Tulus; potensi besar yang masih tersembunyi

Diantara barisan serapah yang disebabkan oleh makin menjamurnya boyband dan girlband yang tidak jelas, dosa mereka sedikit terampuni. Musik jazzy yang sangat merdu segera menyergap telinga saya ketika pertama kali mendengarnya. Tuan dan Nona Kesepian resmi menasbihkan saya sebagai orang yang sangat menikmati musik Tulus.

Nona jatuh cinta pada tuan
Tuan menunggu yang lain
Nona tak peduli walau Tuan
tak pernah peduli sekitarnya

Nama lengkapnya Muhammad Tulus. Menamakan jenis musik yang dibawakannya adalah eclektik pop yang kental dengan nuansa Jazz. Sebuah genre yang tidak akrab dengan pasar musik Indonesia. Tapi percayalah bahwa musik yang ditawarkan Tulus bisa menemani untuk semua aktivitas dan semua suasana. Terutama dalam keadaan galau maksimal.

Image by http://jazzuality.com

Album debutnya yang berjudul sama seperti namanya dibuka dengan “Merdu Untukmu”. Track ini seakan menjadi penyapa yang terdengar sangat bersahabat untuk telinga. Membuat kita menjadi semakin penasaran, sebagus apakah suaranya? Ternyata efek domino itu terus berlanjut. Tidak hanya satu, tetapi semua lagu di dalam album ini memiliki maknanya sendiri. Ada yang tahu dengan kata Diorama?

Dalam sebuah perbincangan dengan iRadio sewatu Tulus berkunjung ke Makassar, dia bercerita bahwa itulah misi yang diembannya dalam bermusik. Memberikan lirik demi lirik dengan frasa yang tidak biasa. Diorama, Sewindu, hanya beberapa barisan lirik tidak lazim yang ada di beberapa lagu. Jadinya malah terdengar unik. Belum lagi makna bias yang terkandung, membuat kita memberikan imajinasi tersendiri tentang apa yang hendak disampaikan. Siapa yang tidak mendadak galau ketika mendengar Sewindu?

Produksi album ini dibantu oleh orang-orang kreatif. Gitaris band 70’s Orgasm Club, Anto Arief yang memberikan suasana berbeda pada track Teman Pesta. Belum lagi barisan harmonisasi suara Grace Sahertian, Marshella Safira, dan Lukman Hakim sebagai backing vokal membuat beberapa track menjadi terdengar megah. Ari ‘Aru’ Renaldi duduk sebagai produser, pun tidak ketinggalan Riri Muktamar sebagai executive producer. Tulus sendiri menulis semua lirik dan bertindak sebagai co-producer dalam album perdananya.

Beberapa orang mungkin tidak akan merasa familiar dengan musik yang ditawarkan tulus. Terdengar tua? Efek bossas mengingatkan suasana tahun 60 an. Lirik yang tidak biasa membuat semua track menjadi terdengar beda dari musik Indonesia kebanyakan. Debut album yang menjanjikan dari seorang solois pria Indonesia. Salute!

 

You may also like

1 Comment

Leave a Reply