Dalam kenangan, Pace Baruga

Dia hidup dalam kesederhanaannya. Tanpa pernah kenal lelah terus bekerja. Sambil sesekali meladeni obrolan atau celetukan kami di Pasar. Tak kan pernah kau lihat rona penolakan dimatanya ketika meminta untuk dibuatkan segelas kopi ataupun teh sebagai teman untuk bercerita. Kini beliau telah pergi, ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Pace baruga, begitu kami memanggilnya. Karena sejak dari dulu, beliau bersama sang istri mengelola satu gerobak jualan dan bertempat di Baruga A.P. Pettarani. Tempat yang dulu sangat angker kami datangi karena tempat hunian para senior, yang akhirnya menjadi hunian kami juga. Sampai akhirnya relokasi yang dilakukan sehingga Mace dan Pace melakukan semua aktifitasnya di Pasar Sospol.

Hampir sebagian besar aktifitas saya dan teman-teman habis di pasar. Apalagi ketika masa-masa kuliah akhir, biasanya kuliah hanya 2 jam. Tapi nongkrongnya bisa seharian. Teman datang berganti, cerita silih berputar. Disinilah peran Mace dan Pace sangat besar. Gorengan, ataupun cemilan lain yang bisa mengganjal perut.

Bahkan terkadang, beliau berdua sudah menjadi pengganti orang tua. Untuk mereka yang jauh dari Makassar, dan interaksinya justru lebih banyak bersama Mace Baruga. Ada banyak rahasia yang dipegangnya, tanpa dia pernah membuka mulut untuk bercerita. Itulah sebagian kecil mengapa kami, warga Sospol sangan menghormati dan mencintai beliau.

Ada banyak cerita yang beredar mengenai sebab meninggalnya Pace Baruga. Tapi dari cerita yang saya dengar, beliau terjatuh di depan gerobaknya di pagi hari. Beliau tidak sempat tertolong karena tidak ada yang melihatnya. Kampus pun libur pada hari ini. Mace Baruga yang merasa cemas akhirnya menelpon dan menemukan Pace sudah tidak ada.

Hari ini kesedihan menyelimuti keluarga besar Sospol. Kami kehilangan seseorang yang sangat berjasa menyambung kehidupan kami dikampus. Kami yang seringkali menjadi koboi kampus, selalu merasa aman ketika warung Pace masih satu-satunya yang buka sampai malam. Bahkan ketika kepepet, ngebon pun kami lakukan. Beliau yang tidak pernah lelah mengurusi kami, seperti mengurusi anaknya sendiri.

Selamat jalan Pace, semoga beliau mendapat tempat yang layak di sisiNya.

” Dalam tubuh kita mungkin masih tersisa penganan yang Beliau persiapkan. Sedikit banyak itu telah membantu teman-teman untuk menjadi seperti saat ini . . ” (Junaedi Uko, Kosmik 2002)

You may also like

3 Comments

Leave a Reply