Fragmen 1 babak : Di penghujung rindu

Senja sudah sedari tadi pergi menghilang ke peraduannya. Dia tahu dan dia mengerti. Ada sepasang manusia yang akan bertemu. Dia menyiapkan pekat malam. Sekedar berjaga ketika semburat merah hadir di wajah mereka. Ini adalah pertemuan setelah beberapa bulan lamanya.

Semuanya berlangsung secara sederhana. Hanya sebaris sms berkata rindu dan sepenggal percakapan di pertengahan malam. Sanyup terdengar beberapa tetangga bercakap. Selebihnya hanya heningnya malam. Yang menjadi saksi bahwa memang masih ada ikatan diantara mereka. Masih ada urusan yang belum selesai. Beberapa pesan terkirim kembali. Kali ini berisikan janji untuk bertemu. Dia melihatku. Meminta pertimbangan apakah mereka seharusnya bertemu lagi atau tidak.

Apakah ada yang bisa menahan perasaan rindu yang menyeruak? Seperti menampung air hujan yang tidak hentinya turun. Terus dan terus mengguyur. Belasan jam sebelum bertemu, bahkan dia sudah gelisah. Membiarkan beberapa pekerjaan menjadi tidak tersentuh. Membiarkan angan dan khayal membawanya kepada kenangan yang telah terjadi. Apakah memang semuanya masih akan tetap sama? Tidak ingin mengganggu apa yang sedang bermain di benaknya.

Disanalah dia lagi. Diruang tamu itu. Terpampang beberapa foto yang menandakan silsilah keluarga. Dia masih hapal, siapa-siapa saja yang ada di setiap foto itu. Sejelas kenangannya tentang malam-malam ketika mereka masih bersama.

“Kamu apa kabar?”

Sejenak lidahnya kelu. Apakah kenangan memang musuh bebuyutan yang paling sulit dihindari? Bahkan ketika mereka sudah saling berhadapan, dia tahu, dia tidak merasakan getaran itu lagi. Rindu yang tadinya menyeruak, seketika meruap entah kemana. Hilang menjadi penggalan ingatan yang sensoris saja. Ketika dia menghirup bau rumah itu lagi.

Perlahan percakapan membaur dan berubah menjadi proses tanya jawab yang sedemikian panjang. Bagaimana kabar, sedang jalan sama siapa. Semuanya pertanyaan standar. Sampai pada satu pertanyaan,

“Aku masih ingin balik sama kamu. Menjalani hari seperti dulu lagi”.

Hanya senyum dikulum yang menjadi jawabnya. Mencoba jawaban yang paling tepat. Sedari tadi saya menunggu apa yang terucap di ujung mulutnya. Menunggu jawaban. Saya tahu akan aman bersamanya terus kali ini. Tanpa mengindahkan masa lalu yang ingin masuk kembali ke kehidupannya. Setidaknya dia memastikan bahwa posisi saya tidak akan berganti.
Pelan, malam semakin beranjak larut. Sepertinya ada serpihan rindu yang patah malam mini. Dia kembali ke kamarnya. Menghapus beberapa pesan yang tadinya berasal dari nomor yang sangat dia rindukan. Dia melihatku lagi. Dia menyentuhku. Untuk malam kesekian berhias sepi.

“Close Fit, Safe Protection”. Itulah tulisan terakhir yang saya lihat. Sebelum tangannya menutup rapat laci meja, dan saya akhirnya berkumpul lagi dengan 2 teman yang lain. Di kardus kecil itu.

Continue Reading