Spermonde 3; Takabakkang Sayang, Takabakkang Malang

Saya selalu menikmati Sunrise dan Sunset. Ketika pekat saling beradu dengan cahaya yang memudar. Itulah waktu terindah langit. Syukurlah saya adalah morning person. Bisa mencuri waktu untuk menikmati sunrise ditengah laut. Kapan lagi bisa mendapatkan kesempatan sebaik ini.

Ternyata rencana saya meleset. Gelombang terus menerjang selama sisa perjalanan membuat semua awak kapal menjadi tidak berdaya. Ombaknya lebih dahsyat dari gelombang cinta! #eh. Peristiwa ini tidak akan pernah terlupa, karena mengingatkan saya pada satu lokasi diving yang juga mengenaskan keadaannya. Hari itu saya berkenalan dengan Takabakkang.

Ada beberapa indikator yang bisa digunakan untuk melihat sebuah terumbu karang dikatakan sehat. Seperti penjelasan Amelia Moha, kalau di daerah tersbut sudah berkerumun bulu babi, maka sudah bisa dipastikan ekosistem karangnya sudah tidak sehat. Tapi bagaimana kalau sudah tidak ada lagi yang bisa dinikmati?

Kami yang snorkling di kedalaman 4 meter bisa melihat dengan jelas. Sudah tidak ada lagi karang yang tersisa. Para anggota tim selam yang sempat turun di kedalaman 10 meter pun melihat keadaan yang sama. Keadaan Taba’bakkang sama semua. Rusak sampai kedalaman 10 meter. Karena siapa? Manusia.

Padahal melihat lokasinya, Taba’bakkang ini jauh dari mana-mana. Butuh waktu 12 jam mencapainya dari Pulau Barrang Lompo. Ketika ketamakan menguasai manusia, apakah laut akan selamat nantinya?

Sedikit menyimak percakapan dengan Om Januar Jauri bahwa Takabakkang ini hanyalah sedikit contoh kecil dari kondisi laut saat ini. Bukan lagi penangkapan ikan secara manusiawi, tetapi sudah termasuk kategori menjarah. Bukan lagi menggunakan bom dan bius, tapi sudah dalam taraf merusak. Bahkan ekosistemnya pun sudah dihancurkan.

Tidak ada lagi terumbu karang seperti ini (gambar dari http://deeadewie.wordpress.com/)

Proses perputaran ekosistem ini sendiri membutuhkan waktu puluhan tahun. Ketika sebuah siklus terputus, maka bisa dibayangkan bagaimana keadaan beberapa tahun yang akan datang. Terumbu karang tumbuh hanya 5 cm selama setahun. Ikan-ikan karang mencari habitat hidup yang layak. Ini sebuah proses hidup yang kemudian kita ganggu. Miris melihatnya.

Semua hasil alam merupakan kekayaan yang dilindungi oleh negara dan diakui dalam UUD 1945. Tapi hasil alam yang mana yang akan bertahan? Sebuah perbincangan yang terus didengungkan oleh Om JJ, karena laut adalah wilayah tidak berbatas. Sedangkan Taba’bakkang yang begitu jauh untuk terjangkau bisa serusak itu, bagaimana dengan kawasan yang lain?

Laut Indonesia adalah salah satu surga dunia. Apakah nanti akan tersisa keramahan dan keindahan laut yang akan diwariskan ke anak cucu kita? Semoga tidak ada Taba’bakkang-Taba’bakkang yang lain. Walaupun dalam hal ini saya pesimis.

Berita tentang terumbu karang rusak di Indonesia bisa dibaca di http://bit.ly/smTXUd dan di http://bit.ly/xqKEr1. Selamatkan laut Indonesia!

You may also like

3 Comments

Leave a Reply