Partikel; terbang bersama mimpi Zarah

Penantian selama 8 tahun berakhir sudah. Akhirnya setelah proses kontemplasi dan berkubang dalam Bat Cave (menurut istilah Dewi Lestari) akhirnya kita bisa berkenalan dengan Zarah. Salah satu tokoh dalam epos Supernova. Setelah kita tertawa dengan rutinitas kehidupan Elektra, serta mengikuti sisi religius Bodhi, kemanakah Zarah akan membawa kita dengan ceritanya?

Ayah tidak banyak berjanji dalam hidupnya. Aku tahu, ia pasti akan menepati kata-katanya. ~ Zarah (Halaman 51)

Hubungan ayah dan anak menjadi kisah sentral dalam partikel. Sebuah isu yang menjadi sangat emosional bagi saya. Bagaimana hubungan Firas dan Zarah kemudian bersatu dalam keseharian desa Batu Luhur. Terobsesi dengan penelitiannya tentang Fungi, Firas kemudian terkesan tidak perhatian terhadap keluarganya. Apalagi ketika dia mengenal Bukit Jambul. Kepada Zarah lah semua informasi itu diteruskan. Zarah bahkan tidak sekolah!

Persoalan keluarga, drama paling sederhana tapi paling banyak menguras emosi. Sepanjang 500 halaman kita akan mengikuti perjalanan Zarah tentang pencarian. Sebenarnya rasa damai itu berada dimana? Bagaimanakah hubungannya dengan Ibu, dan juga Hara, sang adik? Apakah bentuk fisik kemudian menjadi pencarian terakhir? Apakah memang ada dunia dan eksistensi lain? Pertanyaan inilah yang kemudian berusaha dijawab oleh Zarah ketika suatu saat ayahnya menghilang tanpa bekas dari muka bumi.

(more…)

Drama minggu sore.

Saya menghela nafas panjang. Sesekali tatapan kami bertemu, saya pun berusaha menyamarkan tatapan tidak suka. Beberapa kali pantat saya seperti terkena paku panas. Menggelinjang gelisah. Tangan saya memegang apa saja. Sambil berusaha keras untuk tidak melemparkan benda tumpul atau tajam kepadanya. Telingaku panas, berdesing oleh selorohan ucapannya.

Cukup! Tidak tahan akhirnya saya meninggalkan tempat itu, setelah dia berucap dan memainkan telunjuknya didepan mataku,

“Memang apa masalahnya sampai iPad 3 belum masuk ke Indonesia?”

“Sudah, nanti Mama ke Singapura buat belikan kamu”

“Itu apa namanya? Apa? MacBook? Berapa harga yang paling mahal? 20 juta?”

Bukan, ini bukan skrip sinetron. Saya pun berusaha mencari kamera tersembunyi yang memastikan aktingku sore itu patut diganjar piala citra. Tapi itulah kenyataannya. Pada saat saya ingin menyervis ipod bulukan yang statusnya sudah bekas guna dan dibeli di kaskus. Sepertinya MacStore adalah taman bermain mereka yang memiliki uang berlebih.

Seumur hidup saya tidak pernah merasa ingin menjambak rambut seseorang seperti sore itu. Apa yang membuat geram? Astaga! Anak kemarin sore yang merajuk kepada sang ibu hanya karena temannya semua sudah menggunakan iPad versi termutakhir. Dia merajuk sampai tidak ingin bersekolah. Malu sama teman katanya.

“Untuk apa beli yang sama, kan sudah ada teknologi yang lebih baru lagi”

Sirik? Yah mungkin saya memang sirik. Saya tidak mampu memiliki barang yang dia inginkan. Tapi belum lagi saya selesai menjambak rambutnya, saya lanjut ingin menamparnya,

“Memangnya kenapa di Indonesia belum bisa teknologi 4G? iPad itu bisa dipakai kan? Toko macam apa ini?”

Sekedar catatan, teman saya yang juga pemeran pendukung sebagai penjaga toko sudah menjelaskan bahwa memang barang tersebut belum masuk di Indonesia. Sedangkan mereka tidak menjual barang black market. Toh juga jaringan di Indonesia belum mampu support.

Makanya sekolah yang benar supaya ngerti hal sesederhana itu! Rasanya saya ingin menampar anak itu pakai BTS.
Sementara di luar sana masih banyak anak-anak seusianya yang harus bekerja, putus sekolah dan melanjutkan hidup. Belum lagi mereka yang harus belajar untuk bisa mendapatkan beasiswa, rasanya semua imaji saya tentang dunia remaja hancur seketika. Ternyata memang masih ada (dan banyak) remaja yang masih manja. Hanya membandingkan kepunyaan orang tuanya. Hanya memainkan mode tanpa memperdulikan isi otak.

“Ah, kamu saja yang salah tempat iQko”, sisi sinis saya yang berkata seperti itu.

Mungkin memang saya yang salah tempat. Membandingkan dua realitas yang sangat berbeda. Sesekali saya bertanya, akan seperti apa hidupnya kelak? Ah, biarkan hidup memainkan dadunya sendiri. Saya juga memiliki peran yang lain.

The Avengers; eksekusi komikal yang seru!

Ekspektasi saya naik turun ketika menyaksikan parade superhero jebolan Marvel. Thor ternyata lebih keren daripada Captain America. Belum lagi Hulk yang akan diperankan oleh aktor yang berbeda untuk ketiga kalinya. Lantas apa yang disisakan untuk menikmati The Avengers?

Tidak ada yang bisa menepis bahwa tokoh Thor (Chris Hemsworth), Captain America (Chris Evans), Iron Man (Robert Downey Jr), Black Widow (Scarlett Johanson), Hawk Eye (Jeremy Renner), Hulk (Mark Ruffalo) bahkan Nick Fury (Samuel L. Jackson) mempunyai pamor yang besar. Jadinya menggabungkan mereka dalam satu proyek ambisius sepertinya membawa ketakutan tersendiri. Bagaimana kalau porsi setiap tokoh tidak sama? Bagaimana kalau jadi menonton film ini menjadi sesuatu yang berat? Tidak tahu fokus ke tokoh siapa.

Rapat besar para superhero

Beruntunglah kemudian tokoh Loki (Tom Hiddleston) mengambil titik sentral permasalahan tersebut. Setelah jatuh kedalam black hole di film Thor, Loki kembali. Tentu saja dengan tujuan utama adalah menguasai dunia dan menciptakan sebuah sistem pemerintahan yang baru. Loki adalah tokoh narsis yang beranggapan seluruh dunia harus berpusat kepadanya. Termasuk manusia yang tidak memiliki kemampuan apa-apa.

(more…)

Dreams

sedikit klise, tapi seberapa besar usahamu untuk mengejar impian?
saya baru memulainya. selamat datang Mei :)

Menjajal Kuliner Kantor Pos Besar

Jalan Pattimura, Jalan Balaikota selalu disebut sebagai wilayah kota lama. Mengapa? Saya sendiri menduga karena posisi jalan ini dipenuhi oleh berbagai instansi pemerintahan yang dulunya menjadi pusat kota. Sebut saja kantor walikota dan berbagai dinas lainnya. Belum lagi wilayah pelabuhan, pecinan, taman kota, sampai pusat perbelanjaan emas dan oleh-oleh di jalan Sombaopu.

Satu bangunan yang kemudian menjadi ikonik adalah Kantor Pos Besar. Sebagai salah satu bangunan “penanda” lokasi di daerah ini, beberapa wisata kuliner lekat dengan embel-embel “kantor pos besar”. Apa saja yang bisa dinikmati?

Ada cumi-cumi juga yang bisa dibakar!

Terletak di depan Kantor Pos Besar, depan taman macan, berdiri warung makan yang bisa sangat menggoda iman kala jam makan siang tiba. Bersyukurlah mereka yang berkantor di area ini, karena pilihan makanan yang sangat beragam. Mulai dari warung ikan bakar sampai soto banjar yang sangat terkenal.

(more…)