Dua dunia. Because It’s Me.

“JADI PNS? APA KAMU SERIUS?”

Setidaknya itu reaksi semua orang 2 tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk masuk menjadi abdi negara. Maklum saja, 6 tahun hidup dan bekerja di industri kreatif seperti penyiar radio dan marketing membuat beberapa orang mengernyitkan dahi. Kenapa saya membelenggu diri sendiri pada tatanan formal yang baku sebuah instansi negara.

Koordinator acara Launching Firefox 4 di Makassar

Semua orang memiliki titik pilihannya sendiri bagaimana mereka fokus terhadap hidup. Inilah yang menjadi pilihan saya. Interaksi yang berlangsung bersama teman-teman otomatis berubah. Waktu-waktu produktif yang dulunya dihabiskan nongkrong bersama untuk brainstorming ide, harus berubah. Harus duduk dan menikmati proses administratif yang terjadi.

Pekerjaan setiap haripun tidak jauh beda dengan kesenangan saya. Menjadi bagian dari divisi Humas membuat saya akrab dengan deadline liputan buletin internal kantor, menjadi fotorgrafer dan mengeditnya di photoshop, sampai menjadi master of ceremony. Bisa apa saya tanpa disokong oleh komputer yang mumpuni untuk diajak kerjasama?

Menjadi moderator di Kopdar Blogger Nusantara di Sidoarjo

Ternyata menjadi seorang abdi negara membuat hidup saya menjadi lebih teratur. Menjalani keseharian dengan ritme laiknya seorang tentara. Saya bisa fokus membuat rencana-rencana yang akan saya lakukan. Lantas bagaimana dengan kehidupan sosial? Ternyata ketakutan bahwa kehidupan sosialku akan terputus hanya sebuah ketakutan semata.

24 jam seolah menjadi tidak cukup. Apalagi Komunitas Anging Mammiri termasuk komunitas Blogger yang lumayan aktif membuat acara, baik itu Tudang Sipulung yang berlangsung tiap bulan, maupun event nasional yang membuat nama Makassar masih di notice sebagai salah satu kantong blogger dan penikmat IT terbesar di Indonesia.

Bersama Mawar Lestari menjadi Pemateri di Tudang Sipulung Komunitas Blogger Anging Mammiri
Menjadi pemateri In House Training "Broadcasting" di Kampus Unhas

Pengalaman jadi relawan di Sokola Pesisir, sebuah tempat belajar alternatif untuk anak-anak tidak mampu di daerah Mariso menjadi keseharian pula. Membekali anak-anak tersebut dengan ketrampilan yang mumpuni, agar sewaktu mereka harus bekerja di usia dini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik. Tidak hanya belajar bahasa Inggris, saya mengajarkan mereka bagaimana mengedit foto di photoshop serta bagaimana menggunakan Corel Draw untuk desain sederhana.

Berbekal semua kegiatan itu saya sendiri dituntut untuk bisa bekerja dimana saja, kapan saja. Menyiapkan bahan mengajar, sambil terus menulis jurnal untuk catatan pribadi. Sebagian di upload di blog, sebagiannya lagi sebagai catatan pribadi. Apa jadinya kita tanpa catatan peristiwa? Saya yakin Sony VAIO E seri 14P Powerfull and Energetic mampu menyokong semua kegiatan saya. Dengan layar 14 inchi, menjadikannya praktis untuk dibawa kemana saja. Satu catatan khusus, life time selama 7 jam mampu membuat kita menulis dan bekerja mulai dari kafe sampai ruang tunggu bandara tanpa harus ribet memikirkan pertanyaan abadi kaum urban,

“Colokan listrik, dimana colokan listrik!”

Selain menjadi koordinator kegiatan di semua komunitas, saya masih menyempatkan diri menjadi kontributor di CreativeDisc.com. Sebuah portal musik mancanegara yang membahas review album dan chart mancanegara. Seringnya materi kiriman dari label harus diedit dulu supaya layak dengar dan menjadi susunan playlist yang bagus. Sony Vaio dengan spesifikasi Intel Core i7 CPU dengan AMD Radeon HD 7670M GPU diskrit (VRAM 1GB) mampu menggeber program editing seperti Cool Edit Pro dan iTunes.

Siapa yang berani menolaknya?

Yang membuat saya makin jatuh cinta adalah fitur gesture hand. Hanya berbekal gerakan tangan sudah bisa mengatur slide show, volume musik sampai membalik webpages? Ya, itu semua bisa terjadi dengan teknologi terbaru dari Sony VAIO E seri 14P! Siapa yang tidak suka multitasking? Browsing sambil mendesain, mendengarkan musik dan memeriksa (ratusan) foto? Alamat wassalam kalau masih mengandalkan komputer yang masih dipelihara dari jaman Majapahit bro! Saatnya berkerja dengan lebih praktis dan dinamis.

Kata orang hitam itu misterius. Saya lebih melihatnya sebagai warna yang tangguh. Warna yang tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain. Sejalan dengan warna merah yang tegas. Yang mampu mengemukakan pendapatnya. Mudah-mudahan saya tidak pernah lelah mengeksplorasi kemampuan diri sendiri untuk berbagi. Karena berani itu selalu ada di dalam diri. Berani untuk menghadapi apa saja, berani kemana saja. Mampu menanggung semua resiko yang ada.

Because It's Me, This is my life

Lelahkah saya dengan semua itu? Beberapa teman sering mengeluh, hanya untuk janjian ketemu saja harus buat janji 2 minggu sebelumnya. Itupun syukur kalau bisa lama ngobrol. Saya sendiri hanya bisa tersenyum mendengarnya. Brendon Buchard dalam buku “Life’s Golden Ticket” berkata tidak semua orang diberi kesempatan untuk berbagi. Berkontribusi. Bukankah sebuah pengetahuan akan berarti ketika dia dibagi bersama orang lain? Tuhan memberikan banyak berkat untuk saya, kenapa harus egois menikmatinya sendiri? Because it’s me, this is my life.

You may also like

29.

3 Comments

Leave a Reply