Funbike oh Funbike

Run bike, run!

Sepeda menjadi salah satu alternatif olahraga yang saya geluti sejak 2 tahun silam. Selain berenang, rasanya naik sepeda keliling kota Makassar memiliki sensasi tersendiri. Terkadang ada beberapa tempat yang terlewatkan ketika naik mobil atau motor, bisa terlihat dengan detail. Jadilah rute utama saya adalah cendrawasih – ratulangi – pantai – mall gtc sampai kembali kerumah.

Run bike, run!

Berkat usulan @lelakibugis yang merencanakan naik sepeda ke Ta’Deang, Maros, maka jadilah kami harus menempa stamina bersepeda (tsah). Mengingat rute yang akan kami tempuh nantinya mencapai 40 km. Funbike yang diadakan salah satu bank menjadi target kami selanjutnya. Lumayanlah niat olahraga keliling kota tercapai, ditambah ternyata hasil pembelian tiket funbike ini disumbangkan untuk pembangunan rumah ibadah di Makassar.

Jam 6 pagi saya sudah start dari rumah. Telat 10 menit dari perkiraan, karena di jadwal start dimulai pukul 6 tepat. Setelah mencapai lapangan Karebosi yang menjadi titik start dan finish, ternyata acara belum dimulai. Mc terus berkoar mengucapkan selamat datang, sambil saya terus menelpon dan mengsms partner in crime yang akan ikut funbike ini. Kenapa tidak mulai jam 6? Ternyata menunggu bapak Walikota dan Gubernur yang datang sejam kemudian. Oke fine.

Peserta (not) Funbike

Setelah drama tidak penting mengenai hilangnya partner in crime saya, maka saya memutuskan bersolo karier saja. Toh saya juga gak sendiri-sendiri amat. Ada 800 an lebih orang yang ikut ambil serta dalam funbike kali ini. Seperti yang terus diteriakkan oleh sang MC, “sehatnya dapat, amalnya dapat, semoga hadiahnya dapat juga” amin.

Rute yang akan dilalui adalah jalan Bulusaraung, Mesjid Raya, Gunung Bawakaraeng, Veteran Utara, Ratulangi, Sudirman dan finish di Lapangan Karebosi. Sambil menyetel ipod di track semangat, maka dimulailah petualangan bersepeda dan sumpah serapah saya pada pagi itu.

Sepertinya memang saya menemukan kembali alasan kenapa saya sangat membenci Funbike dan acara sejenisnya. Bukan pada niat menyelenggarakan acaranya, cuma pada pelaksanaan funbike saja, saya selalu kesal pada mereka yang tidak tahu bagaimana bersepeda dengan santun di jalan. Memangnya kalau kamu naik sepeda, lantas bisa mengambil seluruh badan jalan? Melanggar lampu lalu lintas? Bersepeda sambil ngobrol dijalan seolah-olah tidak ada orang lain? Oh, crap.

Iyes, seringnya mengambil seluruh badan jalan
Melanggar lampu lalu lintas

Namanya mungkin funbike, tetapi tidak fun bagi saya. Itu hanya meresahkan dan menjengkelkan warga lain yang juga ingin menggunakan jalan. Saya pernah menjadi warga masyarakat itu, yang harus tertahan karena menunggu peserta funbike yang lewat, atau harus ekstra hati-hati di rute yang mereka jalani. Bete? Tentu saja.

Ternyata serapah saya belum berhenti sampai disitu. Kelar bersepeda, saya tetap menunggu nomor undian yang akan mendapat hadiah. Syukur-syukur bisa bawa pulang jodoh hadiah. Lagi-lagi saya harus meredam kesal. Itu orang tidak melihat apa, banyak tempat sampah yang disediakan dimana-mana? Kulit pisang rebus sampai gelas kemasan susu dibuang begitu saja di sekitar lapangan karebosi. Lantas, apa dengan begitu sampahnya bisa hilang begitu saja? Mirisnya lagi ketika petugas kebersihan sedang mengumpulkan sampah yang berhamburan, orang masih saja membuang sampah seenak jidatnya.

Parade sampah gelas kemasan

Akhirnya saya memutuskan pulang. Ternyata memang masyarakat kita yang tidak pernah sadar untuk menjaga lingkungan sendiri. Selalu mau haknya didahulukan tetapi tidak pernah mengakui kewajiban atau hak orang lain. Salut untuk niat funbikenya, tapi kalau saya hanya menahan serapah seperti ini lagi, mending saya bersolo karier saja bersepeda.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply