[Travelogue] : Bisikan Sunyi Pulau Kelagian

Sesampai di Pulau Kelagian, mata kami segera dimanjakan oleh hamparan pasir putih dan air laut yang jernih. Sejauh mata memandang, hamparan pohon kelapa tampak memenuhi tepi pantai. Terdapat beberapa pondok atau saung kecil di bagian dermaga Pulau Kelagian. Batas saung ini kemudian menandakan area yang bisa dikunjungi. Selebihnya adalah hamparan bukit dan hutan di belakang gunung.

Pulau Kelagian
Pulau Kelagian

Tipologi pulau-pulau kecil yang berada di Kabupaten Lampung Selatan semuanya berupa gunung dengan hutan yang masih sangat hijau dan belum tersentuh. Berbeda dengan pulau-pulau kecil di lepas pantai Makassar yang berupa pulau datar dengan kombinasi pasir putih.

Catatan khusus adalah Pulau Kelagian merupakan pulau yang dijadikan sasaran tembak maupun arena tempur tentara Angkatan Laut. Nah loh! Oleh karenanya pulau ini tidak menjadi tempat wisata yang umum dan dikunjugi oleh kebanyakan orang. Rata-rata mereka memilih Pulau Pahawang Besar yang memiliki akses dan fasilitas yang lebih memadai. Tapi dimana menariknya?

Continue Reading

Mencoba hadir

“Kehadiran seseorang itu acap kali memberi semangat yang hendak ditolong. Dengan kehadiran, seseorang bisa bercerita dan acap kali cerita itu mampu membangkitkan api yang hampir padam”

JLEB.

Cuma itu reaksi saya ketika membaca potongan Parodi oleh Samuel Mulia di Harian Kompas, Minggu, 26 Agustus. Kapan terakhir kali kau memberikan sebuah tepukan atau sebuah kabar untuk temanmu?

Image by http://favim.com/image/317102/

Saya sendiri beruntung memiliki teman yang sudah seperti keluarga. Mereka yang bisa saya jadikan tempat pulang, berbagi cerita. Tetapi itu bukan berarti saya bisa melepas semuanya kepada mereka. Mencoba membebankan seluruh unek-unek yang ada di kepala. Setidaknya saya memiliki bahu sejenak untuk menopang.

Continue Reading

Jam karet; sudah menjadi kebiasaan?

Saya tidak ingin membuat stereotipe bahwa semua orang Indonesia memiliki kebiasaan ini, hanya sebagian besar saja (eh). Sebab, kalau mau berkata jujur, apakah anda termasuk orang yang tepat waktu?

Semalam saya dibuat kesal oleh beberapa orang teman. Kami akan ketemuan, ngobrol, sambil makan malam. Rencana awalnya sih sore, karena saya masih memiliki beberapa urusan setelah acara makan tersebut. Setelah konfirmasi sana-sini, akhirnya janjian ketemuan bergeser setelah maghrib. Jadilah saya pikir habis maghrib itu mulai pukul setengah 7 lah yah. Ternyata saya salah. Kesepakatan mengenai waktu ternyata dipahami berbeda. Saya menunggu berapa lama? Satu setengah jam! Ternyata jam 8 itu masih termasuk habis maghrib.

Jam karet, tolong berhenti!

Entahlah apa yang ada di pikiran saya atau teman-teman itu. Siapa yang salah? Semuanya salah. Karena janjian tidak menentukan waktu tepat dan hanya berupa perkiraan. Jam 8 tepat saya memutuskan untuk meninggalkan tempat janjian. Tidak jauh saya berkendara, sebuah panggilan masuk. Mereka rupanya sudah berada di tempat makan. Lah, saya disuruh kembali. Maksudnya apa? Mood saya sudah rusak.

Terdengar kelewatan? Kelihatan jahat?

Continue Reading

Teman.

Entah dimana saya pernah membaca frase seperti ini,

“Orang datang dan pergi dalam kehidupan, hanya teman sejati yang akan tinggal dihati dan menjadi sahabat”

Dan beberapa hari ini frase itu kembali terngiang di kepala. Mengingat beberapa kejadian terakhir memang menyangkut satu kata yang sangat ajaib, TEMAN.

Continue Reading