Tentang Swedia : Mencoba Surströmming.

Membutuhkan waktu setahun penuh untuk mengumpulkan keberanian mencoba makanan yang dianggap paling berbahaya di Swedia. Bahkan bagi sebagian teman kelas mengernyitkan dahi ketika mengetahui kegilaanku ingin mencicipi penganan tersebut. Apakah sebenarnya Surströmming ini?

Setahun lalu ketika mencari informasi tentang Swedia, semua situs pencarian setidaknya mereferensi Surströmming sebagai sesuatu yang sangat Swedish. Apa istimewanya sepotong ikan yang dimakan bersama potongan kentang, roti dan aneka taburan lainnya? Jawabannya adalah karena baunya yang sangat tajam. Bukan seperti aroma durian yang menyengat tetapi sesuatu yang telah busuk dan rusak (rotten) dalam bahasa makanan.

Penampakan Surströmming
Penampakan Surströmming

Video singkat dari kanal Why Would You Eat That menjelaskan secara sederhana menjelaskan mengapa Surströmming mempunyai aroma yang sangat tajam. Singkat cerita, para nelayan mencampurkan banyak garam dalam tumpukan ikan untuk memperlambat proses pembusukan dan masih layak dikonsumsi. Ikan ini kemudian dimasukkan kedalam kaleng sehingga proses oksidasi dan fermentasi gas masih terus terjadi sehingga aroma menjadi 10 kali lipat.

Seperti apa sih aromanya? Penasaran ini yang membuat saya semakin ingin mencoba Surströmming. Bayangkan saja, banyak aturan bagaimana kita bisa menikmati penganan ini. Terutama ada aturan yang mengatakan bahwa saking tajamnya aroma Surströmming sampai digunakan untuk menjadi bom bau di sekolah-sekolah (dulu kita menggunakan telur ayam busuk). Kita tidak boleh membukanya dalam apartemen karena baunya akan melengket di furnitur rumah dan tetangga flat akan menelpon pemadam kebakaran untuk mencari sumber bau tersebut.

Whoa! Dari segi budaya, makan ikan mentah sudah ada dalam kultur Sulawesi Selatan. Pacco’ juga berasal dari bahan mentah yang diberi perasan jeruk atau cuka kemudian dinikmati secara mentah. Pun di Belanda saya menikmati memakan ikan herring mentah. Mengapa semua orang begitu parno ketika menyebut nama Surströmming?

Akhirnya musim panas tiba. Waktunya menjalankan rencana! Untunglah awal bulan Agustus saya kedatangan tamu dari Leiden yang ingin menikmati musim panas di Stockholm. Untungnya lagi kakak beradik ini —Bhre dan Wisnu— mempunyai kegilaan dan rasa penasaran yang sama. Karena bagi kami cara mengapresiasi sebuah kultur adalah dengan mencoba makanan lokal di daerah tersebut. Kami saling memprovokasi dan meyakinkan diri untuk mencari Surströmming. Mumpung kami masih bisa menyantapnya diluar ruangan.

Dari beberapa supermarket lokal yang saya datangi bahkan tidak menjual makanan ini. Saya masih ingat raut wajah mereka ketika mencari sekaleng kecil ikan herring ini.

”Kamu masih ingin hidup kan?”

Jodoh kami dengan Surströmming berakhir di sebuah toko kecil yang menjual berbagai makanan khas Swedia di Stasiun T-Bana Gamla Stan. Dengan hati berdebar kami membawanya pulang dan penasaran ingin merasakan langsung sensasi menjadi ”the real Swedes”.

Banyak cara untuk memakan Surströmming, diantaranya menyiapkan complementary dish yang berupa salad kentang, creme, keju, dan lainnya. Mungkin complementary dish ini untuk menyamarkan rasa ikan herring yang begitu kuat. Tapi karena saya hanya mempunyai persediaan tomat, keju, bawang, dan butter di kulkas, itulah yang bisa kami andalkan untuk bersantap. Satu kejadian lucu adalah ketika saya menunjukkan kaleng Surströmming kepada Arne, dia hanya tersenyum dan berkata,

Sekaleng zat berbahaya XD
Sekaleng zat berbahaya XD

”Ya, kamu langsung makan saja seperti itu.”

Saking kaget ketika mendengar jawaban sederhananya, kaleng Surströmming tersebut terlepas dari tanganku dan jatuh ke lantai. Seketika kalengnya menggembung karena tekanan gas didalamnya! Seketika saya lari dengan panik dan membawanya ke kebun. Gila aja kalau sampai meledak dalam rumah!

Dengan wajah gugup dan penasaran akhirnya saya, Bhre, dan Wisnu duduk di bangku taman. Ketika membuka kaleng tersebut otomatis seluruh persediaan sumpah serapah kami terlontar,

”Demi Neptunus! Itu bau apa?”

Seketika kami tertawa dan ingin mengurungkan niat memakan bahan yang rasanya bisa mengancam jiwa kami.
Aromanya seperti melintas di pasar ikan yang telah mengering karena sinar matahari. Sensasi ini saya kenali karena kami mempunyai Tempat Pelelangan Ikan Rajawali (Lelong) dan saya kerap melintasinya pada saat matahari sangat menyengat. Saya juga seketika mengingat bau dari pelabuhan muara angke ketika hendak menyeberang ke Pulau Pramuka.
Bayangkan aroma seperti itu dan kalikan 20 KALI LIPAT.

Kami mencoba menguatkan diri untuk membuat lapisan roti yang terdiri dari bawang, tomat, butter dan potongan Surströmming. Sensasi ketika lidah bertemu dengan potongan ikan herring tersebut adalah sebuah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Mungkin karena aromanya yang sangat menyengat, sehingga hidung langsung mengirimkan sinyal ke otak untuk memberi tahu ada sebuah zat berbahaya yang akan masuk dalam tubuh dan akhirnya mengirimkan reaksi penolakan seperti rasa mual.

Wajah penasaran dan gugup XD
Wajah penasaran dan gugup XD

Rasanya sangat asin sampai membuat lidah dan bibirmu mati rasa karena garam.

Uugh.

Kami saling menertawai diri sendiri. Entah karena kenaifan atau keberanian kami mencoba penganan ini. Tapi setidaknya kami mencoba mendefinisikan sebuah kebudayaan yang memang harus dipandang dari sudut pandang lokal. Setelah menyantap 2 potong ikan, kami memutuskan untuk membuang sisanya di danau dekat rumah. Jangan sampai kami dituduh untuk membuat keonaran karena meninggalkan sebuah limbah yang tidak diinginkan oleh banyak orang.

Walaupun telah mencuci tangan berkali-kali, bau Surströmming tetap lengket di telapak tangan. Saya pun telah memasak sup iga kacang merah untuk menetralisirnya, tapi tetap rasa asin itu seperti menghantui lapisan belakang indra pengecap. Sebuah sensasi yang tidak akan dilakukan dua kali. Tapi setidaknya kami melakukannya! Semua temanku mengucapkan selamat dan berkata bahwa saya bahkan lebih Swedia daripada dia.

Farväl, Surströmming! Challenge accepted!

You may also like

1 Comment

Leave a Reply