Minggu Ke 4

ordinariday

Niat untuk hidup lebih baik sudah ada entah dari tahun berapa. Tentu saja hidup lebih baik ini dilihat dari perspektif yang berbeda. Saya bukan pecinta olahraga. Dari jaman sekolah, inilah mata pelajaran yang paling saya benci. Dampaknya pun menjalar sampai sekarang. Ditengah gaya hidup urban, nongkrong sana sini, makan junk food, begadang, dan itu semua tanpa olahraga? Alamat mati muda.

Saya sendiri lebih tertampar ketika melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh di salah satu rumah sakit. Dari 7 dokter yang memeriksa, ada 2 yang terang-terangan berkata,

“Hati-hati dek dengan bobot tubuhmu. Kamu masih muda, nanti bisa rentan dengan banyak penyakit. Terutama jantung dan gula”.

Dulu, perkataan ini bisa saja saya sanggah. Bisa saya sangkal. Tahu apa dokter itu? Saya dulu biasanya menggunakan tameng faktor genetik atau “sudah dari sononya” untuk menangkis vonis ini. sekarang, rasanya sudah tidak masuk akal lagi. Toh ini demi kebaikan saya sendiri.

Jadi disinilah saya sekarang. Bersama salah satu resolusi teranyar untuk tahun 2011 ini. Minggu ini program latihan saya sudah masuk minggu ke 4. Dan dampaknya? Alhamdulillah sudah turun beberapa angka. Kalau nilai awalnya? JANGAN TANYA!

Tahun lalu sebenarnya saya sudah resmi menjadi atlet renang. Dengan latihan 4 kali seminggu. Perasaan sayapun terasa lebih enak. Tapi, yaaa, namanya niat yang setengah-setengah. Selalu saja ada alasan untuk tidak pergi renang. Mulai dari ajakan nongkrong lah, mau nonton lah, ataupun alasan pekerjaan. Semuanya saling terkait satu sama lain. Padahal alasan utamanya sih malas.

Sebenarnya hal menurunkan bobot tubuh dan hidup sehat ini menjadi sederhana saja. Bagaimana mengatur pola makan dan membakar kalori. Sebuah perhitungan dasar yang anak SD pun tahu. Cuma karena memang dari dulunya sudah malas bergerak, jadi yaaa, olahraga menjadi hal terakhir yang mau saya lakukan untuk meghabiskan hari.

Dulu bobot tubuh saya cenderung stabil karena masih banyak jalan kesana kemari. Jarak dari rumah ke halte untuk mengambil pete-pete kampus berjarak 1 kilometer. Belum lagi kalau kuliah harus ke gedung ini, ke akademik, fakultas, dan seabrek kegiatan lainnya. Jalan kaki menjadi olahraga tetap. Lah sekarang? 12 jam di depan computer, praktis yang bergerak dan menjadi otot hanya jari-jari saja.

Jadi saya memutuskan semuanya harus berubah. Sarapan dan makan malam berubah. Seorang teman menyarankan roti gandum. Ini berhasil. Sekerat roti mampu bertahan sampai siang. Intinya hanya mengurangi karbohidrat. Malam hari pun, hanya mencicip sedikit saja nasi. Selebihnya diperbanyak di sayur dan kalau lapar makan roti itu lagi.

Porsi olahraga pun bertambah. Setiap hari lari selama 30 – 45 menit. Lari pagi, sorenya nge gym, sambil latihan angkat beban. Hahahaha. Terdengar sangat bernafsu? Mumpung semangat terus ada dan mau mencoba. Profesi atlet renang pun dimulai kembali. Rabu dan sabtu sore. Jadi porsi latihannya setiap hari lari 2 kilo, sit up 50 kali, dan banyak menu lainnya.

2 minggu pertama menjadi minggu yang paling berat. Lari pagi berarti keluar rumah stengah 6 kurang, pada saat semua orang masih tidur. Tidak bisa nongkrong di bawah jam 6 lagi, karena saya sudah memplot waktu sore sekarang untuk exercise. Sudah tidak bisa diganggu gugat. Belum lagi tanggapan orang kalau makan, dikurangi sedikit saja, semuanya sudah pada komentar. “Alah gak usah diet, bla bla bla”. Yeah. Keep talking people!

Minggu ini sudah minggu ke empat. Masih panjang hari yang akan terjalani, masih banyak target yang harus tercapai. Tapi satu yang pasti, sekarang tiada hari tanpa olahraga!

Image Credit to Sphinxed

Continue Reading