Percakapan pertama dan terakhir.

Sebuah percakapan bisa dimulai dari sebuah ketertarikan. Apa yang bisa kau uji dan cari dari lawan bicaramu. Apakah sebuah pertemuan akan berakhir menyenangkan, ataukah kita hanya menjadi 2 manusia dengan balon pikiran masing-masing. Menjadi individu yang berbeda isi kepala.

Setelah 2 kali berpindah tempat, akhirnya kami memutuskan untuk singgah di sebuah kafe di bilangan wilayah Lasinrang. Sayup-sayup suara Sarah MacLachlan bersenandung sewaktu kami hendak duduk. Kami sontak berujar dan menyebutkan nama yang sama. Tidak lupa menyebutkan Angel sebagai lagu paling terkenal dari sang penyanyi. Sebuah intro yang menyenangkan, mengetahui bahwa selera musiknya lumayan.

Matanya menelusuri barisan menu yang ada. Memilih apa yang hendak dicicipi, sambil sesekali bertanya bahan dasar makanannya. Akhirnya dia memilih saya Avocado Frappucino dan saya memesan hot chocolate. Setelah serangkaian makanan yang masuk di lambung selama seharian tentu saja saya tidak mau terlihat bodoh, kalau saja sang perut nanti berkhianat. Kami memulai pembicaraan dengan pertanyaan standar, kerja dan menetap dimana, makanan favorit, dan rahasia mengapa dia terlihat begitu menarik.

Percakapanpun semakin mengalir. Diantara lalu lalang suara kendaraan yang sesekali terdengar, dia berbicara tentang masa lalunya, tentang kuliah, kerjaan dan pengkhianatan yang dialaminya. Saya hanya sesekali menanggapi dan berbagi beberapa pengalaman yang sama. Bagaimana sebuah persoalan asmara bisa menjadi pelik karena satu dan lain hal. Banyak orang bilang bahwa tabu membicarakan mantan pada pertemuan pertama, tapi entah siapa yang memulai topik tersebut dan membuat kami terjebak tentang kisah cinta pertama masing-masing. Saya bercerita bahwa pernah ada seseorang yang pernah saya titipkan harapan dan saling bersurat selama 3 tahun melalui perantara kakaknya (ah, masa-masa itu!)

album tulus dan lonely planet yang menjadi teman kami
album tulus dan lonely planet yang menjadi teman kami
Continue Reading

Drama minggu sore.

Saya menghela nafas panjang. Sesekali tatapan kami bertemu, saya pun berusaha menyamarkan tatapan tidak suka. Beberapa kali pantat saya seperti terkena paku panas. Menggelinjang gelisah. Tangan saya memegang apa saja. Sambil berusaha keras untuk tidak melemparkan benda tumpul atau tajam kepadanya. Telingaku panas, berdesing oleh selorohan ucapannya.

Cukup! Tidak tahan akhirnya saya meninggalkan tempat itu, setelah dia berucap dan memainkan telunjuknya didepan mataku,

“Memang apa masalahnya sampai iPad 3 belum masuk ke Indonesia?”

“Sudah, nanti Mama ke Singapura buat belikan kamu”

“Itu apa namanya? Apa? MacBook? Berapa harga yang paling mahal? 20 juta?”

Bukan, ini bukan skrip sinetron. Saya pun berusaha mencari kamera tersembunyi yang memastikan aktingku sore itu patut diganjar piala citra. Tapi itulah kenyataannya. Pada saat saya ingin menyervis ipod bulukan yang statusnya sudah bekas guna dan dibeli di kaskus. Sepertinya MacStore adalah taman bermain mereka yang memiliki uang berlebih.

Seumur hidup saya tidak pernah merasa ingin menjambak rambut seseorang seperti sore itu. Apa yang membuat geram? Astaga! Anak kemarin sore yang merajuk kepada sang ibu hanya karena temannya semua sudah menggunakan iPad versi termutakhir. Dia merajuk sampai tidak ingin bersekolah. Malu sama teman katanya.

“Untuk apa beli yang sama, kan sudah ada teknologi yang lebih baru lagi”

Sirik? Yah mungkin saya memang sirik. Saya tidak mampu memiliki barang yang dia inginkan. Tapi belum lagi saya selesai menjambak rambutnya, saya lanjut ingin menamparnya,

“Memangnya kenapa di Indonesia belum bisa teknologi 4G? iPad itu bisa dipakai kan? Toko macam apa ini?”

Sekedar catatan, teman saya yang juga pemeran pendukung sebagai penjaga toko sudah menjelaskan bahwa memang barang tersebut belum masuk di Indonesia. Sedangkan mereka tidak menjual barang black market. Toh juga jaringan di Indonesia belum mampu support.

Makanya sekolah yang benar supaya ngerti hal sesederhana itu! Rasanya saya ingin menampar anak itu pakai BTS.
Sementara di luar sana masih banyak anak-anak seusianya yang harus bekerja, putus sekolah dan melanjutkan hidup. Belum lagi mereka yang harus belajar untuk bisa mendapatkan beasiswa, rasanya semua imaji saya tentang dunia remaja hancur seketika. Ternyata memang masih ada (dan banyak) remaja yang masih manja. Hanya membandingkan kepunyaan orang tuanya. Hanya memainkan mode tanpa memperdulikan isi otak.

“Ah, kamu saja yang salah tempat iQko”, sisi sinis saya yang berkata seperti itu.

Mungkin memang saya yang salah tempat. Membandingkan dua realitas yang sangat berbeda. Sesekali saya bertanya, akan seperti apa hidupnya kelak? Ah, biarkan hidup memainkan dadunya sendiri. Saya juga memiliki peran yang lain.

Continue Reading

Fragmen 1 babak di sebuah kedai donat waralaba

Pelan-pelan perempuan itu menjentikkan abu di ujung puntung rokoknya. Sesekali tertawa lepas memamerkan senyum indah. Tidak salah memang, wajahnya masih sangat rupawan. Dengan seorang anak perempuan yang asyik memainkan handphone di genggamannya, perempuan itu tetap terlihat rupawan. Saya menebak umurnya sekitar 35 tahun. Sebuah usia yang matang. Sebaya dengan para pria yang menemaninya berbincang.

Dari cara mereka berbincang, saya bisa menebak bahwa ini adalah sebuah reuni. Mengulang cerita masa lalu, sambil sesekali menyesap kopi yang telah mereka pesan. Beberapa piring donat pun sudah tandas. Menyisakan beberapa tisu bekas yang terletak di atas piring. Ada nuansa keakraban disana. Sebuah topik tentang investasi dalam bentuk emas sempat tertangkap. Sepertinya seseorang dari mereka adalah seorang pemain investasi. Sejenak perhatian tertuju kepadanya, termasuk sang perempuan dengan sorot matanya yang ingin tahu lebih banyak.

Tidak jauh dari mereka, tampak dua orang lelaki yang sedang asyik dengan dunianya sendiri. 2 gelas tinggi minuman juga sudah terhidang didepan mereka. Tetapi aksesorisnya tidak hanya sampai disitu saja. Sebuah koran terbitan terbaru dan sebuah communicator terletak di tangan masing-masing lelaki itu. Entah apa yang ada di dalam kepala mereka. Duduk berdampingan, dengan dunia yang saling menjauh satu sama lain.

Tawa lepas perempuan itu menyita perhatian saya kembali. Tidak hanya itu saja. Kedua lelaki itu pun, sempat menoleh dari depan communicator serta koran yang dibacanya. Sang anak telah beraksi. Dengan lihainya dia mengambil gambar sang perempuan beserta teman laki-lakinya. Semua orang tertawa. Semua orang memuji sang anak. Bahwa dia mungkin telah memiliki bakat menjadi seorang fotografer dari awal.

Tetapi bukan hanya saya dan kedua lelaki itu saja yang menoleh melihat tingkah sang anak. Sepasang mata pun mencuri perhatian. Mereka yang nada bicaranya sedikit meninggi, seketika tersenyum. Entah apa yang membuat sepasang manusia ini bertengkar. Tetapi sebuah tempat yoghurt dan sebuah donat tiramisu telah menjadi saksi mereka. Menjadi telinga dari apa yang mereka pertengkarkan. Saya pun hanya mendapat porsi terakhir drama mereka saja. Atau mungkin saya tidak perlu tahu. Bisa saja nasib saya akan sama dengan seporsi yoghurt atau sepotong donat itu. Mengetahui sebuah rahasia tapi kemudian menghilang selamanya.

Pelan, kuturunkan volume lagu yang terputar ditelingaku. Sambil melihat bahwa seorang anak berbaju merah telah kembali ke depan kasir kedai donat waralaba ini. Dia tadi juga tiba-tiba berada disampingku. Sekarang dia mencoba orang yang berbeda. Setelah saya tidak mampu menarik perhatiannya. Taktiknya tetap sama. Berdiri di depan kasir sambil menodongkan sebuah buku zikir untuk dibeli. Ada apa dengan hal ini? Seorang anak dengan sandal crocs abal-abal, bercelana jins, dan dengan potongan rambut semacam anak band, kemudian menodong beberapa rupiah dari pengunjung kedai. Apa yang salah sebenarnya?

Setelah sesi foto bersama, akhirnya kumpulan itu membubarkan diri. Setelah sejanak cipika cipiki, semuanya saling mengucapkan selamat tinggal. Sambil menitip pesan untuk saling berkomunikasi. Sepasang remaja disampingku pun tampaknya masih betah berbincang tentang masa depan hubungan mereka. Kedua lelaki itu masih asyik dengan dunianya sendiri. Pelan saya membereskan semua barang saya, sambil memperhatikan bahwa sang anak telah pergi dari depan kasir. Saatnya pulang.

Continue Reading