#Day 3 : Mimpi-mimpi.

Hai halo. Rencana postingan setiap hari harus berjeda beberapa hari karena domain dan hosting radioholicz ternyata belum diperpanjang. Terima kasih banyak untuk kak Nanie sudah mau direpotkan untuk merawat radioholicz dari jauh :’)

Suatu ketika berpose depan Museum ABBA
Suatu ketika berpose depan Museum ABBA

Jadi hari ini mestinya mengikut postingan hari ketiga atau kedelapan? Karena postingan suka-suka enaknya ngikut ke tema hari kedelapan aja. Jadi, momen apa yang paling berkesan selama 20 sekian tahun berada di dunia?

Tanggal 28 April adalah salah satu saat bersejarah dalam hidup. Ketika email dari Joakim sebagai International Coordinator mengirimkan email yang menandakan saya terdaftar sebagai salah satu mahasiswa baru di Stockholm University jurusan Media and Communication. Yay! Rasanya seperti menunggu jodoh yang akhirnya datang juga. Khusus untuk hal ini, ya jodoh sekolah. Dari sekian banyak aplikasi yang saya kirimkan ternyata Stockholm yang memberikan jawaban terlebih dahulu. Kalau persoalan jodoh yang lain, yaah, itu masih rahasia Tuhan :’)

Continue Reading

#Day 2 – Surat untuk masa depan.

Entah sejak kapan ketika membuat rencana bepergian, hal yang selalu diutamakan adalah kuliner atau penganan lokal. Dahulu setiap mendapat dinas ke Jakarta, maka bisa dipastikan Es Krim Ragusa adalah salah satu tempat yang harus dijabani. Begitu pula ketika bertandang ke kota lainnya, rasanya selalu istimewa ketika mencoba berbagai makanan berbeda. Apa yang bisa dinikmati ketika berpetualang ke gang aut di Bogor?

Kebiasaan itu kemudian terus berlanjut kala saya melanjutkan petualanganku di benua Eropa. Dari beberapa negara yang saya kunjungi, salah satu hal yang tidak boleh terlupa adalah pasar tradisional dan makanan lokal. Alasan saya karena di dua hal itulah kita bisa menikmati esensi lokal sebuah tempat. Ketika berinteraksi dengan para penjual, atau sekadar melihat keseharian orang-orang. Sampai sejauh ini yang menjadi favoritku adalah suasana pasar di Riga juga nikmatnya goulash di Budapest.

Berbagai penganan lokal di Salu Hall, Stockholm
Berbagai penganan lokal di Salu Hall, Stockholm

Sampai kemudian saya tiba di satu titik dan bertanya pada diri sendiri,

”Mengapa saya tidak pernah mengapresiasi makanan lokal sendiri? Mengapa saya tidak pernah memuja atau mencari cucuru bayao ataupun barongko seperti orang lain?”

Continue Reading

#Day 1 : My current relationship.

Single.

Singkat, padat, dan jelas.

Pilihan ini diambil tanpa tekanan apapun dan siapapun karena mengingat status saya yang berada jauh seperdua lingkar bumi dari Indonesia. Dulunya saya adalah orang yang percaya bahwa cinta bisa mengalahkan rentangan jarak dan bilangan waktu yang berbeda. 2 kali menyandang status #pejuangLDR menyadarkan bahwa esensi percakapan dan emosi yang disalurkan melalui ruang nyata selalu lebih sehat ketimbang salah paham yang terus terjadi melalui pesan teks.

12

Medio tahun 2014 saya bertemu dengan seseorang yang membuat kehidupan stagnan belajar bahasa inggris menjadi lebih menyenangkan. Selalu ada alasan untuk pergi mengunjungi lembaga bahasa tersebut selain tenggelam dalam tes ielts atau persiapan kuliah. Seluruh teman kelas sempat menyorakiku untuk mengajaknya berkencan dan melihat peluang kedepannya. Saya sendiri menolak dengan tegas karena mengetahui dalam bilangan bulan toh saya sudah berada di Swedia. Bukannya tidak mau berjuang untuk cinta (tsah), tapi kala itu saya tidak mempunyai bayangan akan seperti apa ritme hidup di Stockholm.

Menjalani keseharian sebagai pejuang tunggal di Stockholm yah berarti membuka kesempatan untuk berkenalan dengan orang baru, atau terjebak dalam kesunyian di tempat yang asing. Beberapa bulan pertama saya habiskan dengan pub mingle sampai ikut berpartisipasi sebagai relawan film. Toh pikirku semakin banyak networking maka semakin banyak pula juga kesempatan untuk bertemu dengan ”jodoh masa depan”.

Continue Reading