Seperti paradoks yang tidak pernah berhenti.

Bagaimanapun juga hidup akan terus berlanjut, dengan atau tanpa saya. Bukankah eksistensi manusia akan terjawab ketika mereka berada di dalam lingkungan sosial. Lantas, ketika semua hal menjadi saling terikat satu sama lain, mampukah lingkungan itu saling mendukung?

Sebuah pertanyaan yang jawabannya saya temukan di tempat yang jauh. Berbekal niat dan kegilaan, saya memutuskan untuk pergi sejenak dari rutinitas. Mencoba menyakinkan diri, bahwa tanpa saya, sebuah dunia tetap akan berjalan. Tanpa saya, beberapa orang akan tetap tertawa dan menjalani hidup. Juga dengan saya, ada sebuah tawa yang tercipta di belahan bumi yang lain.

Sebenarnya sudah lama saya tidak dihinggapi pertanyaan seperti ini. Sebuah kontemplasi yang tidak berujung pangkal. Tapi bukankah itu nikmatnya hidup? Ketika kau bisa terus bertanya tentang semua hal, termasuk sampai dimanakah kau memahami dirimu sendiri.

Ditemani belasan tawa dan obrolan yang mengalir bersama 3 orang sahabat, akhirnya saya bisa memverbalkan apa yang terjadi kepada saya. Diantara kepulan asap rokok, roti bakar, dan suara ombak yang memecah di pantai, pembicaraan kami menjadi semakin mengerucut. Mencoba menyimpulkan bentuk hidup apa yang sedang terjalani sekarang.

β€œkamu terlalu paradoks dalam menjalani hidup. Melakukan sesuatu yang ekstrim sebagai sebuah kebiasaan dan melakukan hal ekstrim lainnya di kutub yang berlawanan. Masalah terbesarnya adalah kau menikmati berada di posisi tersebut. Sedangkan orang lain bisa jadi gila ketika berada di posisimu”

Itu adalah jawaban yang dikemukakan padaku oleh perempuan itu. Dia mengerti bagaimana jalan pikiranku. Entah berapa banyak ceritaku yang telah dia dengarkan. Dia bersama seorang perempuan dan seorang lelaki lainnya. Kami telah berbagi dunia. Tidak pernah kami menilai apa yang telah dilakukan. Cukup itu menjadi privasi dan pilihan kami.

Bagi yang belum mengerti konsep paradoks sebenarnya, ini adalah kutipan yang saya temukan ketika bertanya pada nona Wikipedia,

Sebuah ‘paradoks adalah sebuah pernyataan yang betul atau sekelompok pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi. Biasanya, baik pernyataan dalam pertanyaan tidak termasuk kontradiksi, hasil yang membingungkan bukan sebuah kontradiksi, atau “premis”nya tidak sepenuhnya betul (atau, tidak dapat semuanya betul).

Masih bingung? Singkatnya saya melakukan banyak tindakan ekstrim dalam hidup. Seperti menjadi PNS. Bagi mereka yang telah bersama saya selama 5 tahun terakhir pasti akan mengernyitkan dahi tanda tidak percaya. Saya, yang memiliki jiwa yang bebas, memilih untuk masuk dan terikat pada negara. Di lain pihak, saya masih menjunjung semangat kebebasan. Masih menjadi kontributor musik, bergaul sana sini, yang semestinya sudah menjadi masa lalu.

Saya bisa menjadi bagian dari satu komunitas besar. Tertawa, serta menceritakan keseharian saya kepada semua orang. Semua orang merasa nyaman. Tapi ada kalanya saya bisa menjadi sebuah batu sendiri. Tidak akan bercerita ataupun hanya ingin sendiri.

Ada banyak pilihan yang saya telah saya buat. Semua hal saling bertentangan satu sama lain. Tapi saya merasa nyaman hidup di dalamnya. Sama seperti ketika kau tertawa dan mabuk disuatu malam dan kemudian bangun di subuh hari untuk melaksanakan sholat. Saya bisa melakukan itu semua, terlepas apakah hal itu terasa wajar atau tidak. Siapa yang menentukan batas kewajaran tersebut?

Disinilah saya. Memasuki fase berikutnya dalam hidup. Sepertinya memang April membawa banyak kejutan kali ini. Semoga semuanya akan baik-baik saja.

You may also like

5 Comments

  1. kita memang hidup dalam paradoks dan semua sisi mengisi melengkapi. intinya: kenapa harus membuat passion terhadap musik dan pergaulan menjadi masa lalu? tidak perlu kan πŸ˜€

    1. Bukan menjadi masa lalu opa. Ketika masuk di lingkungan yang sangat konservatif seperti sekarang, saya seperti menjadi orang aneh di mata mereka. PNS itu harusnya pulang kantor langsung kerumah. Masak atau tinggal dirumah saja. Nontonnya dahsyat dan teman-temannya, bukan mendengar Rihanna atau Amy Winehouse. Seperti itulah πŸ˜€

Leave a Reply