This place you return to is home.

radioholicz-home

“Apakah kamu tidak merasa sepi di tempat yang begitu asing, dengan bahasa yang tidak kamu mengerti?”

Seseorang pernah bertanya seperti ini kepadaku.

Saya hanya bisa menjawab, mungkin itulah konsekuensi sebuah perjalanan. Ketika ruang-ruang kosong dalam kepalamu tidak lantas menjadi sesuatu yang berisikan kesepian. Saya menganggap tempat ini serupa rumah kesekian. Ada ikatan yang harus dijalankan, dituntaskan, sampai waktu dan perihal lain yang membuat kita berjalan ke arah yang lain.

Sesungguhnya (mungkin) esensi rumah dan pulang itu hanya ada di dalam kepala.

***

I’m not running from.
No, I think you got me all wrong.
I don’t regret this life I chose for me.

Be careful what you wish for,
‘Cause you just might get it all.

— Daughtry ~ Home

Continue Reading

Pulang

Image by http://ssilence.deviantart.com/

Saya tahu, tak semua kisah jatuh cinta berujung bahagia. Namun, berharap merasakan cinta bisa tumbuh tua bersama waktu, juga bukan keinginan muluk.

Cinta adalah sebuah perjalanan yang tidak bisa ditempuh dalam satu atau dua hari. Tidak juga dalam sebulan atau satu tahun. Tak ada peta untuk menemukan tempat bernama cinta. Tak ada buku panduan travelling yang bisa menuntun kita ke sana. Mana ada pula panduan menghemat bujet untuk tiba di sana.

Cinta adalah perjalanan panjang, ia tumbuh bersama waktu dan manusia. Dan ia, tak pernah benar-benar jauh. Selalu memeluk manusia dengan erat. Mengisi celah yang mungkin hanya sejengkal itu. Memberi kita alasan untuk selalu pulang.

Love is “a place” that we keep visiting again and again. It annoys us to no end. And for something like this, we may call it “home”.

Yes. Love is a home for everyone. Indeed.

*** kutipan dari buku Life Traveler oleh Windy Ariestanty. Gagas Media, 2011

Continue Reading