Menunggu.

Apa yang bisa diajarkan sebuah kota kepadamu tentang lajunya yang begitu kencang? Saya selalu heran dan ternganga melihat ritme di ibukota. Kalau memang bisa dikatakan juga, saya sempat terbawa oleh riuhnya. Riuh melawan kemacetan, bergegas kesana-kemari. Karena perkiraan waktu bisa berdampak banyak. Macet salah satunya.

Ketika hidup tidak berjeda, apakah akan ada waktu untuk menghela napas?

Satu yang pasti adalah kota ini membuat saya kembali mengenali arti kata menunggu. Bersabar. Bahwa walaupun mungkin kau telah bersiasat dengan sedemikian rupa, selalu ada faktor X yang kemudian membuatmu harus lebih bersabar. Entah itu dengan jadwal kereta api, ataukah menunggu angkot yang akan melintas.

daylight
daylight

Maklum saja. Perjalanan di Makassar tidak pernah memakan jarak atau waktu yang berarti. Setiap tempat kemudian menjadi dekat, karena selalu ada Andra, sang motor Byson kesayangan yang siap diandalkan. Terkadang bahkan tidak ada jeda yang tersisa. Berpindah ke satu tempat ke tempat yang lain. Semuanya serba cepat.

Padahal tidak semua menunggu itu harus menyakitkan.

Continue Reading

Makan siang di warteg : perkuat di nasi!

Ketika kau hanya memiliki waktu selama 45 menit untuk istirahat siang, maka apa yang menjadi opsi pilihanmu?

Warteg. Sebuah tempat ajaib dimana semua kasta dilebur, dan semua penampilan bisa ditemukan. Lengkap dengan berbagai jenis lauk yang sesuai dengan isi kantong.

image by jakartapost.com
image by jakartapost.com

Rutinitas yang terjadi kemudian adalah datang, antri, sambil mencoba memikirkan akan makan siang dengan kombinasi lauk apa. Karena kombinasi ini nantinya akan menentukan seberapa tingkat kejenuhan menu makan siang selama seminggu. Sayur pare dan hati ayam? Kering kentang dan telur goreng? Sebuah pemikiran yang terkadang lebih sulit dari bermain Sudoku.

Tidak ada lagi sesi duduk-duduk ganteng sambil mengomentari tingkah laku para pengunjung yang lain. Semuanya hening dalam irama yang sama. Sesekali mungkin obrolan terucap. Tetapi kebanyakan semuanya makan dengan lahap. Entah karena lapar, ataukah karena melihat antrian orang yang kelaparan di luar warteg.

Tentu saja sensasi makan siang massal ini sesuatu yang baru.

Continue Reading

Karena setiap mimpi memiliki konsekuensinya sendiri.

Sangat aneh ketika jeda 14 hari bisa membawamu kepada banyak perenungan, tentang banyak hal yang biasanya tidak tertangkap oleh retina. Ketika semua kebiasaan hanya berpola pada tempat untuk mencari nafkah dan kemudian berpindah ke rumah, sejak kapan perasaan tumpul kemudian menghadang? Ketika fase mapan sudah mulai menjebak.

Langit Jakarta
Langit Jakarta

14 hari melewati keseharian di ibukota membuat saya melihat lebih banyak. Melihat bagaimana orang-orang mencari rezeki, melihat bagaimana keadaan bisa menjadi tidak begitu nyaman, dan bagaimana memang hidup menjadi tidak adil. Semua porsi yang kemudian saya pertanyakan, konsekuensi hidup mapan itu nanti akhirnya kemana?

Saat ini saya sedang berjuang. Untuk memperbaiki harkat hidup. Alasan yang selalu saya dengungkan. Sebagai bentuk pembenaran bahwa memang ini jalan yang telah ditakdirkan. Dalam beberapa percakapan bersama seorang teman, kami lantas berpikir, hidup ini akan berakhir seperti apa? Sampai kapan kita akan menanyakan arah kenyamanan? Akankah kita mau melepas semua titik nyaman itu? Mungkin kelak, ketika kematian akan menyapa. Tapi sekarang?

Continue Reading