Stockholm; sebuah babak baru.

Saya selalu tersenyum ketika mengingat perkataan seorang teman dekat,

“You are such a lucky bastard”, perkataan yang dilemparnya sambil bercanda.

Mungkin memang benar iya, ada banyak keberuntungan yang bila dihitung dalam rupiah akan sulit saya jalani dengan gaji pegawai negeri sipil golongan III A. Perjalanan menempuh Pulau Rinca di Taman Nasional Komodo dengan berkendara sebuah perahu Phinisi, menginjak tanah paling timur Indonesia, Merauke, atau menjejakkan kaki di negeri para Viking, Swedia.

mari menjelajah Stockholm!
mari menjelajah Stockholm!

Apa benar semuanya itu keberuntungan belaka?

“Selalu ada doa yang terselip dari ibumu untuk semua hal baik yang terjadi.”

Saya selalu mengingat kutipan yang entah pernah saya baca dimana. Bahwa sebaik-baiknya doa adalah perkataan ibu yang selalu mengingatkan untuk selalu berbuat baik. Melakukan semua hal dengan usaha maksimal. Walaupun konsekuensinya kadang waktu libur pun harus dipakai untuk bekerja. Semuanya berproses dalam hitungan bulan dan tahun.

Salah satu sudut Stockholm University
Salah satu sudut Stockholm University

Jauh dari rumah membuat pikiran saya sering berkelana. Betapa ajaib semua rencana Tuhan dan bagaimana semesta juga ikut berkomplot dalam memainkan perannya. Dulu, ketika pertanyaan “Kapan nikah” dilontarkan, saya selalu berceletuk,

“Insya Allah setelah bekerja, mengantarkan Ibu dan Bapak umrah dengan hasil keringat sendiri, dan kuliah S2 di luar negeri”

Semesta meng-iya-kan. Idiom be careful what you wish for sekali lagi terbukti. Tentu saja untuk hal yang baik. Bahwa cerita baru di Negara Skandinavia ini sebagai jembatan terakhir, untuk sebuah cerita baru yang menunggu di ujung sana. Sebuah pelajaran untuk memulai kembali. Memaknai diri di sebuah tempat yang begitu jauh dari rumah. Jauh dari teman.

menepi sejenak.
menepi sejenak.

Dibalik semua keriuhan mempersiapkan ayo-sekolah-lagi selama satu tahun, pelan saya belajar untuk mengenal diri sendiri. Berjuang bersama langkah kaki yang kadang kala masih tersandung, hati yang masih sering terjatuh dan doa yang tidak pernah berhenti mengalun. Ada 2 tahun menunggu di Negara baru, lingkungan baru, dan teman-teman baru.
Semoga saya bisa menjalaninya dengan penuh semangat.

Drama? Tentu saja ada! Saya akan meneruskan postingan mengenai perjalanan 19 jam Jakarta-Stockholm di lain kesempatan. Selamat akhir pekan!

Continue Reading

Reality bites : galau sekolahan.

Hai halo XD, galau itu dimana-mana emang tidak enak yah. (tiba-tiba datang dan curhat).

Setelah masa 6 bulan Pre-Departure Training yang dilalui dengan penuh perjuangan bersama The Class of Anarchy di dua tempat yang berbeda, sekarang persiapan sekolahnya memasuki fase yang baru, harap-harap cemas akan diterima dimana!

Rupanya banyak orang yang salah paham, berpikir bahwa setelah menerima program beasiswa saya hanya tinggal mengikuti training persiapan selama 6 bulan dan voila! Semuanya beres. Tinggal memilih kampus yang diinginkan. Meh! Maunya sih juga begitu tapi, ternyata realita selalu mengatakan lain XD.

Foto oleh Maria Sjödin
Foto Stockholm oleh Maria Sjödin

Saya masih ingat rasanya pontang-panting mendaftar universitas di bulan Januari (transkrip nilainya mana! Statement of purposenya mana! Grading nilainya mana!). Deadline beberapa universitas di Eropa adalah 15 dan 31 Januari. 3 universitas yang saya incar adalah Stockholm, Goethenburg dan Helsinki. Sebenarnya dulu saya memilih Helsinki sebagai prioritas, dengan major Global Media Communication, tapi gak mungkin berperang hanya dengan 1 pilihan. Jadilah tambahan 2 area di Swedia itu.

Masalahnya adalah.

Pengumumannya ternyata tidak bersamaan.

Continue Reading