29.

“Apakah kamu lebih bahagia di masa ini atau di masa lalu?”

Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari Hanna, ditengah perbincangan random tentang letak geografis negara-negara Eropa Timur, dominasi penguin kaisar yang bisa mengancam peradaban manusia, sampai ekosistem hutan di Swedia.

Saya dan David seketika memilih jawaban kami masing-masing. Tentu saja dengan perspektif dan pengalaman masing-masing. Ketika saya dan Hanna serempak menjawab kami lebih bahagia saat ini, David justru mengatakan dia lebih bahagia ketika berumur 16 tahun.

Alasannya? Dia bisa mabuk sampai puas dan tidak memikirkan apa-apa.

Oh my.

Saat ini dia lebih insecure memikirkan akan bekerja apa setelah kuliah, memikirkan tentang komitmen hidup dan semacamnya. Ah, masa muda yang menegangkan. Sedangkan saya? Tentu saja insecure itu sudah lama saya jalani. Bertahun proses yang telah terlalui menjadi sebuah fase tersendiri.

Now I’m just chasing time,
With a thousand dreams I’m holding heavy,
And as we cross the line these fading beats have all been severed.

Saya insecure? Haha! Ketika berada di rentang usia David, mungkin saya juga memiliki perasaan yang sama. Kekhawatiran mengenai apa yang akan ditawarkan oleh dunia kerja.

Saya kemudian menyimak penjelasan Hanna, bahwa saat ini dia lebih mudah untuk mengendalikan emosinya. Mengetahui apa yang bisa membantunya untuk bahagia, apa yang harus dihindari untuk tidak membuatnya merasa tidak nyaman. Sambil memperhatikan gestur tangan dan tatapan matanya, saya berusaha menebak apa yang telah dilalui sampai dia bisa berada di tahap ini?

Saya sendiri, apa yang telah saya jalani? Banyak.

Sebagian hal telah diceritakan di blog ini, sedangkan sebagian lagi masih berupa tarian liar dan ingatan yang terus membekas di ingatan. Seketika potongan percakapan malam itu terulang kembali di dalam ingatan setelah saya menyaksikan film The Girl Who Leapt Through Time. Tokoh utama anime tersebut bernama Makoto, yang secara tidak sengaja mampu kembali ke beberapa jam yang lalu bahkan ke beberapa hari yang lalu. Ketika ada peristiwa yang menurutnya tidak menyenangkan, maka dia akan kembali ke jam semula untuk menghindari hal tersebut.

Sampai ketika dia menyadari bahwa konsekuensi lompatan waktu tersebut tentu saja akan berdampak pada banyak fragmen cerita yang kemudian berjalan berbeda. Kenapa saya tiba-tiba mengingat percakapan random seminggu lalu setelah menyaksikan film ini?

Karena ada pertanyaan Hanna yang sangat menohok dan sesuai apa yang dialami Makoto.

“Seandainya bisa kembali ke masa lalu, apakah kamu akan mengambil kesempatan itu?”

Pertanyaan filosofis yang sederhana tapi berarti banyak. David dengan mudah berkata iya, bahwa dia akan kembali ke usia 16. Dimana dia akan menikmati masa muda dan bersenang-senang sepuasanya. Hanna sudah menjelaskan jawabannya secara implisit bahwa dia tidak akan melihat lagi semua cerita masa lalu dan hanya akan melihat kedepan. Sedangkan saya? Tentu saja saya pernah bercerita mengenai beberapa titik persimpangan yang harus membuat saya memilih. Apa yang terjadi ketika saya mengambil opsi B? Apa yang akan terjadi ketika saya memilih masuk jurusan elektro daripada komunikasi?

Saya hanya bersyukur bisa merasakan pertambahan usia di negeri orang. Jauh dari teman, jauh dari zona nyaman. Semua pertanyaan pengandaian itu sudah saya kubur dalam-dalam. Bagaimana saya bisa bertemu kalian jikalau saya menempuh jalan lain?

Yang pasti saya bahagia di titik ini dengan semua pilihan yang saya ambil.

Selamat datang, 29 😀

Continue Reading

The Reason.

radioholicz-eleanor-and-park

Serendipity (noun);

1. An aptitude for making desirable discoveries by accident;
2. Good fortune; luck.

After all I’m just an old-fashioned guy which always want to meet my significant other—half of my heart—or whatever you called it, in a bookstore or small coffee shop.

Or someone who falling in love with books and have a minute to talk about it while zipping a cup of coffee.

Maybe I’m not lucky enough, yet.

Continue Reading

4 April 2013

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan, kecuali memang rutinitas yang perlahan membunuh dan mengubah pola sosialisasi yang terjadi. Hang out di mall? Bercengkrama di timeline? Rasanya menjadi sesuatu yang semakin susah =)), agak sedih juga sih, tapi the show must go on. Apa yang terjadi selama 3 bulan pertama di divisi baru?

Sudah bisa ditebak bahwa saya harus berlajar banyak. Belajar manajemen waktu, manajemen bicara sama manajemen emosi. Mungkin hal terakhir yang paling meningkat daya tahannya. Ketika tingkat stressnya sudah membuat asam lambung naik di tengah malam, rasanya emosi yang paling terkuras. Entah itu harus berbicara dengan semua WI, ataukah ketika harus menahan emosi melihat partner kerja yang careless.

Things happen for a reason,

Itu yang saya ucapkan kepada seorang teman di Path. Entah apa yang ada di pikirannya sehingga membutuhkan kongsi pendapat dari banyak pihak. Hal itu juga yang membuat saya bertahan selama 3 bulan sehingga tidak gila. Gila karena kerjaan atau gila karena terlalu emosional. Saya tahu ini merupakan salah satu tahap untuk mendewasakan diri. Membiasakan diri untuk mengasah pikiran dan mengoptimalkan potensi yang selama setahun terakhir sudah terkikis karena kebanyakan santainya.

Sesi liburan di Lombok.
Sesi liburan di Lombok.

Saya selalu bercanda kepada teman-teman yang bertanya, “kamu kemana? Kok menghilang dari peredaran?”

Continue Reading

Jokes yang tidak pada tempatnya

Ketika melihat status beberapa teman Facebook dan twit mereka, saya sering berpikir, isi kepala mereka apa yah? Kok bisa-bisanya mereka berkomentar untuk sesuatu yang sensitif seperti itu?

Karikatur di Lintas Berita Malaysia. Sumber : MetroNews

Ini kita berbicara tentang apa memangnya? Tentang gempa yang melanda Jepang. Tentang tsunami yang menewaskan banyak orang. Tentang katanya reactor nuklir yang mengalami ledakan. Dan juga bagaimana sikap dan prilaku Jepang pasca bencana. Mereka setidaknya lebih baik dari kita, bangsa Indonesia, yang bahkan berpikir pun terkadang bisa seenaknya saja.

Beberapa twit dan status yang bermasalah itu adalah,

“Astaga, Jepang gempa! Bagaimana kabar Miyabi yah?”
“Coba kalau pintu kemana sajanya Doraemon bisa dipakai, pasti semuanya selamat”
“Kalau gempa lagi, bagaimana nasib Sinchan selanjutnya?”

Jeez, ada apa dengan isi kepala kalian hey orang-orang! Setidaknya kalau memang tidak bisa bersimpati atau melakukan sesuatu, setidaknya janganlah mengatakan sesuatu yang bodoh. Apalagi kalau hal itu bisa mengundang reaksi dari banyak orang. Sedikit saja coba berpikir, seandainya kita yang berada di posisi tersebut, apakah memang masih bisa tertawa?

Saya selalu merasa miris dengan beberapa orang yang menganggap joke-joke seperti ini menjadi suatu hal yang biasa. Okelah, saya mengakui bahwa saya pernah berada di posisi tersebut, menjadikan sesuatu menjadi bahan lucu-lucuan tanpa berpikir apa dampaknya bagi orang lain. Sampai suatu saat, saya mendapat tamparan, ketika masih sering menggunakan Autis sebagai bahan dan kosakata dalam pergaulan.

“pernahkah kau berpikir, setidaknya satu kali saja. Ketika Adik, atau anakmu nanti yang mengalami Autis?”

Sebuah pernyataan sederhana. Bagaimana seandainya saya berada di posisi mereka? Apakah saya sanggup melewatinya? Apalagi saya tahu bagaimana perjuangan orang tua dengan anak-anak yang berkebutuhan khusus. Sedangkan saya semudah itu menjadikannya sebagai bahan lelucon?

Secara tidak sadar ada banyak diantara kita yang terbiasa menggunakan “kekurangan” orang lain sebagai bahan joke yang murah meriah. Mulai dari masalah berat badan, orientasi seksual, sampai bentuk tubuh. Semuanya menjadi sesuatu yang alamiah. Kenapa bisa? Inilah kultur yang berkembang dalam keseharian. Proses bully yang terjadi semasa sekolah, pun akhirnya terus berlanjut sampai bebrapa tingkat kehidupan. Pun media, seperti beberapa tayangannya, turut mendukung budaya ini. Betapa tidak jarang kita ikut tertawa ketika lawakan tentang hal-hal ini diluncurkan. Salahkah kita?

Saya bukan Tuhan yang menjawab benar dan salah. Tetapi cobalah sekali-kali berpikir berada di posisi orang-orang dengan “kekurangan” tersebut. Bagaimana rasanya fight dengan semua perbedaan kemudian menyadari bahwa itu sesuatu yang sama sekali tidak lucu, dan menjadi joke yang salah tempat. Silahkan bercermin sendiri, masihkah anda melakukannya?

Continue Reading