Jadi protokol Masjid, siapa takut?

Berdiri di depan mimbar, berbicara kepada segenap hadirin. Mengucapkan salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dan berupaya mengucapkan nama khatib dan angka dengan baik dan benar. Menjadi protokol masjid sepertinya tidak semudah yang saya bayangkan.

Saya teringat perkataan seorang dosen di kampus dulu bahwa semua orang bisa belajar untuk berbicara di depan publik. Apapun medianya, semuanya bisa dijadikan sarana untuk latihan. Mimbar masjid? Tantangannya dua kali lipat karena berhadapan langsung dengan para audiens. Hal itu telah saya saksikan semalam.

Image by http://mtfuna.ub.ac.id
Image by http://mtfuna.ub.ac.id

Suaranya terbata, sesekali pandangannya gugup, melihat sekitar. Beberapa jemaah mengeluarkan tawa yang tertahan. Tapi remaja masjid yang lain terlihat menyoraki, bahwa ini adalah sebuah proses belajar. Sempat salah menyebutkan jumlah isi celengan shalat tarawih dan mengulang nama khatib tidak menghalangi langkahnya. Ketika informasi selesai dibacakan, wajahnya tersenyum lega. Dia berhasil melaluinya.

Proses regenerasi para remaja mesjid di Mesjid Baitul Yaqin telah berjalan lancar. Saya sendiri kaget ketika shalat tarawih di malam kedua, dan mendapati bukan lagi para pengurus masjid yang membacakan laporan harian, tetapi para remaja masjid yang masih berusia belasan tahun. Bahkan masih ada yang duduk di kelas 1 SMA! Ah senangnya!

Continue Reading

Gili Story #2 : bagaimana memilih travel buddy.

Sepertinya saya ditakdirkan untuk memilih teman bertualang secara random. Tidak pernah begitu pas, tetapi tidak juga begitu chaos. Semuanya beragam, tetapi pelan-pelan saya mencatat bahwa drama bisa saja terjadi dalam setiap perjalanan. Semua orang pernah melakukan trip rombongan pasti pernah merasakannya. Karena biasanya, dalam setiap perjalanan barulah sifat asli seseorang bisa muncul dengan sendirinya.

the best travel buddy!
the best travel buddy!

Masalah paling sering muncul adalah standar kenyamanan. Inilah patokan yang menjadi tolak ukur bersama yang terkadang susah disamakan. Tapi bisa apa lagi?

Standar kenyamanan inilah yang biasanya menjadi masalah terbesar. Ketika banyak kepala yang berpikir, bisa jadi banyak standar yang tercipta. Apalagi kalau sudah ada yang meneriakkan statement “terserah”, biasanya justru merekalah biang chaos. Karena tidak bisa menentukan apa keinginan mereka.

Continue Reading

Gili Story #1 : dan petualangan dimulai!

Ketika melihat jejak kebelakang, saya selalu tersenyum mengingat betapa banyak yang telah terdatangi, telah banyak tempat telah saya lihat dan nikmati. Walaupun tidak pernah sekelas dan tidak sebanyak para traveler terkenal, saya menikmati sensasi tersendiri dari setiap perjalanan. Tentang melompati waktu, menikmati riuh dari kondite lain setiap kehidupan.

Seberapa banyak saya berjalan setiap tahunnya? Saya kemudian teringat pada satu ucapan bahwa selalu ciptakan keadaan dimana kau tidak butuh lari setiap waktu darinya. Karena terkadang perjalanan bagi sebagian orang adalah manifestasi rasa jenuh. Keinginan untuk lari dari kenyataan, walaupun sejenak, tapi bisa bernafas lega. Kali ini perjalanan saya dimulai di Gili Trawangan.

Dari sekian banyak destinasi, entah mengapa saya jatuh cinta dengan laut, ombak, pantai. Saya selalu terkesima dengan luasnya horizon yang bisa saya lihat, selalu merasakan sentimentalitas berlebihan ketika melihat sunrise maupun sunset, atapun hanya menikmati sensasi panas laut. Urusan kulit hitam? Itu belakangan. Saya selalu takut ke gunung, karena dia bisa menciptakan ilusi-ilusi yang selalu tampak sama. Hahaha, saya memang buta arah, dan geografi saya selalu dibawah minus. Pejalan macam apa saya ini? Bahkan di peta buta pun saya tersesat!

Gili-1

Gili Trawangan yang saya bayangkan adalah sebuah pulau pelarian yang tepat. Dengan bungalow-bungalow sepanjang pantai, kehidupan yang begitu riuh dan tentu saja akomodasi yang memadai. Apa yang terjadi sesampai disana?

Pelan-pelan saya membangun imaji yang lain. Bahwa memang Gili Trawangan adalah sebenar-benarnya neraka. Neraka bagi para jomblo! Kalau bukan orang pacaran, pastilah newlywed. Berpelukan, berciuman, berpegangan tangan, semuanya dilakukan di jalan! Romantisme café yang berjejer juga menambah romansa, sehingga mereka yang jomblo akut bisa dikatakan akan segera merasa penat tak berkesudahan. *termasuk saya* *kemudian nangis*

Bagaimana dengan akomodasi di Gili Trawangan?

Continue Reading

Hurt.

Pernah saya bercerita kepadamu tentang mimpi yang selalu ada di kepalaku. Tentang keinginan-keinginan yang berupa kamu di dalamnya. Dimana cerita serupa novel selalu ditayangkan. Menghabiskan hari dengan menghabiskan segelas cokelat hangat dan menikmati hujan yang turun dengan bergegas. Tapi ternyata benar kata pepatah, bahwa terkadang mimpi selalu jauh dari kenyataan. Ketika kau sendiri tidak pernah betul-betul mengusahakannya.

image by http://tumblr.com
image by http://tumblr.com

Entah mengapa saya begitu bodoh akhir-akhir ini. Membuat waktu menjadi kunci yang menjadi pengekang. Ketika tetiba kilasan-kilasan hari kemudian menjadi lewat begitu saja. Saya takut. Mengakui bahwa saya kebablasan lagi. Terbawa ritme tanpa pernah mengontrolnya. Tidak memberi jeda sedikitpun. Tahu karena apa saya sedih? Karena melihat status seorang teman yang sedang makan bersama bersama pacarnya. Sesederhana itu, tetapi saya bersedih setengah mati.

Kali ini saya betul mengutuk jarak, dan hampir menyerah karenanya.

Continue Reading