Surat kepada diri saya 10 tahun kemudian.

Dear @iqko_

Hai hallo, apa kabarmu sekarang?

Entah mengapa tiba-tiba saja tercetus untuk menulis surat ini. Surat yang bisa kamu baca nanti, ketika teringat di posisi yang sekarang. Mencoba menebak jalannya hidup, sambil terus mengucap syukur yang tiada henti. Apakah keadaanmu sudah banyak berubah?

Image source http://google.com

Masih setiakah kamu mendengarkan seluruh musik mancanegara itu? Masih setia menulis resensi untuk portal musik? Karena jujur inilah dunia yang paling khatam yang saya kuasai. Entah berapa lama lagi saya bisa bertahan. Dulu saya pernah memutuskan untuk tidak perduli lagi pada perkembangan musik. Tapi ternyata keadaan yang membutuhkan saya masih membutuhkan barisan lagu untuk mengisi hari. Apakah kamu masih menyimpan box yang berisikan ratusan lagu itu?

10 tahun lagi, berarti tapakan usia 36 tahun. Sebuah angka yang bukan main-main. Fase berdewasa dalam hidup. Sudahkah kamu menikah? Menimang anakmu sambil bermain dengannya? Mengelap peluh istrimu kala memasakkan makanan favoritmu? Apakah minggu pagi masih menjadi waktu favoritmu? Ataukah justru sendiri tetap menjadi pilihanmu? Untuk pilihan ini saya mengetahuinya dengan pasti. Saya yang masih belum bisa menerima suatu bentuk hubungan macam apapun. Sampai sekarang, selalu merasa insecure. Selalu merasa nyaman dengan diri sendiri. Apa kabar dengan semua komunitas sosialmu?

Ya, sekarang saya masih merasa nyaman. Bertemu dengan banyak orang dengan minat yang seragam. Memiliki banyak tempat untuk bercerita dan berkeluh kesah. Bagaimana kabarnya mereka? Apakah kamu masih menjalin hubungan dengan Nanie, Khie, Tata, bahkan dengan Alfie? Sosok yang telah menjadi saudara angkatmu? Karena inilah kelemahanku, lintas beberapa waktu beberapa lapis teman kemudian hilang hanya karena saya sulit menjaga mereka. Bahkan bertanya kabar pun jarang. Mudah-mudahan kamu masih bersama mereka.

Apa kabarnya dengan pekerjaanmu? Masih berstatus sebagai abdi negara? Ataukah justru mimpi untuk keluar negeri dan hidup sendiri sudah menjadi hidupmu? Saya masih berusaha menjalani mimpi itu sekarang. Bekerja dan belajar lebih giat, untuk kemudian melepaskann diri dari balutan kekang yang ada. Kenapa? Apakah pilihan ini terdengar egois? Mudah-mudahan pekerjaan yang kamu jalani sekarang merupakan hasil pilihan dari hati.

Ibu sekarang dalam masa-masa sehat. Walaupun beberapa kali beliau terlihat kecapekan. Begitu pula dengan Bapak, Anas, Kusma dan Fithra. Beberapa minggu ini kami jarang berkumpul. Biasalah, awal tahun kegiatan kantor beberapa sudah memasuki deadline. Bagaimana kabar mereka? Sudah berapa keponakan yang kamu miliki? Mudah-mudahan semuanya dalam keadaan baik-baik saja.

Image Source http://fineartamerica.com

Bagaimana hatimu, iQko? Masihkah terasa kekosongan yang sama? Sudahkah dia menemukan pasangannya? Sudahkah kamu memaafkan dirimu sendiri? Karena dari semua hal yang terjadi, inilah yang paling sulit dilakukan. Mencoba memetakan hati sendiri. Sudah berapa kali terjebak pada pilihan yang salah. Saya tahu sepi ini terkadang menjemukan, tapi belum ada alasan untuk membaginya. Bahkan sekedar mencari bahu untuk bersandar.

Kamu ingatkan 20 tahun yang lalu, ketika kita memulai untuk menyelamatkan hidup kita sendiri? Jangan pernah tergantung dengan orang lain. Itu menjadi mantra utama kita. Masihkah kamu menjadi orang egois? Tidak mau membagi keluh kesahmu hanya karena alasan tidak ingin membebani orang lain dengan masalahmu? Karena sekarang, saya mulai sangat terbiasa dengan itu. Mudah-mudahan sudah ada seseorang yang menemanimu untuk mengurai semua emosimu.

10 tahun bukan waktu yang sedikit. Seperti kata Keane, everybody’s changing and i don’t feel the same. Mudah-mudahan kamu baik-baik saja.

You may also like

9 Comments

  1. ide menulis surat ini sepertinya banyak terjadi di film2 romantis, ketika sepasang kekasih menulis surat bersama kemudian menanamnya di dekat pohon oak untuk dilihat ketika mereka dewasa nanti

Leave a Reply