Search results

16 results found.

Minggu pagi dan nasi kuning di Makassar.

Minggu pagi selalu menjadi waktu yang istimewa di rumah ibu. Kalau saya dan saudara lain sedang tidak mempunyai kegiatan (kantor atau travelling), maka riuh kami akan memenuhi meja makan. Tapi hari ini karena semua saudara sedang melakukan rapat tahunan di hotel, jadilah hanya menyisakan saya, ibu dan bapak yang ada dirumah. Setelah membelikan bubur ayam untuk bapak, saya dan ibu memutuskan untuk makan nasi kuning dan belanja beberapa bumbu dapur.

Kami memutuskan untuk makan nasi kuning di Warung Kopi Tong San yang letaknya dekat dermaga Kayu Bangkoa di Jalan Penghibur. Sayangnya perjalanan kami harus terhenti di Jalan Arief Rate karena barisan gerak jalan santai yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Makassar. Kami pun berbalik menuju Jalan Sudirman, ternyata keadaannya juga sama. Mungkin rute gerak jalan dimulai dari Lapangan Karebosi dan melintasi Pantai Losari. Lagian, kenapa gerak jalannya telat banget yah? Padahal sudah hampir pukul 8 pagi loh. Karena tidak mau terjebak macet, saya memutuskan untuk mencari alternatif lain untuk sarapan.

Penampakan tenda nasi kuning

Dengan modal kabar burung ”katanya enak” dan melihat antrian orang ketika sedang bersepeda melewati jalan Bau Mangga, akhirnya saya dan ibu mengunjungi sebuah warung nasi kuning di Jalan Bau Mangga yang sedang hits menjadi perbincangan. Seberapa enak sih rasanya?

Continue Reading

Menikmati suasana cozy ala AIMS’ Cafe.

Memasuki hari keempat lebaran, biasanya ajakan untuk halal bi halal sudah ramai berdatangan. Untuk mereka yang tidak mau repot, memilih tempat yang lokasinya terjangkau dan harga yang bersahabat tentu saja menjadi pertimbangan utama. Dari sekian banyak kafe dan gerai kopi yang hadir di Makassar, AIMS’ Cafe hadir dengan suasana berbeda.

Kesan pertama ketika memasuki kafe yang terletak di bilangan jalan Ratulangi no. 82 D adalah suasana chick yang tenang. Dengan deretan sofa yang tampak sangat nyaman serta meja barista yang nampak mencolok dari depan, menjadikan saya yakin dengan tempat ini.

”Kopinya pasti enak!”, dalam hati saya berujar. Maklum saja, hampir sebulan asupan kopi saya lumayan tidak teratur. Maka jadilah hari itu saya mengincar varian kopi yang ditawarkan oleh barista.

Setelah bertemu dengan Alfu, satu persatu teman Blogger Makassar, AngingMammiri berdatangan. Sambil bercerita tentang bagaimana kemacetan Makassar menjelang buka puasa, kami serentak meyakini bahwa akses AIMS’ Cafe yang terletak di jalan besar memudahkan semua orang. Belum lagi kalau memikirkan masuk mall dan berurusan dengan parkiran, pasti tidak ada yang mau seribet itu.

Continue Reading

Menikmati SAGELA; Sambal Ikan Roa khas Gorontalo.

Dalam perjalanan ke Gorontalo, saya akhirnya resmi berkenalan dengan banyak makanan khas daerah tersebut. Satu hal yang mendasar adalah perut anda harus siap dihajar dengan rasa pedas. Selain bumbu khas rica-rica, kini kita juga dapat menyicipi sambal roa khas Gorontalo dari Zanaya Cake.

Seperti yang diketahui bersama bahwa khazanah kuliner Indonesia sangatlah melimpah ruah. Berbagai jenis makanan bisa dijumpai dari berbagai daerah. Bahkan sambal yang sejatinya menjadi pelengkap makan, mempunyai banyak varian sambal yang berbeda. Katakanlah sambal lombok hijau, sambal bajak, sambal terasi dan masih banyak lainnya.

Dari timur Indonesia, sambal roa sudah terkenal dengan aroma dan rasanya yang khas. Perpaduan ikan roa menyatu dalam campuran cabai, garam, gula, bawang dan minyak. Ketika bersekolah di Stockholm tahun lalu, Rara sempat membawakan sambal roa sebagai pengobat kangen akan Indonesia. Makanya sambal khas ini memiliki banyak kenangan tersendiri.

Terima kasih untuk Vivi yang telah mengenalkan saya pada sambal roa khas Gorontalo. Untuk menuntaskan rasa penasaran, maka hidangan untuk hidangan buka puasa kemarin saya khusus menggoreng tahu untuk dijadikan teman makan. Rasa tahu yang lembut lantas bersatu dengan aroma ikan roa. Ditambah lagi pedasnya yang cukup bersahabat di lidah membuat sambal ini aman dikonsumsi setelah berbuka puasa.

Continue Reading

Mari berwisata ke Gorontalo.

Bulan lalu saya berkesempatan mengunjungi salah satu provinsi termuda di republik ini. Menghabiskan waktu di Gorontalo berarti bersiap dengan hawa panas yang setia menemani, makanan pedas, serta sapaan khas masyarakat Gorontalo.

Kedatangan saya kali ini sebagai tim pendukung peserta pelatihan kepemimpinan yang sedang melakukan visitasi ke pemerintah lokal. Berhubung menjadi tim pendukung artinya harus mengurus segala tetek bengek kebutuhan peserta, syukurlah saya masih bisa menikmati beberapa ikon wisata Gorontalo.

Satu persamaan yang membuat Gorontalo terasa seperti Makassar adalah panas yang menyengat. Walaupun hujan sempat turun di sore hari, gerah tetap terasa. Jadinya harus sering-sering mandi untuk mengatasi keringat berlebih. Rombongan kami menginap di Kabupaten Limboto, sekitar 30 menit dari Kota Gorontalo. Disini bisa melihat apa?

Yah namanya travelling tebengan, akses saya bergerak kurang leluasa. Kami hanya sempat mengunjungi Mesjid Agung Limboto dengan menaranya yang sangat megah. Salah satu ciri khas mesjid yang terletak di pusat kota ini adalah ruangan mesjid yang dirancang terbuka. Angin semilir selalu terasa ketika kami melaksanakan shalat jumat disana. Plus, karena terletak di tengah kota, di belakang masjid banyak terdapat tempat makan lokal yang rasa pedasnya juara.

Berbicara tentang kuliner memang Gorontalo tidak bisa dipisahkan dengan kata pedas. Selama beberapa hari disana, lambung kami dihantam oleh makanan pedas pagi, siang dan malam. Salah seorang supir lokal yang kami gunakan jasanya untuk mengantar kami menjelaskan bahwa itulah ciri Gorontalo. Cuaca yang panas ditambah rasa yang pedas. Bahkan selorohan peserta diklat ada yang mengatakan bahwa hanya nasi putih dan buah saja yang tidak terasa pedas. Nah loh.

Apakah ini pengaruh dari masakan Menado yang terkenal dengan rica-ricanya? Bisa jadi demikian. Tapi rasa pedas itu diganjar dengan masakan yang terasa lezat. Kalau kebetulan berkunjung ke Gorontalo, jangan lewatkan kesempatan untuk singgah di restauran (lupa namanya ) yang terletak setelah pintu keluar bandara. Menu khas yang wajib dijajal yaitu ikan masak woku dan ikan rica-rica tentu saja. Kalau kebetulan berkunjung sampai ke Kab. Limboto, maka rekomendasi tempat makan yang oke jatuh pada RM. Fajar Limboto dan RM. Saung Telaga yang menawarkan konsep makanan lokal.

Continue Reading