[Travelogue] : Bisikan Sunyi Pulau Kelagian

Sesampai di Pulau Kelagian, mata kami segera dimanjakan oleh hamparan pasir putih dan air laut yang jernih. Sejauh mata memandang, hamparan pohon kelapa tampak memenuhi tepi pantai. Terdapat beberapa pondok atau saung kecil di bagian dermaga Pulau Kelagian. Batas saung ini kemudian menandakan area yang bisa dikunjungi. Selebihnya adalah hamparan bukit dan hutan di belakang gunung.

Pulau Kelagian
Pulau Kelagian

Tipologi pulau-pulau kecil yang berada di Kabupaten Lampung Selatan semuanya berupa gunung dengan hutan yang masih sangat hijau dan belum tersentuh. Berbeda dengan pulau-pulau kecil di lepas pantai Makassar yang berupa pulau datar dengan kombinasi pasir putih.

Catatan khusus adalah Pulau Kelagian merupakan pulau yang dijadikan sasaran tembak maupun arena tempur tentara Angkatan Laut. Nah loh! Oleh karenanya pulau ini tidak menjadi tempat wisata yang umum dan dikunjugi oleh kebanyakan orang. Rata-rata mereka memilih Pulau Pahawang Besar yang memiliki akses dan fasilitas yang lebih memadai. Tapi dimana menariknya?

Continue Reading

Gili Story #2 : bagaimana memilih travel buddy.

Sepertinya saya ditakdirkan untuk memilih teman bertualang secara random. Tidak pernah begitu pas, tetapi tidak juga begitu chaos. Semuanya beragam, tetapi pelan-pelan saya mencatat bahwa drama bisa saja terjadi dalam setiap perjalanan. Semua orang pernah melakukan trip rombongan pasti pernah merasakannya. Karena biasanya, dalam setiap perjalanan barulah sifat asli seseorang bisa muncul dengan sendirinya.

the best travel buddy!
the best travel buddy!

Masalah paling sering muncul adalah standar kenyamanan. Inilah patokan yang menjadi tolak ukur bersama yang terkadang susah disamakan. Tapi bisa apa lagi?

Standar kenyamanan inilah yang biasanya menjadi masalah terbesar. Ketika banyak kepala yang berpikir, bisa jadi banyak standar yang tercipta. Apalagi kalau sudah ada yang meneriakkan statement “terserah”, biasanya justru merekalah biang chaos. Karena tidak bisa menentukan apa keinginan mereka.

Continue Reading

#bearbiketrip 3: the cave

Klaustrofobia adalah ketakutan akan ruang yang sempit. Setidaknya itu yang saya dapat dari penjelasan nona Wikipedia. Badan segede beruang takut akan ruang sempit? Menurut ngana? Bagaimana kalau nanti tubuh semok saya nyempil di dinding gua?

Adegan itu yang terus berulang dan berulang dikepala saya. Apalagi ketika mengetahui bahwa rombongan trip #funcaving bersama @jalan2seru_mks akan menginap di mulut gua. Ternyata penderitaan saya belum berakhir. Kami harus mendaki lagi untuk masuk kedalam mulut gua saripa yang akan dieksplorasi.

Beberapa kali kata “crap” keluar dari mulut, berseberangan dengan napas yang semakin terengah. Betis dan paha seolah menjerit, ingin menampar siapapun yang berusaha melucu atau menjadi sok pahlawan dengan membantu. Saya capek! Itu intinya, dan saya membutuhkan bidang datar untuk meluruskan punggung.

Mulut gua saripa

Setelah membiasakan diri dengan keremangan gua, kami pun mengeksplorasi tempat yang dijadikan tempat tidur. Beberapa orang sudah saling terpisah, memilih lokasi favorit masing-masing. Saya, kak Anchu dan Veby memilih bagian tebing yang terletak agak di atas. Berhadapan dengan lubang angin yang jadi sirkulasi dalam gua—yang menyebabkan saya menggigil kedinginan ketika subuh—dan memiliki kemiringan 10 derajat.

Bagaimana rasanya tidur dengan kemiringan seperti itu? Ya, seperti ingin menggelending terus 😐

Continue Reading

#bearbiketrip 2 : the chronicle

“nikmati saja perjalanannya, jangan terlalu fokus dengan tujuannya”

Itu pesan @nandarkeo ketika mendengar saya, kak Anchu dan Veby akan menempuh rute Makassar – Ta’deang dalam rute perjalanan kali ini. Sebelumnya dia menawarkan untuk ikut dalam tripnya mengunjungi salah satu lokasi bersejarah di Pangkep, cuma rasanya kami belum sanggup untuk menempuh kegilaan itu.

Sabtu, 19 Oktober 2012 trip resmi dimulai. Saya sendiri telah mendrop Tantra—polygon estrada 3.0 kebanggaan saya—di Kampung Buku. Dengan memikirkan rutenya bisa lebih hemat ketimbang saya harus menempuh jarak dari cendrawasih. @fadalays turut serta melepas kepergian saya dan Kak Ancu, sambil terharu. Entah karena sedih atau karena geli melihat kegilaan kami. Pitstop pertama, Dinas Kesehatan Provinsi depan gerbang BTP untuk menunggu Veby.

Tantra, Lespo, Tantri

Rute perjalanan dalam kota bisa dikatakan terlalui dengan mudah. Beberapa kali saya melaju dengan menggunakan gigi 2, standar yang digunakan untuk jalanan rata. Suatu hal yang terus bertentangan dengan Kak Anchu yang setia menggunakan gigi 1 untuk segala medan. Beberapa kali saya harus menyamakan ritme dengan kayuhannya, sekadar memastikan dia tidak jauh ketinggalan.

Continue Reading