Minggu pagi dan nasi kuning di Makassar.

Minggu pagi selalu menjadi waktu yang istimewa di rumah ibu. Kalau saya dan saudara lain sedang tidak mempunyai kegiatan (kantor atau travelling), maka riuh kami akan memenuhi meja makan. Tapi hari ini karena semua saudara sedang melakukan rapat tahunan di hotel, jadilah hanya menyisakan saya, ibu dan bapak yang ada dirumah. Setelah membelikan bubur ayam untuk bapak, saya dan ibu memutuskan untuk makan nasi kuning dan belanja beberapa bumbu dapur.

Kami memutuskan untuk makan nasi kuning di Warung Kopi Tong San yang letaknya dekat dermaga Kayu Bangkoa di Jalan Penghibur. Sayangnya perjalanan kami harus terhenti di Jalan Arief Rate karena barisan gerak jalan santai yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Makassar. Kami pun berbalik menuju Jalan Sudirman, ternyata keadaannya juga sama. Mungkin rute gerak jalan dimulai dari Lapangan Karebosi dan melintasi Pantai Losari. Lagian, kenapa gerak jalannya telat banget yah? Padahal sudah hampir pukul 8 pagi loh. Karena tidak mau terjebak macet, saya memutuskan untuk mencari alternatif lain untuk sarapan.

Penampakan tenda nasi kuning

Dengan modal kabar burung ”katanya enak” dan melihat antrian orang ketika sedang bersepeda melewati jalan Bau Mangga, akhirnya saya dan ibu mengunjungi sebuah warung nasi kuning di Jalan Bau Mangga yang sedang hits menjadi perbincangan. Seberapa enak sih rasanya?

Setibanya disana beberapa orang sudah tampak mengantri. Tampak juga beberapa supir ojek online sedang menunggu pesanan. Beberapa orang lainnya mengisi kursi yang masih kosong. Ternyata sang pemilik masih menurunkan dan mengatur lauk pauk jualannya. Hmm, sesiang ini? Okay. Saya pun ikut mengantri (yang ternyata itu hanya berlaku untuk yang membungkus saja) dan memesan nasi kuning dengan lauk dangkot bebek plus paru serta satu porsi dengan rendang dan paru untuk ibu. Selain menunggu pesanan datang dengan melihat-lihat isi pinterest, saya mendengarkan percapakan orang-orang yang juga ikut makan.

”Kata teman saya rasanya enak banget.”

”Saya juga baru pertama kali makan disini.”

Ternyata faktor promosi mulut lewat mulut dan testimoni masih berpengaruh di Makassar. Termasuk saya juga sih yang menjadi korban penasaran.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya pesanan kami datang. Sepiring nasi kuning beralaskan daun pisang yang dipadu dengan dangkot, telur, paru goreng, mie goreng, acar dan sayur labu siam. Tidak lupa ada kerupuk sebagai pelengkap. Saya pun saling berpandangan dengan ibu. Mari mencobanya selagi hangat!

Sepiring nasi kuning dengan dangkot bebek dan paru goreng

Seperti laiknya pakar kuliner yang handal, setelah suapan ketiga kami mendiskusikan rasa dan tekstur makanan. Dasar tukang masak dan tukang makan! Hahaha. Kami penasaran apakah memang rasanya seheboh yang dibicarakan orang. Ternyata, rasanya begitu saja. Standar. Tidak ada yang istimewa. Bisa jadi selera orang akan subjektif ketika berbicara rasa. Mungkin ada yang menyukainya, bisa jadi yang lainnya malah mengatakan tidak enak. Kenapa menurut kami biasa saja?

Semua lauk yang disajikan mempunyai bumbu yang berbeda. Dimulai dari nasi kuning yang santannya sangat terasa, dangkot bebek yang pedas, paru goreng dan mie goreng yang manis, sayur labu siam yang gurih sampai telur bumbu balado. Paduan rasanya malah terkadang tidak nyambung. Seperti laiknya percakapan yang baik, semua lauk harusnya menjadi penyeimbang atau pemersatu sama lain. Ini malah semuanya ingin tampil menonjol, jadi terasa eneg. Suapan pertama dan kedua masih oke. Setelah suapan ketiga, kami berusaha menikmati dengan usaha berlebih.

Belum lagi rasa yang tertinggal (aftertaste) di mulut setelah makan, rasanya lengket dan penuh lemak. Seperti makan bakso dengan kuah yang berlemak. Bahkan saya dan ibu saling tertawa ketika saya mengatakan ingin segera minum air kelapa setelah makan. Hanya untuk menghilangkan rasa eneg yang sangat terasa.

Mungkin ini pengaruh kami berdua bisa memasak (walaupun pengetahuan saya masih jauh dari ibu), kami jadi terlalu subjektif dalam menilai rasa. Menurut kami begitulah masakan harus dihargai. Bagaimana mengapresiasi penggunaan bumbu yang tepat dan ukuran yang pas. Persoalan pas inilah yang terkadang menjadi perbedaan di setiap tangan. Bagi kami rasa nasi kuningnya enak, tapi tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan.

Daftar menu dan harga

Poin plus warung nasi kuning ini adalah pilihan lauk yang beragam dan relatif murah dibanding warung nasi kuning premium lainnya. Untuk 2 lauk bisa ditebus seharga 25 ribu rupiah. Pilihannya pun dari dangkot ayam, dangkot bebek, rendang, maupun ayam kecap. Kalau memang minggu pagimu dimulai pukul 8 pagi, warung ini bisa menjadi andalan. Tapi bagi saya dan ibu yang memulai minggu pagi pukul 5 subuh, kami jelas mencari tempat lain untuk makan.

Setelah makan (ibu bahkan tidak menghabiskan porsi makanannya), kami beranjak karena sudah banyak orang lain yang ingin duduk. Lebih lama menunggu makanan daripada makannya. Hahaha. Kami pun mendengar komentar tukang parkir disana,

”Orang mau makan nasi kuning saja antrinya harus lama sekali yah.”

Kami hanya tersenyum karena kami termasuk orang yang datang karena faktor penasaran. Lantas, dimana mencari nasi kuning terenak di Makassar? Kita bertemu di postingan selanjutnya yah.

regards,
tuan beruang.

You may also like

Leave a Reply