Dari kandang paksa ke kancah nasional.

Menulis membantu saya mengingat detail kejadian. Sedang dimana dan bersama siapa. Entah salah apa ikan mas koki sehingga disamakan dengan mereka yang sumbu ingatannya selalu pendek. Tapi terkadang isi kepala yang begitu random dan kompleks membuat semua hal harus dikeluarkan segera.

mereka yang menjadi keluarga :')
mereka yang menjadi keluarga :’)

Kalau tidak, ya gila.

Saya sudah lupa kapan pertama kali saya berinteraksi dengan komunitas Anging Mammiri. Rasanya sewaktu kafe baca Biblioholic berada di rumah besar. Beberapa kali meeting AM dilaksanakan disana, dan saya masih sok cool. Dengan pura-pura jual mahal tapi penasaran juga. Siapa sih mereka ini?

Continue Reading

Cerita dari Makassar Traditional Games Festival 2012

Persiapan saya pada hari minggu, 28 Oktober sudah sedemikian matangnya. Ditemani angin sepoi-sepoi dan bayangan pohon yang begitu teduh, saya menikmati berlembar-lembar novel Book of The Lost Things. Memindahkan konsep piknik dan menikmati minggu siang, pikiran saya sempat terlempar dan bermain bersama keseharian David dan buku-bukunya. Sampai satu pertanyaan membuyarkan seluruh konsentrasi,

“Kak iQko nanti mau main apa?”

Itu pertanyaan dari Januar. Salah seorang penggiat komunitas di Makassar. Siang itu dia tampak bersemangat untuk membuat garis permainan Asing. Tampak di tangannya meteran, tali, sampai kapur yang digunakan sebagai penanda. Senyum khasnya selalu nampak, mengalahkan terik matahari yang hampir mencapai ubun-ubun kepala.

Ma’asing dan Ma’santo 😀

Dia bersama beberapa panitia dari @jalan2seru_mks menjadi koordinator permainan yang akan dimainkan sampai sore nanti. Di sudut lain ada yang sibuk membuat lubang untuk ma’cangke, ada pula yang membuat garis untuk ma’santo. Riuh rendah suara tawa selalu terdengar, ketika satu persatu para undangan datang. Mereka tersenyum melihat berbagai permainan yang sudah siap untuk membawa mereka ke masa lalu.

Siapa yang bisa menolak kenangan?

Continue Reading

Mereka yang saya sebut rumah.

Saya selalu mengingat turning point ketika pertama kali mengenal komunitas. Mengenal riuhnya kebersamaan, bagaimana mensiasati perbedaan, menyelesaikan konflik, sampai pada batas terakhir, bagaimana menerima diri sendiri. Apa adanya.

Menyebut kata introvert, mungkin banyak orang akan mengernyitkan dahi. Memasang muka tidak percaya kalau saya mengatakan sifat ini melekat sampai awal 2005. Saya? Dengan semua barisan komunitas yang saya huni? Percayalah, masa SMP dan SMA membuat saya tenggelam pada perasaan rendah diri. Pasalnya, masa itu saya tidak bisa mengekspresikan diri. Belum menemukan teman sealiran. Saat semua orang membahas Counter Strike atau Sepak Bola, saya malah sibuk mencerna single terbaru Linkin Park atau Blur. Jadilah saya menjadi makhluk anti sosial. Hanya berinteraksi seadaanya.

Perjalanan bersama Ininnawa

Pengalaman melarikan diri dari kerumunan kampus inilah yang ternyata membawa saya kepada satu komunitas yang keren. Setelah sekian minggu berdiam diri di pojokan kafe buku Biblioholic –ya, ketika tidak ada mata kuliah, saya keluar kampus dan ke kafe buku ini—saya akhirnya memulai interaksi dengan para penggiat Ininnawa. Salah satu hal yang membuat saya senang berada disana adalah kebersamaan yang begitu hangat, tanpa terlalu banyak mencampuri urusan personal. Mereka tidak pernah bertanya mengapa saya ada di kafe buku itu dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, misalnya.

Continue Reading

Geliat baru Komunitas Sketcher Makassar

Niat menghabiskan minggu sore dengan nongkrong di Benteng Rotterdam bersama para perajut ternyata mengenalkan saya kepada satu komunitas lain. Mereka yang memainkan pensil dan pulpen membuat garis dan arsiran. Menangkap momen yang ada dan menuangkannya dalam bentuk sketsa.

Sore itu saya berkenalan dengan Anggi. Perempuan bertubuh mungil dan berambut sebahu. Dia menjelaskan bahwa komunitas sketcher ini bergeliat lagi setelah beberapa saat vakum. Sebetulnya menggambar sketsa telah masuk di Makassar sejak tahun 2009. Tapi karena kesibukan sang ketua terdahulu, komunitas ini sempat terhenti berkumpul dan sharing. Kini di tangan Anggi dan beberapa orang, mereka ingin mengenalkan lagi sketsa kepada masyarakat Makassar.

Sesi foto bersama

Apakah sulit untuk menggambar sketsa? IYA! Beberapa orang mungkin akan mengiyakan juga pertanyaan tersebut. Maklum saja, pengalaman menggambar saya termasuk kelas cetek. Terpatron dalam ingatan pola yang paling sering digambar adalah : pemandangan dengan dua gunung, matahari di tengah-tengah, jalan yang semakin membesar entah dari tengah atau ujung gunung, serta barisan sawah yang menghijau. Selebihnya? Tidak ada yang bisa dibanggakan.

Continue Reading