Pariwara Ramadhan.

Ada beberapa hal unik yang bisa menandai bahwa bulan Ramadhan sudah dekat. Ketika beberapa orang melihatnya dari penanggalan Hijriah, yang lainnya menggunakan sarana iklan untuk mengukur waktu datangnya bulan penuh hikmah.

“Sirup marjan sudah 3 kali tayang setiap jeda iklan, bulan puasa pasti sudah dekat.”

Beberapa komentar sejenis pun muncul di beberapa kanal sosial. Bukan hanya produk sirup saja yang menjadi penanda khas, Trivia (1) bahkan membuat list produk apa saja yang akan membuat konten khusus Ramadhan. Sebut saja penyedia jasa telekomunikasi, obat kumur dan obat maag, sarung, vitamin penambah daya tahan tubuh, sampai mie instan.

Tampilan cerita iklan salah satu pusat perbelanjaan
Tampilan cerita iklan salah satu pusat perbelanjaan

Dalam ilmu periklanan ataupun marketing, tentu saja hal ini tidak bisa dilewatkan begitu saja. Mengapa? Tampilan visual yang mendukung akan menjadi daya jual utama sehingga seseorang merasa membutuhkan produk tersebut selama menjalani puasa.

“Ah, kok rasanya lemas yah kalau tidak meminum suplemen ini.”

“Iya yah, gak perlu ribet masak sahur kalau ada mie instan yang bisa cepat saji.”

Faktor keterikatan akan aktivitas keseharian tetap menjadi jualan utama para pengiklan. Tapi kali ini hadir dengan nuansa lebih istimewa. Apalagi mengingat mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. Voila! Sebuah ceruk pasar yang tidak bisa disepelekan. Momen ramadhan menjadi kesempatan memintal kembali persahabatan atau komunikasi yang terputus ataukah pakaian baru untuk beribadah.

Continue Reading

5 hal yang paling dirindukan dari suasana Ramadhan di Indonesia.

Foto pisang ijo sampai reuni angkatan hanyalah 2 hal yang paling saya rindukan kala berpuasa di Stockholm. Siapa yang bisa menolak irisan pisang yang berpadu dengan aroma pandan, saus santan dan sirup DHT yang fenomenal itu? Saya hanya bisa mengurut dada dari belahan dunia yang sangat jauh dari Makassar.

radioholicz-ramadhan--1

Melewati pertengahan Ramadhan banyak perasaan yang bercampur aduk dalam dada. Makna Ramadhan tahun ini adalah tentang sebuah perjuangan ketika diri sendiri yang benar-benar yang bisa diandalkan. Tidak ada nyanyian kelompok ibu-ibu pengajian selepas adzan maghrib di televisi, pun tidak ada semrawut kota ketika jam 5 sore tiba. Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat saya sangat rindu dengan suasana bulan puasa di Indonesia.

Continue Reading

Cerita Ramadhan dan matahari yang tidak pernah terbenam.

Tanganku sibuk memilah dan memperhatikan setiap foto Summer Soltice dari seluruh penjuru dunia. Di negeri 4 musim rasanya musim panas adalah favorit semua orang. Ketika mereka bisa menikmati sinar matahari sepanjang hari atau bahkan sampai sepanjang malam. Stockholm pun tidak pernah beranjak gelap gulita. Waktu paling gelap hanyalah serupa rembang petang bahkan ketika jam menunjukkan pukul 12 malam. Mereka bersuka cita menyambut sinar matahari yang seolah tidak pernah tenggelam. Bagaimana rasanya berpuasa di musim seperti itu?

Menara masjid besar Stockholm
Menara masjid besar Stockholm

Beberapa orang mengatakan saya tidak beruntung. Mengapa memutuskan datang berkuliah pada tahun ini. Seandainya bulan Ramadhan jatuh pada bulan Desember atau Januari, maka tentulah saya yang paling diuntungkan. Bisa-bisa puasa hanya 5 sampai 7 jam saja. Tapi sejak kapan sebuah ibadah menjadi faktor hitung-hitungan?

Continue Reading

Ramadhan Tahun Ini.

Selalu ada kejutan menarik yang disediakan Ramadhan untuk saya. Sesuatu yang khas. Seperti bau udara ketika subuh, atau bau tanah sestelah hujan. Memori kolektif yang memacu berbagai kenangan tersendiri. Ramadhan selalu memberikan pelajaran. Kali ini saya belajar bersamanya.

Entah karena menghabiskan hari pertama puasa diatas Commuter Line dari Kalibata ke Gambir, membuat saya berpikir bagaimana rasanya Ramadhan jauh dari rumah, jauh dari orang tua. Padahal tahun lalu saya menikmati banyak sesi bepergian (dalam rangka tugas) ke banyak tempat, tapi kali ini berbeda. Saya tidak menikmatinya.

image by http://icnarelief.org

Manifestasi perasaan tersebut memuncak pada hari-hari awal puasa. Saya tidak kemana-mana. Saya lebih nyaman buka puasa di rumah, ngobrol sama ibu dan bapak. Padahal waktu-waktu sebelumnya bisa dikatakan jumlah hari saya buka puasa dirumah. Pasti kebanyakan kumpul sama teman inilah, sama geng itulah.

Ada ritme ketenangan melakukan ibadah ketika di rumah. Menikmati alur waktu yang berjalan. Saya ingat tahun lalu saya memaksa diri dan merasa terpaksa melawatkan hari. Saya membeli banyak buku dan membacanya terus dan terus. Saya tinggal di kantor, browsing sana sini, sampai dirasa waktu cukup untuk sampai rumah dan berbuka puasa.
Saya bersyukur tahun ini berbeda.

Saya menikmati sore ketika anak-anak ramai bermain di halaman rumah.

Saya menikmati sore dengan bersepeda keliling kota.

Saya menikmati sore dengan membuat rak buku dan rencana merombak kamar.

Saya menikmati sore dengan membaca Al Quran.

Sampai di titik saya berkata,

“Allah sangat sayang kepada saya”

Ramadhan hadir dengan riuh dan semangat pelajaran. 3 tahun yang lalu, tulang belikat saya patah. Ramadhan menyembuhkannya. Diberinya saya hati yang lapang untuk melewati hari demi hari. Saya merindukan saat seperti itu. Ketika kita menikmati entitas kita sebagai manusia, individu yang bisa berpikir akan seperti apa hidup ini berjalan? Maklum saja, 2 tahun terakhir membuat semuanya berjalan cepat. Sangat cepat malahan. Tidak banyak pertanyaan-pertanyaan hidup yang terjawab. Semuanya terbawa dengan semangat duniawi yang melekatkan diri pada beberapa hal yang tidak esensial. Padahal Tuhan adalah tempat kita semua pulang kelak.

Kadar keimanan manusia naik turun. Tergantung kepada kita bagaimana melalui hari. Saya sering berkata, bahwa memang kemapanan dan kesenangan adalah ujian saya yang terberat. Saya sering merasa kalah terhadap diri sendiri dan keinginan duniawi. Ramadhan membantu saya membentuk diri, melawan fase-fase penolakan dalam mengingat Tuhan. Beberapa Shalat terkadang bolong, beberapa telat waktu. Tapi saya berusaha memperbaikinya setiap hari.

Tulisan ini hanyalah pengingat bagi diri sendiri. Ketika lupa dan tinggi hati datang menyerang, cobalah ingat bagaimana rasa damai ketika lidah melantunkan ayat suci Al Quran. Bagaimana nikmatnya bersujud di malam hari. Bagaimana nikmatnya mengendalikan hawa nafsu dan menjadikan diri sendiri sebagai manusia yang utuh. Allah memang baik, dan Ramadhan kali ini terasa lebih berarti.

Continue Reading