Pacaran beda usia?

Ketika melihat judul postingan ini, kok saya merasa seperti sebuah artikel dalam majalah wanita dewasa? Ini bukan sebuah curhat galau. Hanya ingin menanyakan kepada semua orang, berapa jarak umur yang ideal bagi seorang pasangan? Anda dengan pasangan anda bertaut berapa angka usianya?

Image by http://agitpopotoan.deviantart.com/

Saya sendiri selalu berkoar bahwa saya adalah penganut paham Oedipus Complex. Mereka yang suka dengan sosok pasangan yang lebih dewasa. Hal ini dikarenakan mungkin karena saya terlalu cepat dewasa dalam beberapa hal, sehingga ketika membicarakan suatu masalah dengan orang-orang yang seumuran, kok rasanya gak nyambung?

Well, walaupun beberapa ilmu dasar dalam hukum percintaan mengatakan Age doesn’t matter. Tapi menurut saya faktor usia juga berpengaruh kepada bagaimana kita melihat hubungan. Bagaimana kualitas hubungan yang terjadi, sampai pada tahap melihat pasangan sebagai partner dalam menjalani hidup. Nah, kalau beda usianya itu misalnya diatas kisaran 5 tahun? Let’s say, 7 sampai 10 tahun. Bisakah bertahan?

Kenapa saya tertarik untuk membahas ini? Ehm, saat ini saya sedang intens sms an dengan seseorang yang terpaut 8 tahun lebih MUDA dari saya (jadinya curhat juga :D). Kalau sama tante-tante, saya sudah terbiasa. Mengingat banyak teman saya yang memang dewasa. Saya tahu bagaimana membawa diri. Tapi sms an sama seseorang yang lebih muda? Eng ing eng!

Ya, sebenarnya ini bukan pacaran. Masih sebatas sms an. Tapi kemungkinan untuk jadian juga ada kan? Hahahaha. Tapi setelah menimbang dan mengukur, ternyata memang memberi perhatian untuk brondong itu perlu perhatian yang lebih ekstra. Kenapa? Mereka masih mencari jati diri. Masih pasif untuk menyuarakan emosi. Serta masih melihat sebuah hubungan sebagai sesuatu hal yang biasa. Tsah! Beberapa orang mungkin akan berpikiran seperti itu. Di titik dimana 18 tahun adalah masa bersenang-senang. Masa pencarian. Lantas, bisakah bertahan dengan cakupan usia seperti itu?
Ada beberapa pesan saja sebenarnya buat saya dan anda yang ingin menjalani hubungan dengan seseorang jauh lebih muda, diantaranya :

1. Tentukan prioritas. Apakah memang ingin menjalani hubungan yang serius atau tidak. Sekali lagi walaupun banyak yang mengatakan usia bukan masalah, tapi ada beberapa hal mengenai komitmen yang belum bisa dicerna oleh brondong. Kalau memang ingin sekedar have fun saja, hubungan seperti ini masih layak dinikmati.

2. Beri perhatian yang banyak. Terkadang hal ini bisa menjadi menyenangkan dan menjengkelkan disaat bersamaan. Menyenangkan ketika melihat reaksinya ketika perhatian-perhatian kecil yang anda berikan sanggup membuatnya meleleh luar dalam. Menjengkelkan ketika dia meminta perhatian disaat anda harus fokus terhadap suatu pekerjaan.

3. Nyaman. Ada beberapa hal yang bisa saya dapatkan ketika sms an atau bergaul dengan seseorang yang lebih dewasa. Saya bisa menjadi lebih mature, lebih bersikap dan menuntut bagaimana menjadi seseorang yang lebih baik. Tapi dengan seseorang yang usianya lebih muda, saya baru tahu satu hal. Ada semangat kebebasan yang keluar. Semangat belum ingin terikat aturan, melihat semuanya menjadi begitu gampang. Dan ya, banyak tertawa berarti awet muda. Sudah lihat tante Yuni Shara yang semakin bersinar kan?

Well, pada akhirnya silahkan tanya kepada diri sendiri (termasuk saya), ketika akan mencoba berhubungan dengan seseorang yang usianya lebih muda atau brondong, apakah semua usaha yang dikeluarkan akan pantas atau tidak. Bagaimanapun juga, anda yang menjalaninya kan?

Continue Reading

Fragmen 1 babak : Di penghujung rindu

Senja sudah sedari tadi pergi menghilang ke peraduannya. Dia tahu dan dia mengerti. Ada sepasang manusia yang akan bertemu. Dia menyiapkan pekat malam. Sekedar berjaga ketika semburat merah hadir di wajah mereka. Ini adalah pertemuan setelah beberapa bulan lamanya.

Semuanya berlangsung secara sederhana. Hanya sebaris sms berkata rindu dan sepenggal percakapan di pertengahan malam. Sanyup terdengar beberapa tetangga bercakap. Selebihnya hanya heningnya malam. Yang menjadi saksi bahwa memang masih ada ikatan diantara mereka. Masih ada urusan yang belum selesai. Beberapa pesan terkirim kembali. Kali ini berisikan janji untuk bertemu. Dia melihatku. Meminta pertimbangan apakah mereka seharusnya bertemu lagi atau tidak.

Apakah ada yang bisa menahan perasaan rindu yang menyeruak? Seperti menampung air hujan yang tidak hentinya turun. Terus dan terus mengguyur. Belasan jam sebelum bertemu, bahkan dia sudah gelisah. Membiarkan beberapa pekerjaan menjadi tidak tersentuh. Membiarkan angan dan khayal membawanya kepada kenangan yang telah terjadi. Apakah memang semuanya masih akan tetap sama? Tidak ingin mengganggu apa yang sedang bermain di benaknya.

Disanalah dia lagi. Diruang tamu itu. Terpampang beberapa foto yang menandakan silsilah keluarga. Dia masih hapal, siapa-siapa saja yang ada di setiap foto itu. Sejelas kenangannya tentang malam-malam ketika mereka masih bersama.

“Kamu apa kabar?”

Sejenak lidahnya kelu. Apakah kenangan memang musuh bebuyutan yang paling sulit dihindari? Bahkan ketika mereka sudah saling berhadapan, dia tahu, dia tidak merasakan getaran itu lagi. Rindu yang tadinya menyeruak, seketika meruap entah kemana. Hilang menjadi penggalan ingatan yang sensoris saja. Ketika dia menghirup bau rumah itu lagi.

Perlahan percakapan membaur dan berubah menjadi proses tanya jawab yang sedemikian panjang. Bagaimana kabar, sedang jalan sama siapa. Semuanya pertanyaan standar. Sampai pada satu pertanyaan,

“Aku masih ingin balik sama kamu. Menjalani hari seperti dulu lagi”.

Hanya senyum dikulum yang menjadi jawabnya. Mencoba jawaban yang paling tepat. Sedari tadi saya menunggu apa yang terucap di ujung mulutnya. Menunggu jawaban. Saya tahu akan aman bersamanya terus kali ini. Tanpa mengindahkan masa lalu yang ingin masuk kembali ke kehidupannya. Setidaknya dia memastikan bahwa posisi saya tidak akan berganti.
Pelan, malam semakin beranjak larut. Sepertinya ada serpihan rindu yang patah malam mini. Dia kembali ke kamarnya. Menghapus beberapa pesan yang tadinya berasal dari nomor yang sangat dia rindukan. Dia melihatku lagi. Dia menyentuhku. Untuk malam kesekian berhias sepi.

“Close Fit, Safe Protection”. Itulah tulisan terakhir yang saya lihat. Sebelum tangannya menutup rapat laci meja, dan saya akhirnya berkumpul lagi dengan 2 teman yang lain. Di kardus kecil itu.

Continue Reading

Seperti paradoks yang tidak pernah berhenti.

Bagaimanapun juga hidup akan terus berlanjut, dengan atau tanpa saya. Bukankah eksistensi manusia akan terjawab ketika mereka berada di dalam lingkungan sosial. Lantas, ketika semua hal menjadi saling terikat satu sama lain, mampukah lingkungan itu saling mendukung?

Sebuah pertanyaan yang jawabannya saya temukan di tempat yang jauh. Berbekal niat dan kegilaan, saya memutuskan untuk pergi sejenak dari rutinitas. Mencoba menyakinkan diri, bahwa tanpa saya, sebuah dunia tetap akan berjalan. Tanpa saya, beberapa orang akan tetap tertawa dan menjalani hidup. Juga dengan saya, ada sebuah tawa yang tercipta di belahan bumi yang lain.

Sebenarnya sudah lama saya tidak dihinggapi pertanyaan seperti ini. Sebuah kontemplasi yang tidak berujung pangkal. Tapi bukankah itu nikmatnya hidup? Ketika kau bisa terus bertanya tentang semua hal, termasuk sampai dimanakah kau memahami dirimu sendiri.

Ditemani belasan tawa dan obrolan yang mengalir bersama 3 orang sahabat, akhirnya saya bisa memverbalkan apa yang terjadi kepada saya. Diantara kepulan asap rokok, roti bakar, dan suara ombak yang memecah di pantai, pembicaraan kami menjadi semakin mengerucut. Mencoba menyimpulkan bentuk hidup apa yang sedang terjalani sekarang.

“kamu terlalu paradoks dalam menjalani hidup. Melakukan sesuatu yang ekstrim sebagai sebuah kebiasaan dan melakukan hal ekstrim lainnya di kutub yang berlawanan. Masalah terbesarnya adalah kau menikmati berada di posisi tersebut. Sedangkan orang lain bisa jadi gila ketika berada di posisimu”

Itu adalah jawaban yang dikemukakan padaku oleh perempuan itu. Dia mengerti bagaimana jalan pikiranku. Entah berapa banyak ceritaku yang telah dia dengarkan. Dia bersama seorang perempuan dan seorang lelaki lainnya. Kami telah berbagi dunia. Tidak pernah kami menilai apa yang telah dilakukan. Cukup itu menjadi privasi dan pilihan kami.

Bagi yang belum mengerti konsep paradoks sebenarnya, ini adalah kutipan yang saya temukan ketika bertanya pada nona Wikipedia,

Sebuah ‘paradoks adalah sebuah pernyataan yang betul atau sekelompok pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi. Biasanya, baik pernyataan dalam pertanyaan tidak termasuk kontradiksi, hasil yang membingungkan bukan sebuah kontradiksi, atau “premis”nya tidak sepenuhnya betul (atau, tidak dapat semuanya betul).

Masih bingung? Singkatnya saya melakukan banyak tindakan ekstrim dalam hidup. Seperti menjadi PNS. Bagi mereka yang telah bersama saya selama 5 tahun terakhir pasti akan mengernyitkan dahi tanda tidak percaya. Saya, yang memiliki jiwa yang bebas, memilih untuk masuk dan terikat pada negara. Di lain pihak, saya masih menjunjung semangat kebebasan. Masih menjadi kontributor musik, bergaul sana sini, yang semestinya sudah menjadi masa lalu.

Saya bisa menjadi bagian dari satu komunitas besar. Tertawa, serta menceritakan keseharian saya kepada semua orang. Semua orang merasa nyaman. Tapi ada kalanya saya bisa menjadi sebuah batu sendiri. Tidak akan bercerita ataupun hanya ingin sendiri.

Ada banyak pilihan yang saya telah saya buat. Semua hal saling bertentangan satu sama lain. Tapi saya merasa nyaman hidup di dalamnya. Sama seperti ketika kau tertawa dan mabuk disuatu malam dan kemudian bangun di subuh hari untuk melaksanakan sholat. Saya bisa melakukan itu semua, terlepas apakah hal itu terasa wajar atau tidak. Siapa yang menentukan batas kewajaran tersebut?

Disinilah saya. Memasuki fase berikutnya dalam hidup. Sepertinya memang April membawa banyak kejutan kali ini. Semoga semuanya akan baik-baik saja.

Continue Reading