Album Review : Aquilo ~ Human.

Perkenalkan band pendatang baru yang patut diperhatikan versi The Guardian. Menilik efek melankolia dalam album EP mereka, mari kita menjelajah dalam muram bersama Aquilo.

image via theguardian
image via theguardian

Tom Higham dan Ben Fletcher adalah dua sahabat dari Silverdale, Lancashire, Inggris. Dengan corak musik yang dipengaruhi dengan nuansa baroque-rock, musik Aquilo seolah mengawang-awang dengan dominasi elektronika dimana-mana. Musik mereka sendiri didefinisikan sebagai ”soft-calm electro pop.” silahkan dengar track Human yang begitu kelam sejak intro mengalun.

Terpilih sebagai BBC Radio 1 playlist pada bulan Juni 2014 membuat mereka merasakan panggung Glanstonburry Festival dan diperkenalkan sebagai Best of BBC Introducing Stage. Mereka pun menjadi penampil pada festival Kendal Calling yang terkenal sebagai festival musik independen di Inggris.

Ada 4 track yang bisa dinikmati selain Human. I Gave It All, Best of Us Go Down, sampai track yang menjadi favorit saya, Losing You. Dengarkan saja penggalan liriknya,

Looking back I tried my best to carry on,
But the feeling we once had,
Starts to fade beneath the bad.

Haha, kenapa saya memilih album sesuram ini? Entahlah, musim dingin di Stockholm rasanya membawa aura melankolis tersendiri. Dimana kau hanya ingin menyesap segelas coklat hangat sambil melihat butiran salju yang jatuh perlahan. Album inilah yang mengisi hariku sepekan ini.

Beberapa track dari EP mereka sebelumnya bisa didengarkan di http://soundcloud.com/aquilo dan inilah track salah satu track favorit saya.

Continue Reading

Album Review : Jason Chen ~ Never For Nothing

Ketika orang menyangka tidak ada yang bisa mengalahkan formula anti-move on dari track The Man Who Can’t Be Moved, maka silahkan dengar album dari penyanyi Taiwan kelahiran Amerika, Jason Chen. Dosis galaunya rasanya sudah sangat keterlaluan. Tapi kenapa saya mendengarkannya juga? Ya menurut ngana? Galau itu default, jendral!

image via itunes.com
image via itunes.com

Seperti terlihat klise, tetapi memang rasanya album ini didedikasikan untuk mereka yang memang masih mempunyai sisa-sisa perasaan dan menjadikan kenangan sebagai asupan untuk hidup. Oke sip. Dengan beat-beat RnB yang easy listening, kita akan mendengarkan cerita Jason Chen untuk move-on (Still in Love, Time Machine) sampai tentang persoalan masih-oke-kok-berteman-dengan-mantan, walaupun rasanya tetap menyakitkan (Invisible, Losing My Head).

Iqko! Kamu memang masokis!

Tidak seperti karir artis jebolan Youtube yang lain, syukurlah Jason Chen menemui jalannya untuk memulai karir secara professional. Di kanal Youtube kita masih bisa menemukan lagu-lagunya yang terbaru. Dia juga sudah merilis 4 buah album dan mendapat tempat khusus di tanah Mandarin.

Selain memiliki alur cerita yang terlihat jelas di album Never For Nothing, vokal Jason Chen sangat layak dinikmati. Walaupun tidak sangat disarankan mendengarkan albumnya terus-menerus (I Hate Sorry, Never For Nothing). Dia mengajarkan bahwa malam-malam gelap akan terlalui juga dan bagaimana merapikan semua kenangan untuk melangkah lagi. Dengarkan suara piano yang mendominasi di setiap lagu! Menjadikan album ini bisa dinikmati kapan dan dimana saja.

Untuk sebuah album yang terasa sangat personal, Jason Chen mampu menghadirkan sosoknya sebagai seorang pencerita yang baik. Jadi, siapa yang belum bisa move-on? *eh

I wanted to move on
But unlike you, I’m not that strong
(Jason Chen – Still In Love)

Continue Reading