Superman.

Seberapa sering seseorang menumpahkan alasan masa lalu sebagai tameng? Ketika semua hal baik dan utamanya banyak hal buruk yang terjadi. Semuanya menjadi manifestasi pengalaman yang berjalan linear. Lantas, bukankah seseorang mampu menciptakan jalan hidupnya sendiri?

Semua orang pernah melalui titik kulminasi. Menyalahkan Tuhan dan masa lalu untuk semua hal yang dialami. Been there, done that. Saat berada di titik terendah, dimana pikiran-pikiran liar bisa sangat meraja. Sebutkan salah satu keinginan terliar kalian dalam hidup. Keinginan saya? Untuk mati dan pergi saja.

I can’t stand to fly
I’m not that naive
I’m just out to find
The better part of me

I’m more than a bird
I’m more than a plane
I’m more than some pretty face beside a train
And it’s not easy to be me

Image by http://nanya.deviantart.com/

Ketika semua orang berkata, saya sangat beruntung berada di posisi ini. Punya kerja, komunitas yang selalu mendukung, teman yang banyak. Setidaknya itu yang terlihat. Saya selalu menganalogikan isi kepala saya sebagai tata surya. Apakah benar yang kalian lihat itu matahari? Ataukah hanya sampai di Uranus saja? Atau bahkan kalian tidak mengenal saya sama sekali? Pertanyaan yang sekali waktu juga pernah singgah. Saya siapa sebenarnya?

Continue Reading