#bearbiketrip 3: the cave

Mulut gua saripa

Klaustrofobia adalah ketakutan akan ruang yang sempit. Setidaknya itu yang saya dapat dari penjelasan nona Wikipedia. Badan segede beruang takut akan ruang sempit? Menurut ngana? Bagaimana kalau nanti tubuh semok saya nyempil di dinding gua?

Adegan itu yang terus berulang dan berulang dikepala saya. Apalagi ketika mengetahui bahwa rombongan trip #funcaving bersama @jalan2seru_mks akan menginap di mulut gua. Ternyata penderitaan saya belum berakhir. Kami harus mendaki lagi untuk masuk kedalam mulut gua saripa yang akan dieksplorasi.

Beberapa kali kata “crap” keluar dari mulut, berseberangan dengan napas yang semakin terengah. Betis dan paha seolah menjerit, ingin menampar siapapun yang berusaha melucu atau menjadi sok pahlawan dengan membantu. Saya capek! Itu intinya, dan saya membutuhkan bidang datar untuk meluruskan punggung.

Mulut gua saripa

Setelah membiasakan diri dengan keremangan gua, kami pun mengeksplorasi tempat yang dijadikan tempat tidur. Beberapa orang sudah saling terpisah, memilih lokasi favorit masing-masing. Saya, kak Anchu dan Veby memilih bagian tebing yang terletak agak di atas. Berhadapan dengan lubang angin yang jadi sirkulasi dalam gua—yang menyebabkan saya menggigil kedinginan ketika subuh—dan memiliki kemiringan 10 derajat.

Bagaimana rasanya tidur dengan kemiringan seperti itu? Ya, seperti ingin menggelending terus 😐

Continue Reading

#bearbiketrip (1) : a prologue

Beruang bersepeda!

Banyak orang mengernyitkan dahi dan menatap saya, Kak Anchu dan Veby ketika memutuskan untuk bersepeda ke Ta’deang, Kabupaten Maros. Jarak tempuh yang diperkirakan mencapai 37 Km bahkan lebih membuat orang lebih terhenyak lagi. Apa kami sanggup? Atau pertanyaannya, apa saya sanggup?

Beruang bersepeda!

Ketika berbicara dengan Taro—teman angkatan di kampus—dalam salah satu edisi makan siang hore, seketika kami membahas mengenai kegiatan ekstrakurikuler I jaman mahasiswa dulu. Kami tertawa ketika saya lebih memilih english debate daripada pencak silat atau karate. Kalau bisa menghindari kegiatan fisik, untuk apa harus dijalani?

Itulah gambaran masa lalu yang saya jalani. Apa yang terjadi? Semua aktivitas fisik seringkali menjadi pilihan terakhir untuk dijabani. Olahraga dengan berjalan kaki setiap hari di fakultas menurutku sudah cukup. Tidak usah ditambah lagi. Buat apa repot-repot berkeringat. Bahkan konsep hari libur biasanya saya habiskan dengan berleyeh-leyeh sambil membaca novel kesukaan. Makan, membaca kemudian tidur lagi.

*dan timbangan pun kemudian menjerit*

Lantas, kenapa kegilaan ini bisa memuncak? Saya juga tidak bisa memikirkannya lebih jauh. Beberapa kali saya terhenti dan melihat kebelakang. Apa yang sudah saya lewati selama ini? Apa yang telah saya jalani? Kesempatan apa yang telah saya lewatkan? Dan ternyata jawabannya, banyak! Hanya persoalan satu hal, saya begitu tidak percaya diri pada kemampuan, pikiran serta daya tahan tubuh. Saya selalu denial dan mengatakan tidak bisa.

Padahal batasan tidak bisa dan tidak mau itu beda tipis.

Maka sekaranglah saatnya, saya mencoba beberapa hal dulunya menjadi hal terakhir yang saya lakukan. Mencoba mencari tahu batasan fisik diri sendiri sampai mana, sampai mencoba bertarung dengan pikiran dan hati yang selalu berteriak tidak bisa. Bersepeda selama 4 jam menempuh jarak 37 Km? Caving dan menelusuri gua? Mendaki gunung? Ternyata saya bisa. Inilah awal mula dari perjalanan dalam menaklukkan diri, pikiran dan hati. Selamat menikmati.

Continue Reading