Mie Ayam Palekko; apakah berhasil memikat selera?

Sebulan terakhir percakapan media sosial di Makassar diwarnai dengan wacana dan komentar mengenai makanan dan buah tangan khas Makassar. Mari lupakan sejenak riuh rendah itu untuk menyimak satu inovasi dari warung yang berada di bilangan wilayah Antang. Bagaimana rasanya ketika Mie ayam bertemu dengan ayam Palekko?

Mieayampalekko

Palekko sendiri adalah makanan khas Bugis yang terkenal dengan rasa pedasnya. Biasanya berbahan utama Itik/Bebek ataupun ayam yang ditumis dengan campuran cabai yang banyak*. Bebek atau ayam dicincang atau dipotong dalam ukuran kecil sehingga campuran bumbu bisa meresap masuk sampai ke tulang-tulangnya. Sajikan dengan nasi panas, maka siap saja telinga anda sampai berasap saking pedisnya.

Pengalaman saya dengan Bebek Palekko disertai pula dengan sensasi perut yang panas dan mulas yang kemudian mengikutinya. Walaupun demikian, masakan khas daerah Pinrang selalu menjadi primadona setiap kali saya melintasi daerah tersebut.

Rasa penasaran saya tentang Mie Ayam** ini datang dari 2 buah baliho yang terletak di kawasan Antang. Warung Bakso Mas Cingkrank*** menawarkan sebuah pengalaman baru yang bisa saja memikat penikmat kuliner di Makassar. Atau bisa juga penggabungan ini akan mendatangkan reaksi yang lain.

Hari Kamis yang lalu akhirnya saya berkunjung ke warung bakso tersebut. Tidak ada yang istimewa dari interior warung bakso yang terdapat di dalam ruko selain beberapa meja berbaris dan sebuah spanduk besar yang menampilkan beberapa varian menu yang disajikan. Informasi menu tersebut juga dilengkapi dengan adab makan jikalau kita bisa saja lupa.

Mieayampalekko-2

Setelah memilih menu Mie Ayam Palekko, saya menunggu sejenak sambil mendengarkan dendangan nasyid yang melantun dari pemutar audio. Setelah pesanannya datang, akhirnya penasaran tersebut terbayarkan. Rupa cabai yang menempel pada potongan ayam hadir sebagai pengganti ayam kecap yang biasanya tampil pada mie ayam. Tampilan bakso urat juga menggugah selera. Kini saatnya mengeksekusi!

Seperti dugaan saya, rasa pedas mendominasi mie ayam. Walaupun sudah mengaduk rata dengan kuahnya, rasa pedas tersebut tetap terasa. Terpaksalah saya menambahkan kecap untuk mengimbangi rasa, jadinya sensasi yang dihasilkan adalah mie ayam yang kebanyakan cabai. Pasalnya, bumbu Palekko yang melekat pada ayam kemudian melebur dalam kuah mie ayam. Saya sempat mencoba beberapa potong ayamnya dengan burasa’ yang disediakan sebagai pelengkap, malah kombinasi ini justru yang terasa cocok.

Bakso urat yang hadir sebagai pelengkap juga terasa biasa saja. Walaupun kontur baksonya seperti memiliki kadar kekenyalan yang berbeda, tetapi tetap terasa seperti bakso biasa. Belum lagi rasa pedas yang kemudian sampai ke telinga menyusul kemudian, sungguhlah saya tidak bisa menikmati lagi salah satu penganan favorit ini.

Yang patut diacungi jempol adalah keberanian dari pemilik warung bakso ini untuk melakukan inovasi rasa. Selama bulan Desember tahun lalu, baliho bertajuk bakso kambing adalah salah satu terobosan yang dilakukan oleh Mas Cingkrank. Apa memang pasar mie ayam di Makassar sudah jenuh? Tapi saja di kemudian hari Mie Ayam seperti ini menjamur dan menjadi khas Makassar karena penggabungan dua identitas yang berbeda. Dalam konteks usaha, siapa yang bisa memunculkan ide baru adalah mereka yang bisa bertahan. Masih perlu pembuktian waktu yang lama apakah inovasi ini diterima oleh lidah penikmat kuliner Makassar. Apakah anda tertarik dengan gabungan rasa ini?

Catatan kaki :

*Resep ayam palekko bisa disimak di http://resepmasakanpedia.com/resep-nasu-itik-palekko-khas-bugis-yang-sedap/

**Resep mie ayam yamin bisa ditemukan di http://www.justtryandtaste.com/2015/03/mie-ayam-yamin.html

***Alamat warung bakso mas Cingkrank : Jl. Antang Raya No.26, Antang,

You may also like

2 Comments

Leave a Reply