Kepada M, tentang Nakata dan perjalanannya.

Halo M, apa kabarmu? Saya membayangkan bagaimana kamu menyambut parade perasaan yang berdatangan di bulan ini. Sebuah bulan penuh harapan yang sudah sepantasnya kau dapatkan dengan semua perjuangan dan pilihan-pilihan yang yang dirimu buat. Sampai setinggi harapan bisa diandalkan?

radioholicz-kepadaM-maret

Percaya atau tidak, saya selalu berpikir bahwa semesta memiliki caranya sendiri untuk bekerja. Seperti kutipan dari buku Sang Alkemis milik Paulo Coelho yang menjadi buku wajib semua mahasiswa baru yang mencari jati diri. Masih ingatkah kamu pada masa-masa itu? Ketika pilihan kita hanya sesederhana bagaimana mengerti alur pikiran dosen yang menjejali dengan teori dasar jurnalistik sebagai modal dasar untuk menjadi jurnalis, ataupun konsep dasar statistik untuk mengukur bahwa semua bilangan pembagi akan menjadi penentu dari berbagai kemungkinan.

Padahal hidup itu adalah sebuah awal dan ekstraksi dari semua kemungkinan-kemungkinan. Dari yang paling masuk akal sampai di luar batas nalar sekalipun.

Mungkin kamupun sudah mengetahuinya, pilihanku untuk berjalan sejauh ini adalah sebuah perjalanan untuk mencari jawaban. Saya harap pertanyaannya akan semudah pertanyaan 4 ditambah 4 sama dengan berapa. Jangan menyambutnya dengan sempat tidak sempat harus dibalas, guyonan itu rasanya sudah harus masuk musium sejarah. Toh ujian kita tidak lagi sesederhana itu.

Continue Reading

Kepada M, cerita penghujung Januari (lagi).

Oh, Elise, it doesn’t matter what you say
Just can’t stay here every yesterday
Like keep on acting out the same, the way we act out

Every wait is smile, forget
And make believe we never need it anymore than this
Anymore than this

Sense Field โ€“ A Letter to Elise

radioholicz-dear-m-penghujungjanuari

Halo M, apa kabarmu? Januari sudah berakhir lagi dan kali ini mungkin saya takut melepasnya. Kenapa? Rasanya semakin aneh menyadari begitu cepat waktu berjalan, seperti ada yang tercuri ketika kau melihat ke belakang dan belum melakukan apa-apa, sementara Februari sudah berada di ujung telapak kaki.

Kenapa kita selalu ingin hidup di waktu kemarin? Ketika semuanya terasa baik-baik saja, hidup yang penuh dengan rasa aman. Setiap saya membayangkan hal ini saya bergidik sendiri, M. Bagaimana mungkin sejauh ini saya berjalan hanya untuk menyadari bahwa hidup adalah bilangan ketidakpastian yang menjuntai di masa depan. Pikiran-pikiran itu ternyata masih selalu datang, pada malam-malam panjang dimana saya hanya bisa tercenung di depan jendela sambil melihat butiran salju yang jatuh.

Continue Reading

Kepada M, selamat tahun baru!

Selamat memulai tahun yang baru lagi, dear M. Rasanya aneh yah tahun lalu kita masih sempat bertemu untuk berbicara, saling membandingkan dan menertawakan resolusi masing-masing. Sekarang saya membayangkan dirimu, berada di lantai kesekian kantormu sambil melihat kota kita yang basah. Tahun ini kita berada di dua tempat yang sangat jauh, semoga hatimu tetap hangat menyambut hari yang baru.

wise man said
wise man said

Melihat teman-teman di Indonesia memikirkan hari libur, saya menjadi gregetan sendiri. Maklum saja, saya lalu membayangkan bagaimana keadaan kantor, ketika semua orang ingin cuti bersamaan. Semuanya akan mengeluarkan jurus mautnya. Hahahaha, sementara saya disini sudah libur sejak pertengahan Desember lalu.

Manusia memang selalu aneh yah M, gamang di waktu-waktu yang tidak jelas. Rasanya minggu terakhir Desember adalah saat paling rapuh dan aneh menurutku. Entah mengapa runtutan pikiran membawaku kepada hal-hal aneh, bahkan saya sampai tidak mengenali diriku sendiri. Saya memaksa diriku untuk membandingkan dengan orang lain, sejauh mana prioritasku, apa yang telah saya lakukan sampai saat ini, dan saya tiba pada titik saya kecewa pada diri sendiri.

Continue Reading

Kepada M, tentang Desember.

Holla! Desember sudah hampir berjalan separuh dan saya baru sempat menanyakan kabarmu. Syukurlah dirimu menyukai Eleanor and Park, saya membayangkan wajahmu bersemu merah ketika membaca halaman demi halaman.

Hotorget; yang dipenuhi lampu ketika malam tiba
Hotorget; yang dipenuhi lampu ketika malam tiba

Stockholm di bulan Desember masih sedikit hangat. Suhu harian berkisar 2 sampai minus 5 derajat. Kata orang lokal, suhu seperti ini masih terllau hangat untuk salju putih yang selalu kita lihat di televisi. Apakah rasanya akan sesuai dengan ekspektasi?

Entahlah M. Setiap orang menanyakan bagaimana saya menyiasati dengan semua perbedaan dan perubahan yang terjadi ke negara tropis ke negara setengah kutub, saya juga bingung harus menjawab seperti apa. Sudah berulang kali rasanya saya menjelaskan bahwa saya sudah meninggalkan semua prasangka dan semua ekspektasi sebelum berangkat ke Stockholm. Sebelum semua impian dan harapan tidak sesuai dengan kenyataan.

Continue Reading