Makan siang di warteg : perkuat di nasi!

Ketika kau hanya memiliki waktu selama 45 menit untuk istirahat siang, maka apa yang menjadi opsi pilihanmu?

Warteg. Sebuah tempat ajaib dimana semua kasta dilebur, dan semua penampilan bisa ditemukan. Lengkap dengan berbagai jenis lauk yang sesuai dengan isi kantong.

image by jakartapost.com
image by jakartapost.com

Rutinitas yang terjadi kemudian adalah datang, antri, sambil mencoba memikirkan akan makan siang dengan kombinasi lauk apa. Karena kombinasi ini nantinya akan menentukan seberapa tingkat kejenuhan menu makan siang selama seminggu. Sayur pare dan hati ayam? Kering kentang dan telur goreng? Sebuah pemikiran yang terkadang lebih sulit dari bermain Sudoku.

Tidak ada lagi sesi duduk-duduk ganteng sambil mengomentari tingkah laku para pengunjung yang lain. Semuanya hening dalam irama yang sama. Sesekali mungkin obrolan terucap. Tetapi kebanyakan semuanya makan dengan lahap. Entah karena lapar, ataukah karena melihat antrian orang yang kelaparan di luar warteg.

Tentu saja sensasi makan siang massal ini sesuatu yang baru. Bercampur dengan deru kendaraan yang seolah selalu bergegas, persoalan makan siang selalu menimbulkan tanya yang tidak berkesudahan. Pasalnya apa? Yaelah bro, kalau sudah sering terjun di dapur, pasti bisa menilai beberapa makanan tersebut sudah beberapa kali diolah. Awalnya di masak, lalu digoreng, kemudian ditumis lagi dengan bumbu. Aheuuuum. Tapi kadang memang pilihan yang sedikit membuat mentok ke warung yang itu-itu saja.

Beberapa pilihan makan siang yang ada antara lain :

a. Mie ayam, Mie Yamin dan bakso, ataupun kombinasi. Yang dimana entah porsinya yang sedikit atau karena memang mie nya yang kecil, seolah lambung tidak terisikan maksimal. Harga juga sedikit di atas rata-rata.

b. Warung nasi padang. Lauk enak, nasi yang sedikit. Oke sip.

c. Warung burjo. Indomie yang ada kalau bukan rasa ayam bawang, yang ada hanya kari ayam ataupun soto. Dimasak dengan campuran sawi hijau. Cukup oke, tapi cepat lapar lagi.

d. Masih menu warung burjo, kombinasi bubur kacang hijau dan ketan hitam, disajikan dengan beberapa helai roti tawar. Jangan tanya saya bagaimana rasanya.

e. Mpek-mpek Palembang. Oke sip, mari di skip.

f. Ketoprak. Well, hmmm, yaaah, tidak terbiasa dengan makanan ini.

g. Semua café dan tempat makan dalam mall yang terkadang harganya setara dengan makan di warteg selama sepekan. Dalam kasus ini mari berhemat, silahkan di skip.

Perjuangan makan siang di warteg kuncinya satu, perkuat di nasi. Terbiasa dengan warung pondokan di kampus? Seperti itulah suasananya. Cuma bedanya, kali ini rekan berjuang adalah para pekerja urban, yang terkadang harus menimbang ongkos pulang yang kemudian akan dikonversi dengan lauk apa saja.

Makan di warteg pun terkadang kita masih bertemu dengan mereka yang berdandan layaknya seorang fashionista (yang nista) tapi makannya juga semur jengkol. Pekerja yang selalu tampak rapi ketika bekerja, berkemeja, semuanya tampak sama. Ketika semuanya lapar, maka warteg menjadi layaknya sebuah pesta dengan keriuhan yang sama besarnya.

Satu yang saya perhatikan adalah beberapa olahan makanan selalu berbumbu. Entah itu tumis balado, tumis kari, ataukah tumisan dengan cabe besar dan banyak tomat. Belum lagi aneka masakan kering seperti kering tempe, atau kering kentang yang serupa sambal goreng yang sangat kering. Saya merindukan Pallumara yang terasa sederhana, dengan bumbu asam dan kunir tetapi kita masih bisa menikmati rasa ikan tanpa kehadiran bumbu yang tidak perlu.

Survival is for the fittest. Ketika opsi makan siang tidak sebanyak (atau tidak senyaman) biasanya, maka persoalan rasa kemudian menjadi nomor dua. Intinya perkuat di nasi dan kenyang dulu. Karena persoalan makan malam menjadi hal yang lain lagi.

You may also like

3 Comments

Leave a Reply