Monday Jazz Round-up

Hari yang panjang, presentasi yang berantakan, materi final tinggal seminggu lagi. Bagaimana cara menutup hari? Tentu saja dengan suguhan musik jazz yang memikat.

Fasching Entrance
Fasching Entrance

Senin adalah hari yang panjang. Begitu pula senin yang lalu. Dengan 4 mata kuliah, serentak di hari yang sama. Setelah kelas selesai, saya bersama Maddy dan Anni-Amelia berencana untuk mengitari bagian selatan kota. Tidak sengaja saya mendengar mereka bercerita tentang masjid dan kawasan muslim di kota, saya kemudian bertanya dan minta sekalian diantar. 😀

Continue Reading

Maybe Tomorrow

MaybeTomorrow

I look around at a beautiful life
For been the upper side of down
Been the inside of out
But we breathe

So maybe tomorrow
I’ll find my way home.

(Stereophonics ~ Maybe Tomorrow)

just when you realized, there’s something must be ended.

Continue Reading

Mereview dengan hati. (2)

Tulisan ini awalnya untuk sebuah kelas menulis bersama yang meminta saya sedikit bercerita bagaimana menulis review musik. Ditambah lagi pertanyaan di milis blogger Makassar Anging Mammiri, bagaimana cara menulis yang baik. Tulisan pertama bisa dilihat disini.

***

Inilah yang menjadi batasan awal. Kita senangnya mereview musik seperti apa? Genrenya apa? Pop mainstream kah, Hip Hop, Jazz, atau Rock. Keterbiasaan mendengarkan musik kesukaan akan memudahkan kita untuk mencerna lapisan demi lapisan suatu lagu. Instrumen yang digunakan, sampai apakah suatu lagu menggunakan suara 2, suara 3, sampai barisan choir pada barisan vokal.

Awalnya review musik akan berjalan lancar kalau semuanya karena rasa suka. Alasan profesional? Yah berarti harus meluangkan waktu untuk mendengarkan lebih banyak lagi jenis musik.

Dalam setiap rilisan baru biasanya seorang artis akan menampilkan sesuatu yang baru. Coba tengok bagaimana album terdahulu seorang artis. Metode perbandingan ini bisa dimunculkan ketika menyimak “warna” baru pada setiap rilisan. Sama seperti musik Linkin Park yang menampilkan sound elektronik yang sangat kental pada album A Thousand Sun (2010), tapi di album Living Things (2012) soundnya kembali pada era awal kemunculan musik mereka. Hal ini bisa menjadi dasar review. Mengapa mereka merubah jenis musiknya? Evolusi apa yang mereka capai? Apa ekspektasi penggemar mereka? Bagaimana proses kreatifnya?

Continue Reading

Mereview dengan hati. (1)

Tulisan ini awalnya untuk sebuah kelas menulis bersama yang meminta saya sedikit bercerita bagaimana menulis review musik. Ditambah lagi pertanyaan di milis blogger Makassar Anging Mammiri, bagaimana cara menulis yang baik. Saya mempublish tulisan ini dalam 2 bagian, dan semua review musik saya bisa dilihat di Creativedisc.com.

***

Ketika banyak orang yang bertanya bagaimana caranya membuat review atau resensi tentang musik. Maka saya cuma bisa menjawab, dengan menggunakan hati. Bukankah sesuatu yang memang kita senangi bisa dengan mudah kita deskripsikan dengan jelas?

Apa mau dikata, hidup selama 6 tahun di radio membuat telinga saya menjadi lebih toleran terhadap semua genre musik. Walaupun semua ada eranya masing-masing. Ada masa di mana Missy Elliot, Jay Z, Ying Yang Twins pernah menjuarai playlistku. Sampai telinga saya berubah ke taraf cadas dimana Slipknot dan Deftones menjadi santapan sehari-hari. Rrr, lantas bagaimana menulis review musik yang apik?

image by http://observando.net/page/57

Ya itu tadi, bagi saya kesenangan terhadap suatu musik adalah suatu keharusan ketika ingin membuat satu deskripsi yang jelas. Biasanya untuk musik-musik baru, saya mendengarkan 7 sampai 8 kali sehari. Masuk dalam playlist utama di ipod, atau bahkan memutarnya secara single playlist seharian penuh. Apakah sesporadis itu?

Continue Reading