Fragmen 1 babak di sebuah kedai donat waralaba

Pelan-pelan perempuan itu menjentikkan abu di ujung puntung rokoknya. Sesekali tertawa lepas memamerkan senyum indah. Tidak salah memang, wajahnya masih sangat rupawan. Dengan seorang anak perempuan yang asyik memainkan handphone di genggamannya, perempuan itu tetap terlihat rupawan. Saya menebak umurnya sekitar 35 tahun. Sebuah usia yang matang. Sebaya dengan para pria yang menemaninya berbincang.

Dari cara mereka berbincang, saya bisa menebak bahwa ini adalah sebuah reuni. Mengulang cerita masa lalu, sambil sesekali menyesap kopi yang telah mereka pesan. Beberapa piring donat pun sudah tandas. Menyisakan beberapa tisu bekas yang terletak di atas piring. Ada nuansa keakraban disana. Sebuah topik tentang investasi dalam bentuk emas sempat tertangkap. Sepertinya seseorang dari mereka adalah seorang pemain investasi. Sejenak perhatian tertuju kepadanya, termasuk sang perempuan dengan sorot matanya yang ingin tahu lebih banyak.

Tidak jauh dari mereka, tampak dua orang lelaki yang sedang asyik dengan dunianya sendiri. 2 gelas tinggi minuman juga sudah terhidang didepan mereka. Tetapi aksesorisnya tidak hanya sampai disitu saja. Sebuah koran terbitan terbaru dan sebuah communicator terletak di tangan masing-masing lelaki itu. Entah apa yang ada di dalam kepala mereka. Duduk berdampingan, dengan dunia yang saling menjauh satu sama lain.

Tawa lepas perempuan itu menyita perhatian saya kembali. Tidak hanya itu saja. Kedua lelaki itu pun, sempat menoleh dari depan communicator serta koran yang dibacanya. Sang anak telah beraksi. Dengan lihainya dia mengambil gambar sang perempuan beserta teman laki-lakinya. Semua orang tertawa. Semua orang memuji sang anak. Bahwa dia mungkin telah memiliki bakat menjadi seorang fotografer dari awal.

Tetapi bukan hanya saya dan kedua lelaki itu saja yang menoleh melihat tingkah sang anak. Sepasang mata pun mencuri perhatian. Mereka yang nada bicaranya sedikit meninggi, seketika tersenyum. Entah apa yang membuat sepasang manusia ini bertengkar. Tetapi sebuah tempat yoghurt dan sebuah donat tiramisu telah menjadi saksi mereka. Menjadi telinga dari apa yang mereka pertengkarkan. Saya pun hanya mendapat porsi terakhir drama mereka saja. Atau mungkin saya tidak perlu tahu. Bisa saja nasib saya akan sama dengan seporsi yoghurt atau sepotong donat itu. Mengetahui sebuah rahasia tapi kemudian menghilang selamanya.

Pelan, kuturunkan volume lagu yang terputar ditelingaku. Sambil melihat bahwa seorang anak berbaju merah telah kembali ke depan kasir kedai donat waralaba ini. Dia tadi juga tiba-tiba berada disampingku. Sekarang dia mencoba orang yang berbeda. Setelah saya tidak mampu menarik perhatiannya. Taktiknya tetap sama. Berdiri di depan kasir sambil menodongkan sebuah buku zikir untuk dibeli. Ada apa dengan hal ini? Seorang anak dengan sandal crocs abal-abal, bercelana jins, dan dengan potongan rambut semacam anak band, kemudian menodong beberapa rupiah dari pengunjung kedai. Apa yang salah sebenarnya?

Setelah sesi foto bersama, akhirnya kumpulan itu membubarkan diri. Setelah sejanak cipika cipiki, semuanya saling mengucapkan selamat tinggal. Sambil menitip pesan untuk saling berkomunikasi. Sepasang remaja disampingku pun tampaknya masih betah berbincang tentang masa depan hubungan mereka. Kedua lelaki itu masih asyik dengan dunianya sendiri. Pelan saya membereskan semua barang saya, sambil memperhatikan bahwa sang anak telah pergi dari depan kasir. Saatnya pulang.

Continue Reading