Cerita dari Makassar Traditional Games Festival 2012

Persiapan saya pada hari minggu, 28 Oktober sudah sedemikian matangnya. Ditemani angin sepoi-sepoi dan bayangan pohon yang begitu teduh, saya menikmati berlembar-lembar novel Book of The Lost Things. Memindahkan konsep piknik dan menikmati minggu siang, pikiran saya sempat terlempar dan bermain bersama keseharian David dan buku-bukunya. Sampai satu pertanyaan membuyarkan seluruh konsentrasi,

“Kak iQko nanti mau main apa?”

Itu pertanyaan dari Januar. Salah seorang penggiat komunitas di Makassar. Siang itu dia tampak bersemangat untuk membuat garis permainan Asing. Tampak di tangannya meteran, tali, sampai kapur yang digunakan sebagai penanda. Senyum khasnya selalu nampak, mengalahkan terik matahari yang hampir mencapai ubun-ubun kepala.

Ma’asing dan Ma’santo 😀

Dia bersama beberapa panitia dari @jalan2seru_mks menjadi koordinator permainan yang akan dimainkan sampai sore nanti. Di sudut lain ada yang sibuk membuat lubang untuk ma’cangke, ada pula yang membuat garis untuk ma’santo. Riuh rendah suara tawa selalu terdengar, ketika satu persatu para undangan datang. Mereka tersenyum melihat berbagai permainan yang sudah siap untuk membawa mereka ke masa lalu.

Siapa yang bisa menolak kenangan?

Continue Reading

#bearbiketrip 3: the cave

Klaustrofobia adalah ketakutan akan ruang yang sempit. Setidaknya itu yang saya dapat dari penjelasan nona Wikipedia. Badan segede beruang takut akan ruang sempit? Menurut ngana? Bagaimana kalau nanti tubuh semok saya nyempil di dinding gua?

Adegan itu yang terus berulang dan berulang dikepala saya. Apalagi ketika mengetahui bahwa rombongan trip #funcaving bersama @jalan2seru_mks akan menginap di mulut gua. Ternyata penderitaan saya belum berakhir. Kami harus mendaki lagi untuk masuk kedalam mulut gua saripa yang akan dieksplorasi.

Beberapa kali kata “crap” keluar dari mulut, berseberangan dengan napas yang semakin terengah. Betis dan paha seolah menjerit, ingin menampar siapapun yang berusaha melucu atau menjadi sok pahlawan dengan membantu. Saya capek! Itu intinya, dan saya membutuhkan bidang datar untuk meluruskan punggung.

Mulut gua saripa

Setelah membiasakan diri dengan keremangan gua, kami pun mengeksplorasi tempat yang dijadikan tempat tidur. Beberapa orang sudah saling terpisah, memilih lokasi favorit masing-masing. Saya, kak Anchu dan Veby memilih bagian tebing yang terletak agak di atas. Berhadapan dengan lubang angin yang jadi sirkulasi dalam gua—yang menyebabkan saya menggigil kedinginan ketika subuh—dan memiliki kemiringan 10 derajat.

Bagaimana rasanya tidur dengan kemiringan seperti itu? Ya, seperti ingin menggelending terus 😐

Continue Reading

#bearbiketrip 2 : the chronicle

“nikmati saja perjalanannya, jangan terlalu fokus dengan tujuannya”

Itu pesan @nandarkeo ketika mendengar saya, kak Anchu dan Veby akan menempuh rute Makassar – Ta’deang dalam rute perjalanan kali ini. Sebelumnya dia menawarkan untuk ikut dalam tripnya mengunjungi salah satu lokasi bersejarah di Pangkep, cuma rasanya kami belum sanggup untuk menempuh kegilaan itu.

Sabtu, 19 Oktober 2012 trip resmi dimulai. Saya sendiri telah mendrop Tantra—polygon estrada 3.0 kebanggaan saya—di Kampung Buku. Dengan memikirkan rutenya bisa lebih hemat ketimbang saya harus menempuh jarak dari cendrawasih. @fadalays turut serta melepas kepergian saya dan Kak Ancu, sambil terharu. Entah karena sedih atau karena geli melihat kegilaan kami. Pitstop pertama, Dinas Kesehatan Provinsi depan gerbang BTP untuk menunggu Veby.

Tantra, Lespo, Tantri

Rute perjalanan dalam kota bisa dikatakan terlalui dengan mudah. Beberapa kali saya melaju dengan menggunakan gigi 2, standar yang digunakan untuk jalanan rata. Suatu hal yang terus bertentangan dengan Kak Anchu yang setia menggunakan gigi 1 untuk segala medan. Beberapa kali saya harus menyamakan ritme dengan kayuhannya, sekadar memastikan dia tidak jauh ketinggalan.

Continue Reading