Hidup setelah Stockholm.

Sesuatu yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Sesuatu yang konstan bergerak maju tanpa pernah menunggu. Tempat baru, suasana baru, dan cerita baru di setiap tempat. Ternyata saya membutuhkan 9 bulan untuk menuntaskan seluruh perasaan saya terhadap Stockholm. Kenangan akan suatu tempat yang akan selalu saya panggil rumah.

Pemandangan kota Stockholm

Sepulang dari Labuan Bajo ketika liburan akhir tahun, saya sudah memutuskan untuk move on. Menutup seluruh chapter Swedia dalam hati. Momen apa yang paling pas selain tahun baru? Hahaha, ternyata memang masalah hati tidak segampang itu dibohongi. Lagi dan lagi saya masih sering terpekur melihat album foto di perangkat gawai, melirik akun twitter berbahasa Swedia, sampai streaming online radio yang saya dengarkan ketika sarapan pagi bersama Arne.

Semuanya tentang kebiasaan-kebiasaan yang telah mengakar selama 2 tahun.

Banyak orang yang kerap mengernyitkan dahi ketika mengetahui saya sepenuhnya belum menuntaskan perasaan saya akan Stockholm. Masih berada dalam memori indahnya hidup di Skandinavia.

”Oh percayalah, hidup saya juga tidak selamanya mudah disana.”

Saya akui memang beberapa kali kerinduan itu sangat memuncak. Bagaimana rasanya berjalan di area Central Station, berkeliaran di Södermalm, sampai nongkrong di Kungstragärden.

Continue Reading

Menikmati suasana cozy ala AIMS’ Cafe.

Memasuki hari keempat lebaran, biasanya ajakan untuk halal bi halal sudah ramai berdatangan. Untuk mereka yang tidak mau repot, memilih tempat yang lokasinya terjangkau dan harga yang bersahabat tentu saja menjadi pertimbangan utama. Dari sekian banyak kafe dan gerai kopi yang hadir di Makassar, AIMS’ Cafe hadir dengan suasana berbeda.

Kesan pertama ketika memasuki kafe yang terletak di bilangan jalan Ratulangi no. 82 D adalah suasana chick yang tenang. Dengan deretan sofa yang tampak sangat nyaman serta meja barista yang nampak mencolok dari depan, menjadikan saya yakin dengan tempat ini.

”Kopinya pasti enak!”, dalam hati saya berujar. Maklum saja, hampir sebulan asupan kopi saya lumayan tidak teratur. Maka jadilah hari itu saya mengincar varian kopi yang ditawarkan oleh barista.

Setelah bertemu dengan Alfu, satu persatu teman Blogger Makassar, AngingMammiri berdatangan. Sambil bercerita tentang bagaimana kemacetan Makassar menjelang buka puasa, kami serentak meyakini bahwa akses AIMS’ Cafe yang terletak di jalan besar memudahkan semua orang. Belum lagi kalau memikirkan masuk mall dan berurusan dengan parkiran, pasti tidak ada yang mau seribet itu.

Continue Reading

Menikmati SAGELA; Sambal Ikan Roa khas Gorontalo.

Dalam perjalanan ke Gorontalo, saya akhirnya resmi berkenalan dengan banyak makanan khas daerah tersebut. Satu hal yang mendasar adalah perut anda harus siap dihajar dengan rasa pedas. Selain bumbu khas rica-rica, kini kita juga dapat menyicipi sambal roa khas Gorontalo dari Zanaya Cake.

Seperti yang diketahui bersama bahwa khazanah kuliner Indonesia sangatlah melimpah ruah. Berbagai jenis makanan bisa dijumpai dari berbagai daerah. Bahkan sambal yang sejatinya menjadi pelengkap makan, mempunyai banyak varian sambal yang berbeda. Katakanlah sambal lombok hijau, sambal bajak, sambal terasi dan masih banyak lainnya.

Dari timur Indonesia, sambal roa sudah terkenal dengan aroma dan rasanya yang khas. Perpaduan ikan roa menyatu dalam campuran cabai, garam, gula, bawang dan minyak. Ketika bersekolah di Stockholm tahun lalu, Rara sempat membawakan sambal roa sebagai pengobat kangen akan Indonesia. Makanya sambal khas ini memiliki banyak kenangan tersendiri.

Terima kasih untuk Vivi yang telah mengenalkan saya pada sambal roa khas Gorontalo. Untuk menuntaskan rasa penasaran, maka hidangan untuk hidangan buka puasa kemarin saya khusus menggoreng tahu untuk dijadikan teman makan. Rasa tahu yang lembut lantas bersatu dengan aroma ikan roa. Ditambah lagi pedasnya yang cukup bersahabat di lidah membuat sambal ini aman dikonsumsi setelah berbuka puasa.

Continue Reading

Selamat Ulang Tahun, Pak Joko Widodo!

Setiap era kepresidenan memiliki citra dan warnanya sendiri. Saya sendiri awalnya tidak terlalu aware dengan wajah perpolitikan Indonesia, kemudian larut dalam setiap perbincangan politik. Baik itu di berbagai kanal sosial ataupun ruang nyata. Hal ini tentu saja disebabkan karena tidak hanya pemberitaan mengenai kinerja pemerintahan dan politik di media massa, kini para politisi hadir lebih dekat dan terasa nyata melalui kanal media sosial.

Image by Yulianti Tanyadji. https://www.instagram.com/ytanyadji/

Dalam era awal media sosial, kata pencitraan kerap terdengar. Bahwa seseorang akan melakukan perbuatan tertentu untuk menaikkan nilainya dihadapan khalayak. Mengapa citra ini menjadi penting? Mengutip Arif Budiman (1) yang berkata bahwa citra berkaitan erat dengan suatu penilaian, tanggapan, opini, kepercayaan publik, asosiasi, lembaga dan juga simbol simbol tertentu terhadap bentuk pelayanan, nama perusahaan dan merek suatu produk barang atau jasa yang diberikan oleh publik sebagai khalayak sasaran (audience).

Tirto.id (2) bahkan menuliskan ulasan yang lengkap mengenai bagaimana Jokowi menjual citra politiknya. Dalam salah satu alinea liputan yang ditulis oleh Arman Dhani, tipikal komunikasi Jokowi adalah gemar melontarkan lelucon, tertawa lepas, bahkan tidak ragu untuk melakukan kontak fisik dengan siapapun. Seperti saat mengunjungi beberapa pondok pesantren, Jokowi mengundang santri untuk menjawab kuis yang jawabannya mengundang gelak tawa. Alih-alih menghardik atau memarahi mereka yang mengantuk, Jokowi bisa menghidupkan suasana dengan sikapnya yang tidak berjarak.

Continue Reading
1 2 3 86