This place you return to is home.

radioholicz-home

“Apakah kamu tidak merasa sepi di tempat yang begitu asing, dengan bahasa yang tidak kamu mengerti?”

Seseorang pernah bertanya seperti ini kepadaku.

Saya hanya bisa menjawab, mungkin itulah konsekuensi sebuah perjalanan. Ketika ruang-ruang kosong dalam kepalamu tidak lantas menjadi sesuatu yang berisikan kesepian. Saya menganggap tempat ini serupa rumah kesekian. Ada ikatan yang harus dijalankan, dituntaskan, sampai waktu dan perihal lain yang membuat kita berjalan ke arah yang lain.

Sesungguhnya (mungkin) esensi rumah dan pulang itu hanya ada di dalam kepala.

***

I’m not running from.
No, I think you got me all wrong.
I don’t regret this life I chose for me.

Be careful what you wish for,
‘Cause you just might get it all.

— Daughtry ~ Home

Continue Reading

Eleanor and Park : The Mixtape

Bagaimana mendeskripsikan cerita Eleanor and Park? Ketika kau menghela nafas bahagia berkali-kali setiap membuka halaman demi halaman.

Membayangkan 2 orang yang teralienasi dunianya masing-masing yang jatuh cinta karena The Smiths. Rainbow Rowell jenius menyisipkan banyak band indie dan playlist lagu-lagu yang tidak biasa. Seolah langsung mengajak kita mengikuti cerita mereka diiringi lagu-lagu tersebut.

Beberapa quote dan playlist yang ada mudah-mudahan bisa memberikan gambaran, bagaimana cerita Park, memulai ceritanya dengan Eleanor di antara percakapan di dalam bus, komik X-Men, dan Chuck Norris.

radioholicz-eleanor-and-park-mixtape

“Eleanor was right. She never looked nice. She looked like art, and art wasn’t supposed to look nice; it was supposed to make you feel something.” (Park)

“Holding Eleanor’s hand was like holding a butterfly. Or a heartbeat. Like holding something complete, and completely alive.” (Park)

“I just want to break that song into pieces and love them all to death.” (Eleanor)

“There’s no such thing as handsome princes, she told herself. There’s no such thing as happily ever after.” (Eleanor)

Continue Reading

The Girl with Glass Feet; tentang menemukan harapan.

Barangkali Saint Huda adalah tempat terakhir yang ingin didatangi sebagai tempat liburan. Dengan suasana yang kelam, rawa-rawa, hutan tidak bertepi dan kabut yang menyelimuti semua bagian pulau, menyebabkan keterasingan yang misterius diantara semua makhluk yang hidup didalam buku The Girl with Glass Feet. Tentu saja termasuk mitos-mitos yang terdengar tidak masuk akal sekalipun.

Pun kedatangan Ida Mclaird sebagian besar untuk mencari tahu apa yang terjadi pada kakinya. Perlahan namun pasti kakinya berupa kaca, memperlihatkan urat-urat yang mengalirkan darah segar. Dimulai dari telapak kaki, berlanjut hingga ke pangkal paha. Semua pencariannya kemudian berbalik arah ketika bertemu dengan Midas Crook. Seorang pemalu, hidup dalam pikirannya sendiri dan lembaran-lembaran monokrom cetakan fotonya.

Ketika kisah kemudian mengalir, kita akan mengetahui penyebab Midas Crook menjadi seorang penyendiri. Saya selalu tertarik dengan hubungan ayah dan anak, psikologi yang kemudian tertoreh dan menjadi bekal bagaimana seseorang akan bersikap kelak. Midas yang kesehariannya hanya diisi oleh Gustav, sang sahabat, bersama Denver, anaknya, pelan-pelan menemukan sisi-sisi kemanusiaan yang membingungkannya. Bagaimana bersikap dengan semua deru emosi yang melanda.

“… jalanan itu menurun. Dua burung camar terbang melintas, saling berpagutan sembari terbang, dan Ida menangkap sekilas mata kuning mereka. Tak lama kemudian burung-burung itu telah menukik sejajar dengan laut, sangat dekat dengan ombak-ombak yang memecah dan semburan air laut yang membuat jalan mereka berkabut.” (hal. 265)

Continue Reading

Book Review – I Am Number Four

Tidak banyak bacaan yang bisa menarik minat saya. Sedari dulu, hanya genre fiksi ilmiah yang bisa membuatku bertahan membaca buku secara non stop. Setelah terhenti di saga Twilight dan Harry Potter, ada satu serial yang sepertinya berpotensi menjadi hit. I Am Number Four.

Dalam buku ini kita akan bertemu dengan 9 alien yang dikirim kebumi karena planet mereka, Lorien, telah musnah dalam peperangan melawan bangsa Mogadorians. Tokoh utama ceritanya bernama John Smith, bersama sang penjaga, Henri kemudian berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain. Rupanya bangsa Mogadorians juga telah sampai ke bumi dan kemudian memburu ke 9 anak ini. John sendiri telah melihat sebuah visi bahwa nomor 3 telah tewas terbunuh. Berarti yang diburu berikutnya adalah dia, dan dia harus berpindah kota lagi untuk kesekian kalinya.

Disinilah cerita berlanjut. Number Four dan sang Penjaga kemudian memutuskan untuk menetap di kota kecil bernama Paradise, Ohio. Semakin terpencil mereka, berarti kemungkinan ditemukan oleh para Mogadorian semakin kecil. Satu hal yang menjadi istimewa adalah ternyata kekuatan Number Four sudah mulai bangkit dan dia harus berlatih keras untuk mendapatkan pusaka-pusakanya.

Apakah masalahnya selesai disini? Tentu saja belum. Number Four akhirnya bertemu dengan seseorang yang membuatnya jatuh cinta. Sarah Hart kemudian menjadi alasan utamanya untuk tetap tinggal di Ohio. Walaupun itu berarti harus ditemukan dan melawan bangsa Mogadorian.

Sebuah tema yang sangat klise memang. Melihat cerita ini sebagai cerita cinta alien bersama manusia. Sang alien memiliki kekuatan dan harus melindungi sang wanita. Tetapi yang membuatnya menarik adalah bagaimana perjalanan perkembangan kekuatan Number Four diceritakan. Kita juga akan menikmati alur balik ketika apa yang terjadi di planet Loriens, bisa saja akan terjadi di bumi. Bukan masalah diserang oleh makhluk asing, tetapi tentang bagaimana menggunakan hasil alam.

Tentu saja klimaks ceritanya ketika Number Four akhirnya ditemukan oleh bangsa Mogadorian. Pertempuran akhirnya tidak terelakkan di sekolah, bersama Sarah, serta Mark James, musuh yang akhirnya menjadi teman, serta Henri sang penjaga dan Sam Goode. Satu-satunya sahabat manusia yang didapat oleh Number Four. Disaat keadaan sudah semakin gawat, ternyata datang bantuan tidak terduga. Number Six yang ternyata seorang perempuan, hadir dan bergabung dalam pertempuran dengan kekuatan yang dimilikinya.

Bisakah semuanya selamat? Dalam buku setebal 500 halaman ini kita akan menemukan jawabannya. Apa sebenarnya yang menjadi kekuatan inti dari Number Four dan Number Six, bagaimana kisah cintanya bersama Sarah. Terdengar klise? Tapi sepertinya 6 buku masih akan menjadi cerita yang panjang. Masih ada Number Five, Number Seven, Number Eight, dan Number Nine yang belum muncul.

Judul Buku : I Am Number Four
Pengarang : Pittacus Lore
Penerbit : Mizan
Jumlah Halaman : 500
Genre : Fantasi

Continue Reading