Sekolah Pesisir, Sekolah kehidupan.

Untuk @sekolahpesisir

Hujan menderu, seolah saling berlomba jatuh ke bumi. Suara kecipak air sangat jelas ditelinga. Seakan-akan mereka saling teriak dan jumpalitan di atas atap seng. Sesekali angin menderu, terkadang menyelip di sela-sela papan. Membawa dingin turut serta. Tidak jauh, debur ombak saling berlomba memecah dipantai. Bahaya tsunami langsung membayangi. Apakah saya akan selamat melewati malam ini dan bertemu pagi?

Itulah malam pertama saya menginap di Sokola. Saya lebih senang menyebutnya Sekolah Pesisir. Maklum saja, letaknya yang berada di pesisir pantai Losari dan berada di tengah perkampungan di Mariso. Membuatnya terdengar kumuh? Memang begitulah keadaan yang bisa dilihat setiap hari. Pagi, siang, maupun sore hari. Ketika saya duduk di beranda Sokola.

Anak-anak Sokola

Saya sendiri tidak sengaja terjebak di tempat ini. Sebuah tempat yang penuh keajaiban. Hari pertama menginjak Sokola, saya selalu berpikir, mampukah saya membawa diri dan melebur di tempat ini? Maklum saja, skripsi yang saya kemukakan harus bersifat partisipatif. Harus melihat lebih dalam dan lebih jauh. Maka resmilah petualangan saya menjadi bagian dari Sekolah Pesisir.

Mengenal lebih jauh anak-anak yang ada di Sekolah Pesisir seringkali membuat saya mendapat tamparan. Terkadang kurang bersyukur terhadap keadaan diri sendiri, padahal masih banyak orang lain yang di bawah saya. Apakah anak-anak di Sokola pernah menyerah? Tidak.

Saya mengenal Jabrik, salah satu remaja disana. Selama masa sekolah, dia rela sepulang sekolah bolak-balik naik sepeda dan bekerja sebagai cleaning service di mall GTC. Malamnya pun dia masih menjual rokok di anjungan pantai Losari. Untuk apa? Membayar biaya ujian akhirnya di SMA.

Lain lagi anak-anak SD dan SMP. Terkadang mereka harus membantu orang tua dengan ikut berjualan atau ikut melaut. Pekerjaan yang berat dilakukan oleh anak seusia mereka. Disinilah peran Sekolah Pesisir. Memberi mereka ketrampilan lain selain hal-hal yang diajarkan di sekolah. Syukur-syukur ketika lulus SMA mereka bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik dengan skill-skill lebih seperti menulis atau mengedit di komputer. Kuliah? Mungkin menjadi opsi terakhir mereka untuk pendidikan.

Siapa yang mengajar anak-anak itu semua? Saya bisa dikatakan hanya numpang lewat saja. Walaupun selama beberapa bulan disana merupakan salah satu masa terindah di hidup saya. Ada para relawan hebat yang mengabdikan hidupnya untuk memberi perbedaan di lingkungan Mariso. Beberapa orang pernah menjadi relawan disana dan tetap menjadi bagian Sokola. Tapi sekarang hanya ada Habibie, Efie, Kak Imran dan Kak Uni saja yang menjadi relawan.

Habibie, salah satu relawan Sokola

Mereka harus bertanggung jawab pada kegiatan PAUD (pendidikan anak usia dini) yang selalu menjadi harapan para orang tua di sekitar lingkungan Sokola. Belum lagi puluhan anak SD dan remaja yang beraktifitas disana. Mulai dari belajar sholat, menulis, drama, sampai belajar komputer. Bayangkan kalau tempat itu tidak ada. Maka anak-anak itu akan mencari tempat nongkrong yang lain. Yang bisa saja membawa pengaruh buruk kepada mereka.

Kini Sokola sedang berbenah untuk mencapai kemapanan secara finansial. Selama ini biaya operasional Sokola disokong oleh kantor pusat di Jakarta. Tapi sekarang ada masalah nyata di depan mata. Tempat yang selama ini digunakan, akan diambil kembali oleh sang empu tanah. Sokola harus pindah! Itu ultimatumnya. Paling lambat bulan Mei tahun ini. Sudah saatnya Sekolah Pesisir mengurus diri sendiri dan menjalankan sekolah kehidupan ini.

Sedikit miris memikirkan hal yang terjadi. Tapi itulah kenyataannya. Saat ini dibutuhkan minimal dana 50 juta rupiah untuk mencari lokasi baru dan membangun kembali Sekolah Pesisir. Saat ini semua komunitas di Makassar sedang bergerak untuk membantu Sokola. Karena bagaimana pun juga mereka menampung banyak kreatifitas anak-anak di Pesisir Mariso.

Ada banyak cara untuk membantu. Silahkan berdonasi atau mengumpulkan pakaian layak pakai. Kami akan membuat garage sale dan semua hasilnya akan disumbangkan untuk Sokola. Sumbangan bisa dibawa langsung ke

– Sokola Pesisir Mariso di Jl. Nuri lr. 300, no 131, Makassar (a.n Efi Sulfiani di 081355505895, Habibi di 081242249056 dan Imran di 082190358797)

– Kampung Buku, Komp. CV Dewi, Jl. Abd. Dg. Sirua 192E, Makassar (a.n Anwar Jimpe Rahman, 081342398338)

Mari eratkan tangan, untuk membantu salah satu tempat penting di pesisir Mariso. Karena semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru, anak-anak itupun berhak mendapat kesempatan untuk bermain dan bersekolah. Sama dengan anak-anak lain.

Save Our Sokola!

You may also like

1 Comment

Leave a Reply