Mencoba hadir

“Kehadiran seseorang itu acap kali memberi semangat yang hendak ditolong. Dengan kehadiran, seseorang bisa bercerita dan acap kali cerita itu mampu membangkitkan api yang hampir padam”

JLEB.

Cuma itu reaksi saya ketika membaca potongan Parodi oleh Samuel Mulia di Harian Kompas, Minggu, 26 Agustus. Kapan terakhir kali kau memberikan sebuah tepukan atau sebuah kabar untuk temanmu?

Image by http://favim.com/image/317102/

Saya sendiri beruntung memiliki teman yang sudah seperti keluarga. Mereka yang bisa saya jadikan tempat pulang, berbagi cerita. Tetapi itu bukan berarti saya bisa melepas semuanya kepada mereka. Mencoba membebankan seluruh unek-unek yang ada di kepala. Setidaknya saya memiliki bahu sejenak untuk menopang.

Salah satu kebiasaan buruk yang masih sering terjadi sampe sekarang, saya susah untuk berbasa-basi dan sekadar ber- say hai sama teman. Apalagi kalau hanya bercerita kenangan masa lalu dengan teman-teman SMP atau semasa SMA. Kapan saya move onnya? #eh, otomatis dari sekian banyak kontak BBM biasanya saya hanya menyapa beberapa orang saja. Atau mengamati keadaan dari status recent updates. Lah kalau semua mau diajak ngobrol, saya kapan kerjanya? Kapan tidurnya?

Sampai suatu saat, teman SMP saya langsung memberi cap sombong dan tidak mau berinteraksi.

Saya tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Saya sendiri lebih memilih kualitas dibandingkan dengan kuantitas. Saya lebih memilih untuk ketemu dan bertatap muka, supaya saya dapat menyelami emosi seorang teman, dibandingkan dengan berbicara melalui perangkat telekomunikasi. Terkadang absurd, tapi saya lebih senang melihat tawa yang langsung keluar dari mulut, atapun saling nyinyir yang biasanya diakhiri dengan tawa yang membludak.

Karena terkadang pelukan dan emosi itulah yang bisa menenangkan.

Maka saya belajar satu makna lain dari kata silaturahmi. Bukan hanya sekadar ber-say hai dan mengobrol ala kadarnya, tapi dalam konteks “hadir” disuatu ruang dan kesempatan. Bukan seperti mengirimkan pesan broadcast Selamat Hari Raya, tapi tidak terasa bermakna.

Bersyukurlah saya memiliki banyak ruang-ruang pertemanan yang bisa saya jadikan tempat untuk pulang, tempat berhenti sejenak dari keriuhan. Entah itu dengan makan ayam krispy abal-abal di pinggir jalan, atau hanya duduk di halaman Kampung Buku sambil menepuk nyamuk yang juga mau ikut serta dalam pembicaraan.

Karena hadir,  terkadang lebih penting dari hanya sekadar ada.

You may also like

Leave a Reply