjuang di bangku kuliah, siapa yang menyangka kami akan bercakap di tengah spot yang lagi happening di ibukota? Bahwa kemudian pertanyaan keadilan seperti apa lagi yang akan kau cari dari hidupmu?

Continue Reading