Spermonde 2; Barrang Lompo yang semakin bersolek.

Terus terang navigasi saya tentang wisata laut tidak pernah sebesar ini sampai 3 tahun terakhir. Khayalan surgawi tentang pantai indah dan laut yang bergelora itu hanya ada pada imajinasi tempat yang jauh seperti Bali atau pantai-pantai di luar negeri. Terus terang saya menyesal baru mengenal gugusan pulau yang sangat indah di Makassar. Pulau-pulau tersebut penuh dengan potensi wisata baharinya masing-masing. Walaupun telat, setidaknya saya bisa berpetualang!

Melepas senja di Pulau Samalona

Salah satu pulau yang sangat sering dikunjungi adalah pulau Barrang Lompo. Sebuah pulau dengan jumlah penduduk yang lumayan padat. Trip kali ini adalah perjalanan kedua saya menjelajah Pulau Barrang Lompo. Pun kenyataannya dia semakin bersolek.

Akses yang mudah dan reguler membuat pulau ini tidak jauh beda dengan suasana kota Makassar. Ciri masyarakat urban yang pelan-pelan terdapat ciri khas kekotaan. Walaupun sebagian besar masyarakat Barrang Lompo mencari nafkah dengan cara melaut, tetapi sektor jasa sudah bisa dengan mudah kita temukan di berbagai sudut. Mulai dari warung sari laut, salon, rental playstation, sampai dengan meja bilyar menjadi pemandangan keseharian.

Tidak ada cara paling ideal untuk menjelajahi Pulau Barrang Lompo selain dengan cara berjalan kaki. Butuh waktu sekitar 45 menit sampai 1 jam untuk berjalan mengitari seluruh pulau. Tapi ini hanyalah akses di jalan utama saja. Belum termasuk jalan-jalan kecil atau lorong yang membelah akses di tengah-tengah rumah penduduk. Semuanya saling terhubung. Silahkan nikmati menjelajah, menikmati aktivitas warga sambil menegur sapa. Kita akan disambut layaknya keluarga, diberi senyum. Apa lagi yang kurang?

Selamat datang di Cafe Eda!

Lantas bagaimana menikmati waktu di Pulau Barrang Lompo? Karena kalau melihat space yang ada, pulau ini bukan seperti Pulau Samalona atau Pulau Kodingareng Keke yang intensitas kepadatan penduduknya tidak begitu tinggi. Tapi tenang saja, kalau masih ingin snorkling atau sekedar berenang di pantai, Pulau Barrang Lompo masih memiliki spot-spot yang bisa dinikmati.

Menurut cerita Hj. Dahrin, salah satu penduduk Pulau Barrang Lompo dan Pemilik Kapan Novita Sari, beberapa pantai di bagian belakang pulau masih bisa dinikmati. Entah sekedar berenang atau bermain air. Kalau ingin bagian yang lebih dalam, maka bagian dermaga bisa menjadi pilihan. Kita bisa menyelam juga disana.

Kalau ada duit berlebih, kita juga bisa menyewa kapal penduduk setempat yang digunakan untuk berlayar ke Pulau Bone Batang. Tahun lalu saya dan keluarga besar AngingMammiri sempat berkunjung kesana, dipimpin oleh Daeng Nuntung. Pulau Bone Batang sendiri hanyalah sekumpulan pasir yang membentuk daratan kecil. Daratan ini timbul ketika laut sedang surut dan hilang kembali ketika pasang. Lokasinya cocok untuk berlibur dengan anak-anak karena hamparan pasir yang ada dimana-mana. Kalau ingin snorkling juga bisa. Tidak perlu terlalu jauh kita bisa menikmati hamparan karang yang indah.

Tapi yang menjadi daya tarik utama Pulau Barrang Lompo menurut saya yah suasananya. Bagi yang tidak suka dengan pulau yang terlalu terpencil akan merasa kerasan disini, atau bagi mereka yang sudah muak dengan kesumpekan kota bisa sedikit menemukan keheningan dan bisa melepaskan lelah sejenak.

Siang hari kita bisa menikmati suasana Pulau dengan berkeliling menggunakan odong-odong! Salah satu kendaraan absurd yang mungkin hanya bisa kita temukan di pulau ini. Bentuknya berupa moto kaiser roda 3 yang dimodifikasi dan diberi ruang dibagian belakang. Odong-odong ini mampu menampung sampai 8 orang dan digunakan untuk berkeliling pulau. Tarifnya 1000 rupiah untuk 3 kali keliling pulau!

Penampakan (dari belakang) Odong-odong

Selain modelnya yang absurd, kita juga akan menemukan banyak lagu-lagu yang tidak akan pernah masuk di playlist Dahsyat ataupun Inbox. Lagu-lagu dari band macam Biru Band akan mengalun dari speaker aktif yang sesekali terdengar memekakkan telinga. Tapi percayalah, suara speaker itu akan terkalahkan suara tawa yang akan terdengar selama perjalanan oleh penumpang odong-odong.

Jangan lupa juga singgah di Cafe Eda. Salah satu tempat kumpul warga sekitar di kala malam. Tempat ini masih tergolong baru. Ketika berbincang dengan sang pemilik, Cafe yang tepat mengarah ke laut ini baru berumur sekitar 4 bulan. Dengan barisan menu sederhana, kita bisa menikmati suasana pantai yang tenang. Konsep ekonomi yang penuh dengan inovasi. Saya dan Kak Anchu membayangkan tempat ini akan berevolusi seperti cafe tepi pantai yang ada di Bali atau Gili Trawangan. Membaca buku sambil menunggu sunset di tepi pantai sambil menikmati teh hangat, rasanya seperti surga!

Nah, bagaimana cara ke Pulau Barrang Lompo? Silahkan berangkat dari Dermaga Kayu Bangkoa. Akses ke Pulau Barrang Lompo mempunyai waktu reguler. Dengan kapal Novita Sari, kapal tersebut berangkat pukul 11 siang setiap harinya, dan kembali ke Makassar jam 8 pagi keesokan hari. Maklum, Haji Dahrin adalah penduduk asli Pulau Barrang Lompo.
Untuk fasilitas penginapan, kita bisa menginap di fasilitas penilitian fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin. Tentu saja dengan membayar beberapa rupiah untuk pengganti biaya kamar dan makan. Kalau tidak ingin repot, Haji Dahrin juga menyewakan beberapa kamar di rumahnya seharga 50 ribu rupiah perkepala. Jadi kita bisa berkunjung tanpa perlu merasa khawatir tentang akses akomodasi.

Pulau Barrang Lompo menjadi primadona yang terus bersolek. Tanpa melepaskan aspek-aspek kesederhanaan, pulau ini perlahan ditempa semangat kebaruan. Akan seperti apa rupa pulau ini di masa yang akan datang? Mari kita tunggu bersama.

You may also like

11 Comments

  1. saya koq kuatir sama pulau ini..
    makin lama rasanya makin sumpek dan makin mirip Makassar walaupun memang tetap ada ciri khas yg tertinggal

    btw, lorong janda ndak diceritakan? ๐Ÿ˜€

Leave a Reply