Life Traveler; ketika perjalanan bukan hanya tentang tujuan.

life-traveler

Saya hanya bisa menarik nafas lega ketika menutup lembar teakhir buku Windy Ariestanty yang berjudul Life Traveler. Dari sekian banyak kumpulan trik dan tips mengenai bepergian, apakah ada yang menyampaikannya dengan penuh rasa seperti buku ini?

Windy mengajak kita berpetualangan menyusuri Vietnam, Praha, sampai ke O’Hare. Menggambarkan bahwa telah banyak tempat yang dia jejaki di muka bumi. Apa persamaan dari semua daerah tujuan itu adalah dia mampu menceritakan detail suasana yang ada. Bagaimana suasana pagi di Seam Reap, menikmati keheningan dari pasangan yang hanya duduk diam di taman. Kita bisa masuk kedalam atmosfer yang terbangun didalamnya.

… because travelers never think that they are foreigners

Saya mengingat perkataan Nurhady Sirimorok sewaktu menjadi mentor saya di Penelitian untuk remaja,

“lepaskan semua atribut kekotaanmu. Lepaskan semua justifikasi. Membaur dan hiduplah dalam sudut pandang orang desa”

Tujuannya apa, karena terkadang kita merasa “berbeda” ketika masuk ke tempat yang baru. Merasa asing. Bahkan terkadang merasa sok keren. Belum lagi biasanya bahasa menjadi kendala utama. Bagaimana kalo kita kemudian tersesat? Padahal sejatinya, hal ini jangan dijadikan penghalang untuk bertualang.

Continue Reading