Janji.

Saya percaya janji yang paling tinggi tingkatannya adalah janji kepada diri sendiri. Mengalahkan janji kepada yang lain. Dalam taraf apa kita bisa mengukurnya? Tentu hal ini menjadi sangat subyektif. Bukankah janji kepada diri sendiri menjadi ukuran personal?

Mereka bilang, janji kepada orang lain gampang terlupa. Serupa jalinan benang yang tidak erat. Bagaimana janji bisa berupa simpul yang mudah meregang, dan terlepas. Siapa yang harus disalahkan? Tidak ada. Tapi mungkin akan menihilkan kesempatan untuk membuat satu simpul lagi, dengan orang yang sama di keesokan hari.

Bagaimana dengan janji kepada Tuhan? Ah itu urusan vertikal. Bukankah kata orang dalamnya hati siapa yang tahu? Jangan sampai kemudian kita terjebak pada simbolisasi pragmatis orang-orang yang dijanjikan bahagia dunia akhirat.

Happy for you sist,

Jadi apa yang bisa saya katakan? Barangkali memang janji kepada diri sendiri yang merupakan kasta tertinggi. Janji untuk membuat diri sendiri bahagia. Mencari kebahagiaan hakiki.

Bukannya saya mau terjebak pada stigma masyarakat. Mereka bilang, bahagia setidaknya bisa dicapai dengan bantuan orang lain. Mungkin saya akan mencoba lagi mempercayai ini. Bahwa bahagia ada di beberapa ruas senyum orang lain. Atau bisa dengan jemari yang saling menggenggam, melewati hari. Merubah sepi menjadi semi yang membuncah. Setiap hari.

Hari ini dua orang mengikat janji. Tidak main-main. Mereka ingin sehidup semati. Hari ini saya meneguhkan hati lagi. Mencoba memperbaharui janji kepada diri sendiri. Bahwa bahagia untuk semua orang. Bahkan untukku, suatu hari nanti. Pasti.

Untuk Echy dan Fuad yang hari ini menikah, yakinlah bahagia selalu menemani.

Continue Reading